Post #6 – 2015 Tidak Semua Resep Itu Akurat

March 23, 2015 - One Response

Saya lagi seneng-senengnya belajar masak. Belakangan juga getol banget sama yang namanya “baking”. Bikin cupcake, bikin brownies, red velvet, dan pengen nyoba bikin cheese cake segala. Dalam rangka memuluskan usaha belajar saya browsing sana-sini soal resep masakan dan resep baking yang oke. Banyak nemu sih…tapi cukup lancarkah usahanya? Baguskah hasilnya?

Tidak selalu… :D

Bahkan sampai sekarang masih terus nyari resep yang pas,karena yang terlihat mudah dan nggak ribet pun ternyata nggak segampang itu, dan hasilnya tak sememuaskan seperti kelihatannya. Lalu apa yang salah? Siapa yang salah?

Gampang sekali untuk menyalahkan yang nyontek..Pasti ada takaran yang nggak pas. Pasti ada proses memasaknya yang nggak sesuai aturan. Ini dan itu sampai hasilnya beda jauh sama yang dibaca. Saya pikir memang begitu. Sayalah yang salah menakar. Sayalah yang terlalu lama atau malah kecepetan waktu ngaduk adonan, dan hasilnya selalu sukses….sukses bikin kecewa maksudnya.

Tapi ternyata, masalah seperti ini bukan hanya masalah saya….banyak dari mereka yang mencoba mengikuti resep juga mengalami kegagalan yang sama. Padahal mereka mengaku sudah mengikuti aturan mainnya. Dari sini saya merasa lega…dan menyadari ada sesuatu yang bukan sepenuhnya salah saya.

Walaupun terlihat benar, tapi sesungguhnya ada sesuatu yang tersembunyi dari resep yang memang sengaja tak diberikan oleh orang-orang itu. Sebuah rahasia yang mungkin saja mereka temukan sendiri ketika mereka melakukan proses coba-coba. Dan rahasia inilah yang tak pernah dibagi di depan kamera atau ditulis di buku. Apakah mereka pelit? Tidak sih, saya tidak melihatnya seperti itu. Saya lebih melihat kepada kesempatan yang mereka berikan pada kita untuk menemukan sendiri formula sempurna ala kita. Dan justru disitulah kepuasannya, ketika kita bisa menemukan proses yang pas sehingga hasilnya bisa sesuai.

Contoh yang bisa saya lihat ketika beberapa hari lalu saya melihat video step by step pembuatan red velvet cupcake. Dalam takaran digunakan minyak sayur sebanyak 415ml, ternyata banyak testimoni yang menyebut kalau dengan takaran segitu hasilnya sangat berminyak…dan ada yang menyarankan untuk mengurangi setengahnya. Dan hasilnya dinilai lebih baik daripada apa yang diajarkan di video. Meskipun ada yang bilang kalo semua tergantung konversi ukuran. Dan memang konversi ukuran ini sangat membingungkan dan berpotensi untuk menggagalkan.

Kenapa sih metrik takaran nggak dibikin global saja?

Terakhir saya coba bikin kukis, hasilnya enak sih, tapi itupun setelah ada revisi resep disana-sini. Menurut ukuran, tepung yang digunakan sebanyak 260 gram, tapi ternyata dengan tepung segitu adonannya jadi luar biasa lembek. Padahal takaran bahan lain sudah sesuai. Dan akhirnya takaran ditambah sampai 350 gram sampai adonan kukis menjadi kalis. Dari sini kemudian saya sadar bahwa resep masakan/baking yang ada selama ini pun tidak 100% akurat.

Dan penting untuk terus mencoba dan mencari takaran yang tepat sampai mendapatkan hasil masakan/baking yang sesuai dan memuaskan. Jangan sampai satu percobaan resep yang gagal lalu meruntuhkan semangat. Hahaha…karena saya yakin, orang-orang itu, yang tampak begitu hebat di mata saya, juga pernah mengalami kegagalan dalam mencoba resep masakan mereka sampai kemudian berhasil sempurna.

Jadi mari kita mencoba lagi.

Post #5 – 2015 Bagaimana Seharusnya Sebuah Review Dibuat?

March 11, 2015 - Leave a Response

Itu pertanyaan yang saya ajukan. Bukan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh orang dan akan saya jawab dalam postingan ini. Bukan, bukan seperti itu. Jadi kalau misal ada yang mau jawab, silakan posting di comment section ya?

Tulisan ini saya buat karena obrolan semalam dengan seorang teman yang bekerja di sebuah restoran makanan Makasar. Ceritanya, ada 2 orang mas-mas yang datang dan membeli semangkuk ikan Pallumara, dan 2 buah es teh. Dan tak lama kemudian (setelah mereka pergi tentu saja), muncullah sebuah postingan review tentang resto tempat teman saya bekerja itu.

Dalam postingan yang dibaca oleh si owner resto (dengan reaksi ketakutan) disebutkan kalau pelayanan restonya lama untuk menyajikan hanya semangkuk Pallumara dan 2 gelas teh jika dibandingkan dengan outlet resto yang sama di tempat lain. Rasanya juga asin, bahkan ada yang bilang kalo masakan Pallumara yang disajikan adalah masakan “angetan” alias nggak segar diolah saat itu juga.

Sebagai owner, wajar saja jika sebuah review yang diposting di grup kuliner membuatnya khawatir. Andai saja saya punya usaha dan komentar orang senegatif itu, saya juga pasti tidak akan bisa tidur. Tapi jujur, sebagai penikmat kuliner apa adanya dan kadang-kadang suka (sok) jadi tukang review, i would do better than cuma sekedar bilang masakan asin dan pelayannya buruk.

Itulah kenapa saya kemudian bertanya, “bagaimana seharusnya review itu dibuat?”

Saya tahu bahwa diluar sana banyak kritikus – apapun subjek kritiknya, yang tidak segan-segan memberikan komentar pedas dan negatif tentang sesuatu. Itu hak mereka. Tapi sepanjang yang saya tahu sih, tetap ada kode etik yang mungkin harus dipenuhi. Bisa jadi ada poin-poin positif yang dibahas terlebih dahulu baru kemudian bicara soal kekurangan. Mungkin seperti itu ya?

Saya menulis ini bukan karena resto yang direview adalah tempat teman saya bekerja. Kebetulan saja contohnya ada disana. Tapi memunculkan kesadaran pada diri sendiri untuk berhati-hati memberi review, terlebih jika levelnya masih amatiran.

Untuk urusan makanan saja saya mungkin akan lebih tertarik untuk mengetahui apa saja yang jadi bahan penyusun makanan yang saya makan. Sekarang ini saya lebih senang melatih “palate” atau indra pengecap saya. Merasakan apa saja yang ada di dalam semangkuk sup misalnya, atau mencoba menerka-nerka apa saja bumbu yang ada dalam sepotong ayam betutu. Jadi instead sekedar bilang keasinan, saya akan bilang “taste rempahnya enak, hanya saja level garamnya terlalu banyak buat saya” Karena bagaimanapun taste masing-masing orang berbeda. Keasinan untuk satu orang, bisa jadi malah kurang asin bagi yang lain.

Ketika teman saya bertanya tentang apa yang harus dia lakukan, saya bilang “Tak ada”. Tak ada dalam artian tak perlu terlalu dikhawatirkan karena bagaimanapun kembali pada selera masing-masing orang. Sometimes bad review malah bikin orang penasaran pengen nyoba untuk membuktikan benar atau tidak. Karena review bagaimanapun hanya sekedar sebagai reverensi, bukan penentu kebijakan seseorang. Walaupun ada orang yang hanya selalu mengandalkan “apa kata orang” ketika memutuskan sesuatu.

Tapi bukan berarti tak butuh perhatian. Saya bilang ya coba dievaluasi lagi dengan owner dan semua jajaran dapur juga service untuk meningkatkan kualitas pelayanan dimasa mendatang. Mengabaikan kritik yang ada mungkin juga bukan keputusan yang tepat untuk bisnis, karena dari kritik itulah perbaikan bisa dilakukan.

Dan dari sudut pandang saya, seorang kritikus (apapun subjeknya) sedianya tetap independent dan tidak oportunis. Dalam artian kalau mau jadi kritikus soal makanan (misalnya), harus mampu memberikan review yang tidak hanya menyenangkan bagi si pemilik resto hanya karena sudah dapat diskon atau malah digratisin. Karena ketika kita mengomentari sesuatu, kita juga membantu orang lain yang mungkin saja mencari bahan pertimbangan. Jadi baik buruknya tetap harus dikemukakan. Masalah seberapa imbang, ya tergantung seberapa banyak hal positif dan negatif yang ditemukan bukan?

Karena jaman sekarang, banyak tukang review yang ujung2nya bayaran. Sepanjang dapat gratisan, tulis saja yang baik-baik.

…karena kita, tak akan pernah bisa menyenangkan semua orang bukan?

;)

Post #4 – 2015 Beranikah Kamu Bilang Bosan?

March 9, 2015 - 3 Responses

I love my Job. No problem about it.

Masih inget sama postingan saya tentang job desc saya sebagai MD, sebagai KTS, dan semua hal yang berhubungan dengan radio? Well, semua yang saya tulis disana adalah benar. I love my job, dan saya masih terus belajar tentang rasa syukur pada semua hal, termasuk pekerjaan yang gajinya masih bisa membantu saya untuk membayar semua tagihan dan kebutuhan rumah tangga.

Dan saya yakin banyak diluar sana yang mengantri dan “rela membunuh” untuk pekerjaan saya di tempat ini. I bet!

Tapi boleh kan saya bilang BOSAN?

Ketika seseorang mengeluh tentang pekerjaannya, biasanya nih selalu berhubungan dengan tuntutan yang tak dipenuhi oleh perusahaan. Jujur saja, kebanyakan masalah orang dengan perusahaannya sebagian besar adalah soal gaji. Tapi jujur, bukan itu masalah saya. It’s true. Tidak ada yang salah dengan nominal uang yang saya terima dari perusahaan ini tiap bulannya. Saya sudah cukup hidup enak disini.

Tapi rasa bosan ini lebih pada rutinitas pekerjaan saya sekarang. Saya sedang bosan siaran, sedang bosan rutin ngantor, meskipun masih belum bisa bosan dengerin lagu sih hehehe…

Ya intinya gitu sih…saya lagi bosan sama (rutinitas) kerjaan saya.

Kalo ada yang menyarankan “coba sekali-kali piknik!”

Sounds good sih…tapi dari pengalaman yang sudah-sudah, tidak memberikan efek apa-apa. Yang ada malah tambah males kerja. Hahahaha.

Saya pernah bilang kalo passion saya disini, didunia radio. Bisa jadi. Tapi saya juga pernah cerita kalo saya punya passion lain yaitu memasak. Nah, tampaknya sekarang hobi saya yang satu ini lebih menyenangkan dibanding siaran. :D Apalagi saat ini saya sedang belajar baking, bikin kue…dan jatuh cinta beneran sama baking. Seru ternyata. Duh bikin tambah bosen sama kerjaan yang sekarang.

Tapi apakah saya sudah melakukan sesuatu?

Belum. Belum bisa. Ada hal-hal yang membuat saya masih harus stay di tempat ini dan bekerja dengan cukup keras. Apalagi kalau bukan soal tagihan-tagihan. For now, i live for my paycheck and (maybe) nothing’s wrong about it.

But one day i’ll make my decision and start a lil journey. Udah nggak akan bilang entah kapan lagi, saya harus mulai berani bilang “Nanti! Kalau urusan saya di tempat ini sudah selesai!”

Kapankah itu?

3 TAHUN LAGI! Atau bahkan lebih cepat dari itu.

*wink*

Kamu, berani nggak bilang BOSAN sama kegiatan kamu yang sekarang?

%d bloggers like this: