Post #21 – 2015 Drama Pelanggaran Copyright

Jadi ceritanya begini : awalnya saya follow akun IG seseorang. Isinya sih tentang resep masakan. Secara saya lagi seneng-senengnya belajar masak, butuh resep yang gampang-gampang aja donk ya? So far sih belum pernah nyoba resep dari situ, karena selama ini lebih sering bertanya : Ini resep kok bukan resep asli dari si empunya akun ya? Ini yang punya resep tau nggak ya? Walapun sebenarnya dalam bio nya si pemilik akun ini sudah menjelaskan kalau resep-resep yang diposting adalah hasil googling sana sini dan sudah mencantumkan sumbernya.

Saya cuma mbatin Oooo kalo gitu berarti boleh ya? Secara kalau sudah kesebar di google, dicomot tanpa permisi pun oke. Tapi yang menggelitik adalah suatu saat si IG ini jualan. Menjelang lebaran jualannya makin jadi. Jualan baju lah, makanan kecil lah, pokoknya mayan kenceng deh. Terus saya heran, lha katanya akun resep, kok jadinya jualan juga?

Ternyata emang masih musim begitu. Akun instagram meraih follower sebanyak-banyaknya dengan tujuan berjualan. Meraihnya ini juga dengan berbagai macam cara. Ada yang beli follower, dan ada juga yang berusaha untuk menjadi akun yang menarik perhatian pengguna. Ya salah satunya dengan memberikan informasi menarik. Akun resep ini sih menarik buat saya, makanya saya follow. Cuman kok nggak murni sharing, tapi ujung2nya jualan juga. Enggak lantas jadi sebel sih, tapi pertanyaan itu masih tetap ada. Si empunya resep tau nggak ya kalau resep sama fotonya dicomot tanpa permisi?

Lalu berkenalanlah saya dengan grup Indonesian Food Blogger. Suatu ketika temen2 di grup ini ngebahas soal hak cipta foto, secara banyak anggota IDFB yang pada jago ngambil fotonya. Sumpah deh, bikin dengki tuh foto2. Bagus-bagus! Nah, untuk mengambil foto sedemikian bagus kan nggak gampang prosesnya, itulah kenapa ada yang protes fotonya diambil tanpa permisi (walopun kalo ngobrol di grup pake “wkwkwkwkw” tapi aslinya mangkel). Malah ada juga yang pernah punya pengalaman negur seorang pemilik web resep masakan yang ngambil foto hasil karya sekaligus resepnya tanpa ijin, bahkan nggak ngasih back link sama sekali, dan eh malah dimarah-marahin. Padahal si empunya web konon kabarnya adalah seorang copywriter (menurut cerita dari temen saya ini) yang notabene pasti tahu lah soal pelanggaran hak cipta?

Tapi nggak sedikit yang akhirnya pasrah dan (mau nggak mau) nyerah karena sudah tak bisa lagi melakukan apa-apa. Iya juga sih ya? kalau mau riwil malah menghabiskan tenaga. Lagipula kalau mau ngetracking satu-satu kok ya selo banget gitu lho? AKhirnya ya sudahlah, anggap saja beramal meski hati periiiih…

Nah, berawal dari situlah akhirnya saya iseng2. Beberapa kali ngelihat foto salah satu temen saya nongol di akun IG resep tersebut. Awalnya, ketika saya mention si temen saya ini, beliaunya santai kayak dipantai. Menanggapi dengan sambil lalu dan lenggang kangkung. Dan siang ini, ketika saya nemu foto lainnya dan mention beliau, langsung deh…keluarlah taringnya – begitu sih istilah dia. :D

RAWWWWRRR dan terjadilah drama “penggerebekan” ala-ala. *ngakak* Fotopun dihapus, saya pun diblock sama akun IG tersebut karena mungkin dianggap comel dan pengadu. Sebenarnya sih saya nggak enak juga sama si pemilik akun, tapi ya gimana ya…? Padahal si temen saya ini ngerasa biasa aja habis ngomel-ngomel. *ngakak lagi*

Saya akui saya sendiri bukan 100% manusia suci yang tak pernah melakukan tindakan pelanggaran hak cipta. Sering kali saya melakukan tindakan mengambil gambar untuk diposting di blog sebagai ilustrasi. Kadang saya cantumkan sumbernya, dan kadang juga enggak (karena faktor lupa sih sebenernya).

Jujur saja, saya ini juga sering mendownload berbagai macam lagu dari internet. Kadang kalau materinya sudah lawaaaaaas sekali dan susah nyarinya, internet menjadi sumber yang cukup bisa diandalkan. Tapi tidak selalu, hanya sesekali dan bisa dikatakan sangat jarang sekali. Karena saya juga punya sumber resmi yang legal. Teman-teman saya juga cukup bisa diandalkan untuk dimintai tolong jika saya butuh lagu yang saya sendiri belum punya.

Saya tahu saya melanggar dan bersalah. Saya tidak akan membela diri dengan mengatakan, “hey! semua orang juga melakukannya. I’m not the only one! Temen-temen saya juga!”. No, saya tidak akan melakukannya meskipun saya ingin. Hihihi. Yang salah ya tetep aja salah. Tapi suatu hari temen saya pernah bilang “Nggak papa kalo mengunduh dari internet, yang salah itu adalah kalo kamu sudah mengunduh, lalu diunggah lagi ke internet. Nah itu yang salah. Kalau mau dinikmati sendiri untuk keperluan terbatas ya nggak masalah.”

…saya yakin yang punya lagu pasti mencak-mencak!

Tapi tolong dimaklumin lah ya? Hahahaha.

Soal hak cipta ini memang akan selalu dibahas sampai kapanpun. Meskipun ada undang-undangnya tapi pelanggaran akan terus terjadi. Situs-situs mp3 download yang sudah diberangus toh tak mampu mengurangi kegiatan unggah-unduh ilegal. Karya-karya literatur yang diunggah secara serampangan, film-film yang saya tonton, juga hasil dari kegiatan tersebut. Ya gimana ya? Secara ada kebutuhan, pastinya suplai masih akan terus berjalan.

Meksipun begitu saya kemudian paham sih dengan sikap temen saya yang keluar taringnya ini, secara mengambil gambar makanan itu enggak gampang. Prosesnya nggak se-simsalabim yang kita kira. Ada proses masak, platting, menata prop yang dibeli dengan hunting kesana kemari, belum lagi jungkir balik nyari angle yang pas, ngatur lighting yang oke, sampai urusan edit mengedit via photoshop. Jadi, gambar indah nan menggiurkan yang muncul di lini masa itu ternyata sudah melewati berbagai macam tahap yang rumit.

Makanya si empunya foto bisa kebakaran jilbab (karena dia perempuan tanpa jenggot) ketika tahu gambarnya diambil dengan tujuan yang tidak sepenuhnya sharing.

Dari pengalaman ini saya jadi (sedikit) sadar bahwa urusan hak cipta ini agak rumit, meskipun kalau mau dibuat mudah ya bisa jadi mudah. Maksudnya, tinggal minta ijin ke yang punya karya saja apa repotnya sih ? *dijitak orang se India*

“Males tauuuuuuuuu pake acara ijin-ijin segala, kaya mau kawinan minta ijin”

Ya jaman sekarang udah serba mobile ya? Tinggal mention aja sih (semoga cepet) beres dan dapat ijin. Kalau belum dapet ya tahan dulu aja, jangan disebarluaskan apalagi untuk keuntungan pribadi. Saya yakin kok jarang ada yang pelit kalo ada yang minta dengan prosedur yang benar. Betul enggak?

Asal nggak ngakuin karya orang sebagai karya kita, si empunya karya pasti mau lah bantu-bantu kalau bisa sama-sama berfaedah. Betul enggak?

Betul enggak, betul enggak…buruan gih kunjungi blog temen saya ini >> www.momylicious.com dan contek semua resepnya sekaligus boleh minta ajarin foodtography.

*enggak bisa ngomong panjang lebar soal undang-undang hak cipta. Males baca, males belajar. Barbie sudah pusing soal hidup Barbie yang tak jelas….ampun dah! Silakan cari sumber lain yang lebih akurat dan bisa diandalkan. Ini mah cuma postingan nggak penting.

Sekian.

Post #20 -2015 Keep Calm And Bawa Bekal

Setelah libur Ramadhan dan gas habis, aktifitas masak memasak dimulai lagi. Kecil-kecilan aja lah. Kalau biasanya kayak dikejar target kudu masak macem-macem, sekarang lebih santai sih. Cuma masak dikit buat bekal ke kantor.

Ide bawa bekal ini terinspirasi sama Mbak Oliph yang tiap pagi nyiapin bekal ke kantor. Ditambah lagi karena punya food container baru dari Tupperware (yang dibeli dengan kredit 10 bulan – ini yang jual nggak mau dibayar kontan lho!), ya sayang juga sih kalo nggak dipake.

Tadinya beli di warung dekat rumah, tapi kok jatuhnya mahal ya? Si embak kadang suka bikin keki karena ngehitungnya suka ngawur. Lain hari lain harga. Ya sudah, daripada sebel, mending masak sendiri aja.

Ngitung-ngitung bujet, secara banyak yang ngeluh soal harga-harga pada naik karena nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar, akhirnya ketemu niat buat nyoba masak dengan bujet maksimal 20 ribu. Alhamdulillah, udah jalan seminggu dan berhasil masak dengan nggak melebihi bujet.

Yaaaa…tetep jajan juga sih kalo di kantor. Kadang camilan, kadang juga mie ayam. Tapi makan malamnya udah jarang jajan mah sekarang…soalnya bujet segitu bisa bikin masakan yang dimakan 2 kali lho? Mayan hemat sih sebenernya kalo ga tergoda buat jajan. Hihihihi.

IMG_20150831_081022

IMG_20150829_103314

IMG_20150828_081037

IMG_20150827_074758

IMG_20150826_081809Yaaaa..masaknya sih paling ya cuma gitu2 aja. Namanya juga limited budget. Nggak tahu nih mau sampai kapan bujet segini bisa bertahan? Secara kalo belanja di embak jualan sayur, paling ya bawanya ya itu2 juga. :D

Gapapa lah…

from canva.com

Post #19 – 2015 Nyobain Tarami Fruit Market

Jadi ceritanya hari ini ada adlib baru judulnya TARAMI FRUIT MARKET. Kupikir adlib pasar buah apaan, ternyata produk makanan! Huehehehe. Dan jarang-jarang juga kalau ada produk yang ngadlib terus ngasih contoh sample produknya. Dan usut punya usut, ini terkait dengan bagaimana nanti adlibnya dibacakan.

Jadi produsen minta kalau pas baca adlib ada “drama” seperti ketika kita lagi menikmati Tarami Fruit Market. Nah, untuk lebih menghayati, diberikanlah free sample untuk dinikmati penyiar supaya tahu gimana rasanya Tarami.

Gini terus aja kalau tiap ada adlib produk makanan… :D

Btw, apa sih Tarami Fruit Market?

Ini adalah Jelly dengan potongan buah di dalamnya. Seperti ini lho bentuknya…

tarami fruit market

tarami fruit market

Sepertinya ini adalah produk baru keluaran PT Keong Nusantara Abadi yang berdomisili di Kediri dengan lisensi langsung dari Tarami Corporation Japan. Bentuknya Jelly dalam cup dengan potongan buah di dasarnya. Pt Keong Nusantara Abadi sendiri adalah produsen dari produk Wong Coco Jelly yang sudah lama ada di pasaran.

Sample yang datang ada 3 macam varian yaitu Jeruk Mandarin, Blueberry, dan Peach atau persik. Saya nyoba 3-3nya donk ya? Hehehehe.

WP_20150824_12_32_27_Pro

WP_20150824_12_34_49_Pro

Kalau yang jeruk mandarin sih emang agak rada asem dibanding 2 varian lainnya. Asemnya segerrr…apalagi kalau masuk lemari es dan disajikan dingin. Sementara potongan buah jeruk mandarinnya juga enak. Agak crunchy!

WP_20150824_12_32_34_Pro

WP_20150824_12_35_50_Pro

Nah kalau yang ini blueberry. Baru kali ini makan buah blueberry! :D biasanya cuma bisa ngerasain essence nya aja. Tapi kali ini bisa makan blueberry dalam jelly. Menurut saya sih ini yang paling enak dari ketiganya. Nggak terlalu manis, dan nggak asem juga. Meskipun varian jeruk mandarin lebih kerasa segar, tapi di lidah saya ini yang paling pas citarasanya!

WP_20150824_12_32_41_Pro

WP_20150824_12_37_17_Pro

Kalau yang satu ini adalah varian buah peach atau persik. Jujur saya sendiri bukan penyuka buah persik sih, karena tastenya yang “rada aneh”. Tapi jelly Tarami Fruit Market rasa persik ini lumayan enak sih. Taste persiknya cukup kuat di awal-awal, tapi setelahnya cukup lembut. Potongan buah persiknya juga gede-gede.

Yang pasti sih saya suka dengan jelly-nya yang lembut. Karena sample product yang saya makan tidak dingin, mungkin akan lebih nikmat jika dikonsumsi dalam keadaan dingin. Pasti lebih segar. Apalagi kalau dikreasikan dengan minuman dingin lainnya, kayaknya bakal lebih juosss ya?

Untuk produk ini saya belum tahu sih berapa harganya di pasaran. Tapi mungkin dalam kisaran 5000-6000an.

Jangan lupa baca tabel gizinya ya? Terutama untuk yang sedang diet kalori. Per cup makanan ini (115 gram) mengandung kurang lebih 120kkal dan gula 24gr (peach 25gr).

Penasaran kepingin nyoba?

Happy hunting Tarami Fruit Market ya?!