Post #9 – 2015 : Menikmati Warisan Budaya Kuliner Di Restaurant Semarang

June 22, 2015 - Leave a Response

Sabtu pekan lalu saya berkesempatan untuk bertemu dengan pemilik dari Restaurant Semarang, Bapak Yongki Tio. Selain restaurateur, beliau adalah sosok yang terkenal dengan passionnya terhadap sejarah khususnya kota Semarang. Sering diundang sebagai nara sumber dalam berbagai seminar dan diskusi mengenai sejarah kota Atlas, pria kelahiran 19 April 1941 yang lebih senang menyebut dirinya sebagai “Pengamat Kota” ini sering juga menjadi rujukan bagi akademisi dalam dan luar negeri yang ingin mengetahui peran etnis Tionghoa di Semarang khusunya, dan Indonesia pada umumnya.

Awalnya niat saya memang ingin bertemu dan bertanya mengenai restaurant yang beliau kelola, tapi Bapak Yongki Tio yang luar biasa ramah ini menambahkan banyak kisah menarik seputar keluarganya, kiprahnya semasa jaman penjajahan, sampai pada bisnis restoran yang sampai sekarang masih digeluti.

Jujur saja, selama 12 tahun di Semarang baru hari itu saya datang bersama dengan teman-teman ke Restaurant Semarang untuk melakukan sesi pemotretan buletin tahunan yang terbit tiap kali radio tempat saya bekerja berulang tahun. Karena tema tahun ini adalah KULINER, salah satu tempat yang jadi pilihan adalah Resturant Semarang. Alasannya menurut tim redaksi karena restoran itu menjadi salah satu landscape yang paling cocok untuk latar belakang budaya kuliner yang akan kami angkat. Dan sejak kunjungan pertama itulah saya mengaku kalau saya JATUH CINTA dengan Restaurant Semarang.

Selamat datang

Selamat datang

Saya jatuh cinta dengan suasananya, terlebih pada makanannya. Dan sejak saat itu saya memutuskan bahwa restoran ini akan menjadi tempat makan favorit saya. Dan karena kebetulan saya juga diserahi tugas untuk menulis salah satu artikel tentang Restaurant Semarang, saya pun membuat temu janji dengan sang pemilik, Bapak Yongki Tio.

Pak Yongki yang punya nama asli Tio Tek Kwan ini dengan senang hati menceritakan awal mula karirnya sebagai restaurateur. Bermula dari tahun 1985 dimana Bapak Yongki Tio yang datang dari keluarga berlatar belakang kuliner, mengelola rumah makan Istana, salah satu Restaurant pertama di Semarang yang menjalankan bisnisnya diluar dari lingkungan hotel. Sebelum tahun 1985, semua tempat makan besar seperti restaurant, hanya diperbolehkan buka dilingkungan hotel yang mana memang ditujukan untuk menjadi bagian dari hotel tersebut. Nah, rumah makan Istana ini menjadi salah satu cikal bakal rumah makan yang diperbolehkan buka diluar hotel. Dan Bapak Yongki Tio pun menjadi salah satu pencetusnya. Menurut penuturan lelaki berusia 74 tahun ini, waktu itu beliau meminta ijin untuk membuka bisnis restaurant diluar lingkungan hotel dengan alasan Semarang bisa menjadi pintu gerbang internasional bagi para wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Meksipun pada akhirnya pemerintah memutuskan pintu gerbangnya dialihkan ke Solo, tapi Rumah Makan Istana tetap buka.

Menu Spesial

Menu Spesial

Menu Spesial

Menu Spesial

Pojok Kasir

Pojok Kasir

Selama hampir 6 tahun Bapak Yongki Tio mengelola restoran tersebut sampai kemudian di tahun 1991 Restaurant Semarang dibuka. Dengan konsep awal International & Garden Restaurant – Restaurant Semarang menyajikan hidangan lokal yang disebut Pak Yongki sebagai hidangan tradisional Kampung. Sejak awal berdirinya Restaurant Semarang ini, Bapak Yongki Tio sudah punya niatan untuk mengangkat citra masakan kampung menjadi hidangan restoran yang bergengsi, karena diakui oleh beliau bahwa saat itu masih banyak restoran besar yang merasa gengsi untuk menyajikan makanan kampung sebagai menu utamanya. Dan inilah yang ingin dirubah oleh Pak Yongki. Makanan kampung pun bisa disajikan di restoran besar dengan standar yang lebih baik tentunya.

Citra itulah yang sampai sekarang dipertahankan oleh Restaurant Semarang sampai sekarang. Anda masih akan menemukan beberapa menu “lawas” yang menjadi menu spesial di restoran ini. Salah satu menu yang menjadi andalan dari sejak jaman dulu adalah Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh

Ada cerita mengenai lontong Cap Go Meh ini. Tahukah Anda bahwa makanan ini berasal dari Semarang dan hanya ada di Indonesia? Bahkan masyarakat Tionghoa yang ada di luar negeri tak pernah mengenal apa itu lontong cap go meh. Dan tahukah Anda bahwa makanan lontong ini awalnya ditemukan oleh salah seorang Babah? (sebutan bagi warga Tionghoa yang menikah dengan orang lokal – sering juga dikenal dengan sebutan Indo-Chinese).

Menurut penuturan Bapak Yongki, lontong terinspirasi dari ketupat. Itulah kenapa lontong juga disebut sebagai saudara muda-nya ketupat. Awalnya masyarakat kita tidak pernah mengenal lontong, makanan ini tercipta karena sebuah filosofi. Jaman itu, warga Tionghoa hendak merayakan Cap Go Meh (hari ke 15 di tahun baru Imlek), salah seorang Babah kemudian berpikir bagaimana membuat hantaran bagi tetangga sekitar rumah. Babah ingin membalas kebaikan warga muslim yang ada di sekitar rumahnya, yang sering memberikan hantaran berupa ketupat opor tiap kali lebaran tiba. Kemudian babah terinspirasi untuk me-reka ulang bentuk ketupat. Maka diambillah bentuk bulat sebagai simbol dari bulan purnama. Dan kemudian terciptalah lontong.

Dan kemudian menyusul Lontong Cap Go Meh yang berisi banyak hidangan sampingan sebagai pendamping lontong. Orang jaman dahulu membuat hampir 12 macam hidangan pendamping lontong cap go meh, tapi sekarang jarang ditemukan sampai yang benar-benar jumlahnya 12. Paling-paling kalau mau dihitung, hanya ada 7 hidangan pendamping dalam sepiring lontong Cap Go Meh. Selain kuah opor, lontong cap go meh disajikan bersama dengan sambal Goreng Ati, Sambal goreng tahu, Docang (kelapa gurih yang berwarna putih), Abing (kelapa berwarna cokelat dengan cita rasa yang manis), Bubuk kedelai, Telur ayam, dan kerupuk udang. Kalau dulu ada juga sambal goreng rebung dan banyak lainnya. Dan penciptaan lontong cap Go Meh ini pun menganut falsafah Pancasila. Filosofi banyak hidangan yang terkumpul menjadi satu dalam sepiring Lontong Cap Go Meh digambarkan sebagai sebuah kesatuan yang harmonis, dimana jika hidangan tersebut dimakan hanya per jenis makanan, rasanya tidak akan menyatu dan hambar. Berbeda jika semua jenis makanan tadi dikumpulkan menjadi satu dan dinikmati bersama-sama, maka akan tercipta sebuah harmoni rasa yang luar biasa.

Dan benar saja, sejak suapan pertama, saya merasa luar biasa bahagia. Entahlah, saya seperti tidak ingin berhenti menikmati sajian lontong cap go meh yang enak ini. Saya merasakan bahwa ada perbedaan dengan beberapa lontong cap go meh yang pernah saya makan di tempat lain. Cita rasanya gurih manis, ringan dan tidak menimbulkan rasa bersalah meskipun saya tahu yang saya makan adalah kuah opor yang notabene adalah santan. Tapi rasanya menyantap sepiring Lontong Cap Go Meh ala restaurant Semarang seperti menikmati cita rasa klasik yang nostalgic. Anda boleh sebut saya berlebihan, tapi memang begitulah yang saya rasakan. Ada semacam “ledakan” perasaan bahagia dan “gela” ketika tahu bahwa sepiring lontong cap go meh di depan saya sudah habis saya makan.

Selain Lontong Cap Go Meh, Anda akan menemukan menu lain yang mungkin relatif lebih baru. Seperti Tahu Telur misalnya. Ini adalah salah satu makanan yang saya pesan juga waktu itu. Saya yakin Anda pasti sudah kenal dengan makan yang satu ini.

Tahu Telor

Tahu Telor

Seperti halnya budaya, makanan juga mengalami akulturasi. Seperti tahu telur yang merupakan pencampuran budaya Tionghoa dengan Jawa. Tahu dan Telur yang digoreng, disajikan dengan taoge yang sudah diblansir, dengan taburan seledri, sambal kacang, kacang goreng, dan bawang. Berbeda dengan tahu telur pada umumnya dimana sambal kacang dan saus kecap dicampur jadi satu dan disiramkan pada tahu telur, versi Restaurant Semarang ini lebih “clean”. Pasta kacangnya dibiarkan kering dan menjadi taburan di atas tahu telurnya, sementara saus kecapnya disiramkan sendiri sebagai rendaman. Saus kecapnya begitu khas dengan citarasa bumbu masakan cina. Asin manis bercampur dengan tahu telur yang gurih, dengan kecambah yang masih kerasa “crunchy” dan kacang tanah goreng renyah dan gurih…ah, it’s heaven on earth. Benar-benar enak.

Kemudian Anda harus merasakan makanan yang disebut sebagai “Masakan Kampung” yang coba diangkat oleh Pak Yongki. Salah satunya adalah Mie Jawa. Saya berkesempatan mencoba Mie Jawa ala Restaurant Semarang.

Bakmie Jawa

Bakmie Jawa

Lihatlah betapa rapihnya sajian Mie Jawa yang satu ini. Anda tidak akan menyesal membayar 22 ribu rupah untuk menikmati semangkuk bakmie dengan cita rasa tradisional yang “ngangeni”. Ketika saya menyesap kuahnya, saya seperti dibawa ke masa kecil saya. Ada semacam kenangan pada rasa mie jawa yang sering lewat di depan rumah di Surtikanti (Semarang) dulu. Begitu membahagiakan dan rasanya ingin menangis. Mie nya lembut dengan kuah yang cukup kuat cita rasa ebi-nya. Mungkin yang punya alergi makanan laut perlu mencoba dulu makanan yang satu ini. Saya harap tidak ada masalah ketika mencicipi, karena sayang sekali jika melewatkan makanan yang satu ini.

Mengusung konsep baru sejak tahun 2000 dari yang semula International & Garden restaurant menjadi Family & Garden restaurant, restaurant Semarang juga menyajikan menu internasional. Dari mulai makanan ringan sampai main course. Salah satu yang harus Anda coba ketika berkunjung ke Restaurant Semarang adalah Holandaise Croquette.

Holandaise Croquette

Holandaise Croquette

Mungkin kita sering menyebut makanan yang satu ini dengan risoles. Apapun sebutannya, makanan yang satu ini adalah favorit saya dari Restaurant Semarang. Kroket kentangnya begitu lembut dengan cita rasa khas yang membuat saya ingin bertanya lebih banyak tentang resepnya. Tapi sepertinya Ibu Puspawati Budihandoyo – istri Bapak Yongki Tio, tidak akan pernah mengijinkan saya untuk mengetahui rahasia dibalik enaknya Hollandaise Croquette-nya. Disajikan dengan saus mustard, Kroket ini akan lumer di mulut Anda. Ada simfoni yang bermain di otak saya setiap kali saya menikmati makanan yang satu ini. Untuk jajan seharga 9 ribu rupiah, saya mampu menghabiskan 5 buah dalam sekali makan saja. Jika saya adalah terpidana hukuman mati dan ada permintaan terakhir yang saya boleh minta, saya akan meminta supaya saya bisa menikmati Hollandaise Croquette restaurant Semarang sebagai sajian terakhir dalam hidup saya. Heaven!

Selain Hollandaise Croquette, tentu saja Anda harus mencoba Lumpia ala Restaurant Semarang. Lumpia yang dimodifikasi oleh Pak Yongki dan Istrinya ini diklaim lebih enak karena rebungnya yang tidak amis, tidak ambrol, dengan penataan yang lebih bagus, dan tentu saja tanpa minyak berlebihan seperti yang sering kita jumpai pada Lumpia Semarang pada umumnya. Untuk makanan yang satu ini saya belum mencobanya, dan pasti akan saya buktikan apakah benar bahwa Lumpia versi Restaurant Semarang ini lebih enak dibandingkan yang lain.

Oh iya, dari perbicangan saya dengan Pak Yongki tentang Lumpia, saya baru tahu kalau Lumpia memang berasal dari Semarang asli dan sampai sekarang menjadi salah satu makanan yang ikonik. Saya bahkan jadi tahu sedikit sejarah keberadaan lumpia di kota Semarang. Berawal dari seorang pemuda bernama Tjoa Da You yang berprofesi sebagai pedagang makanan, dimana dia bertemu dengan gadis desa dari Kebon Lancung (sentra pembuat kulit Lumpia di Semarang) bernama Warsih, yang sama-sama menjadi pedagang makanan. Saat itu – menurut cerita dari Pak Yongki Tio, Tjoa Da You penasaran dengan kenapa dagangan Warsih begitu laris sedangkan dagangan miliknya tidak. Warsih menjelaskan bahwa penggunaan babi menjadi salah satu penyebab kenapa banyak orang (yang beragama muslim) tidak membeli dagangan dari Tjoa Da You. Dan sejak saat itu ketika mereka sering bertemu dan berdiskusi tentang makanan, tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka.

Dan dari pernikahan mereka lahirlah seorang anak yang kelak akan menjadi cikal bakal pedagang lumpia terkenal di Semarang. Ketika Tjoa Po Nio menikah dengan Sim Hoan Sing, 3 keturunan mereka mendirikan perusahaan dagang lumpia. Anak pertama yang bernama Sim Swi Hi menjadi cikal bakal Lumpia Mbak Lien yang ada di Jalan Pemuda, sementara Sim Swi Kim menjadi pendiri Lumpia gang Lombok yang terkenal itu. Dan yang terakhir adalah anak perempuan dari Tjoa Po Nio adalah Sim Hwa Nio yang menjadi cikal bakal dari Lumpia Mataram. Jadi kalau mau dipikir-pikir lagi, ternyata ketiga brand Lumpia ternama di Semarang memang masih keluarga. Termasuk Lumpia Express dan Delight yang sekarang pecah kongsi, dulunya juga masih satu keturunan dengan juragan lumpia yang ada di Semarang.

Kalau Anda sudah cukup puas menyantap hidangan pembuka dan main course di Restaurant Semarang, mungkin Anda juga perlu memesan es rujak Puspa.

Es Rujak Puspa

Es Rujak Puspa

Ini adalah Es Rujak yang dibuat sendiri oleh Ibu Puspawati. Sebenarnya es rujak ini hendak dipatenkan resepnya, tapi ditolak dengan alasan bahwa Es Rujak adalah makanan umum yang tidak masuk dalam kategori yang boleh dipatenkan. Mungkin Ibu Puspa cukup sedih karena resepnya jadi tak bisa dipatenkan, tapi Ibu Puspa boleh bangga karena resepnya yang satu ini bisa membuat pengunjung seperti saya bahagia. Es Rujak ini begitu segar, bahkan ketika dinikmati di malam hari. Rujaknya tidak “amburadul” seperti banyak es rujak lainnya. Begitu “clean” and “smooth”. Tidak begitu pedas, sehingga mungkin orang tidak cukup setuju untuk menyebut ini sebagai es rujak. Tapi bagi saya rasanya sudah pas. Asam dan manisnya berpadu dengan serutan bengkoang dan timun mas yang segar. Gulanya asli dan tidak membuat tenggorokan menjadi sakit. Biasanya banyak es rujak yang menggunakan pemanis buatan dan meninggalkan jejak rasa pahit di tenggorokan, dan cenderung membuat kita jadi haus. Tapi Es Rujak Puspa ini tidak. Ini adalah menu yang tak akan ketinggalan saya pesan setiap kali saya kesana.

Atau jika Anda suka dengan juice buah segar, Anda bisa memilih satu dari sekian banyak jus yang ada di buku menu. Dan pilihan saya jatuh pada Juice Buah Sirsak. Manisnya pas, tidak terlalu dingin, dan yang penting sirsaknya begitu kental dan memuaskan. Anda tidak akan kecewa.

Juice Sirsak

Juice Sirsak

Meskipun menyajikan berbagai macam masakan Tempoe Doeloe dari banyak unsur seperti Cina, Jawa, dan Western, tapi Pak Yongki menjamin bahwa Resto-nya tidak menggunakan babi atau bahan lain yang tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat muslim. Kebersihan di restoran ini juga dijaga dengan cukup baik. Pergaulan Pak Yongki dengan banyak orang dari luar negeri mengajarkan beliau untuk selalu menerapkan kebersihan sesuai dengan standar internasional. Meskipun diakui tidak total diterapkan karena keterbatasan disana sini, tetapi kualitas makanan dan semua hal yang ada di restoran ini dijaga dengan cukup baik. Contohnya adalah tiap 3 bulan sekali restoran ini diperiksa oleh Dinas Kesehatan untuk memastikan kalau Restaurant Semarang sudah memenuhi aturan kesehatan yang berlaku.

Disini Anda juga akan menemukan sebuah sudut yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Pak Yongki menyebut ini sebagai Pojok Heritage.

Pojok Heritage

Pojok Heritage

Pojok Heritage

Pojok Heritage

Disinilah foto-foto yang pernah tertangkap kamera Pak Yongki Tio yang juga adalah seorang fotografer profesional sejak tahun 70-an. Semua jejak sejarah yang tersisa dipajang disini. Pak Yongki mengaku banyak foto-foto bersejarahnya yang hilang dan hangus terbakar pada kejadian tahun 1965 dimana saat pemberontakan G30S PKI, kiosnya dibakar oleh massa. Pak Yongki yang dulu sempat membuka toko buku dan toko kelontongpun kehilangan banyak benda berharga termasuk foto-foto bersejarah yang pernah diabadikan saat beliau masih muda dulu.

Yang menarik dari pojok Heritage ini adalah foto-foto yang ada di dinding diganti setiap 3 bulan sekali. Terkadang tematik, disesuaikan dengan momen tertentu. Misalnya ulang tahun kota Semarang, atau peringatan pertempuran 5 hari, Pak Yongki akan memasang foto-foto yang berhubungan dengan momen tersebut. Selain itu banyak juga artikel-artikel yang didokumentasi dengan rapi, baik yang berisi tentang profil beliau sendiri, atau liputan media yang pernah menurunkan artikel tentang Restaurant Semarang. Tak kurang dari legenda kuliner Indonesia seperti William Wongso dan Bondan Winarno, pernah datang ke resto ini dan menikmati makanan buatan koki Restaurant Semarang.

Anda juga bisa membeli buku-buku karya Pak Yongki Tio yang dijual di restoran ini. Buku yang berisi sejarah Kota Semarang ini konon kabarnya sangat diminati oleh Akademisi Sejarah dari Belanda dan banyak negara lainnya.

IMG_2959Yang menarik lainnya di Restaurant Semarang adalah penampilan grup keroncong yang setia menemani pengunjung sejak tahun 91 sampai sekarang. Grup musik keroncong ini adalah satu warisan berharga juga yang sampai sekarang dijaga oleh Pak Yongki dan tampil setiap Kamis malam. Ada juga sajian Solo Organ tiap Rabu malam.

Sepertinya tak salah jika Pak Yongki Tio merubah konsep dari International & Garden Restaurant menjadi Family & Garden Restaurant karena suasana “homy” yang terasa disini. Sebenarnya alasan Pak Yongki merubah konsep restorannya ini cukup lucu menurut saya. Diakui bahwa banyak standar internasional yang tak berhasil di terapkan oleh Pak Yongki. Salah satunya adalah dari segi waiting staff. Pak Yongki menjelaskan bahwa banyak pelayan restorannya sudah cukup tua dan berseragam seadanya. Bukan karena tidak bisa mempekerjakan tenaga yang lebih muda, tapi banyak pelayan di restoran ini, dan juga beberapa tenaga kerja di bagian lain, yang sudah bekerja bertahun-tahun, sehingga sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Dan Pak Yongki juga bercerita bahwa konsep KELUARGA inilah yang memang coba diterapkan supaya pengunjung juga merasa betah seperti di rumah sendiri. Termasuk bebas marah-marah jika ada pelayanan yang kurang memuaskan, dan inilah alasan yang menurut saya paling lucu dan membuat saya tertawa terbahak-bahak ketika Pak Yongki menjelaskan. Ada-ada saja.

Tapi memang konsep seperti inilah yang cocok diterapkan oleh Restaurant Semarang. Konsep restoran rumahan dengan menu rumahan pula, meskipun secara taste sama sekali tidak murahan.

IMG_2969

Garden

IMG_2970

Inside

Jika Anda berkunjung ke restoran peraih penghargaan Nampan Perak dari Kementerian Pariwisata ini, Anda tidak perlu khawatir kekurangan tempat. Restaurant Semarang mampu menampung hingga 500 orang untuk Private Party. Kapasitas maksimalnya memang tidak banyak, tetapi untuk acara keluarga restoran ini cukup mengakomodir kebutuhan. Ada 2 pilihan ruangan. Di dalam atau di kebun belakang. Kebun ini adalah kebun asli tanpa tanaman plastik tiruan, sehingga Anda akan merasa berada di kebun belakang rumah.

Restaurant Semarang juga menyediakan ruangan untuk meeting terbatas yang dilengkapi dengan AC dan kipas angin. Melayani juga prasmanan dengan harga berkisar 60-65rb per pax. Sedangkan harga dari makanan yang ada juga tidak terlalu mahal dengan ragam menu yang cukup banyak.

WP_20150618_21_14_00_Pro

WP_20150618_21_14_14_Pro

WP_20150618_21_14_18_Pro

WP_20150618_21_14_45_Pro

WP_20150618_21_14_58_Pro

WP_20150618_21_15_09_Pro

WP_20150622_12_58_32_ProTertarik? Anda harus datang bersama dengan teman dan keluarga, menikmati saat-saat intim bersama mereka dan mengalami sendiri pengalaman bersama makanan yang bersejarah dan penuh citarasa di Restaurant Semarang.

Untuk urusan parkir, Anda tak perlu khawatir, sebuah parkiran luas disediakan untuk kendaraan pribadi Anda dan keluarga. Terlebih jika Anda adalah pengguna Agya yang compact, Anda pastinya tidak akan kesulitan menemukan space untuk Agya kesayangan Anda karena City Car yang satu ini memang tidak makan tempat.

IMG_2997

Parkir Luas

IMG_3001

Agya

IMG_3002

Agya

Dan begitulah, pengalaman kuliner saya di Restaurant Semarang dan bertemu langsung dengan sang pemilik, Bapak Yongki Tio. Dan sedikit ditambahkan ketika saya bertanya bagaimana resto ini akan bertahan, beliau hanya menjawab bahwa idealisme dan nilai-nilai kebanggaan akan warisan budaya nasional terutama di bidang kuliner lah yang akan membuat Restaurant Semarang bertahan di tengah gempuran resto-resto baru di Kota Semarang yang mengusung suasana kekinian. Harapannya saya sih juga begitu, karena saya sendiri memutuskan bahwa tempat ini akan menjadi sebuah tempat nostalgic yang akan terus saya kunjungi saat saya tua nanti, tentu saja untuk mengenang perasaan bahagia yang pernah saya alami ketika saya menikmati makanan di Restaurant Semarang.

Karena jika ada restoran yang makanannya bisa membuat saya ingin menangis bahagia, Resturant Semarang lah tempatnya.

Saya dan Pak Yongki Tio

Saya dan Pak Yongki Tio

Untuk reservasi dan informasi mengenai Restaurant Semarang, silakan hubungi nomer berikut. Restaurant Semarang buka setiap hari kecuali Senin dari pukul 10.00-14.30 (tutup) dan dibuka kembali pada pukul 18.00-21.30 wib.

IMG_2967

Note :

  • Terima kasih untuk Bapak Yongki Tio atas janji temunya
  • Untuk memudahkan pencarian letak Restaurant Semarang, gunakan Hotel Ibis Jl, Gajahmada sebagai patokan. Restaurant Semarang berada tepat di seberang hotel Ibis.

 

Post #8 – 2015 : Kalau Saya Ikut Kompetisi Blog

May 26, 2015 - 4 Responses

Sudah jalan 5 bulan dan *cuih* postingan baru 8 biji! Apapula?! Etapi nggak apa-apa lah, namanya juga blogger abal-abal pemalas dan pemulung (malas nulis sampai menunda dan kemudian memulung moment yang sudah terlewat).

Memang beginilah adanya. Dan sekarang mumpung lagi ada moment pas, perasaan juga lagi pas-pasnya. Ceritanya lupa gimana awalnya tapi yang pasti saya jadi followernya akun komunitas pecinta kuliner, lalu lihat ada tantangan, terus bemrinat ikut deh. Etapi dulu ada yang nawarin nggak ya? lupa deh…ya pokoknya begitu deh. Dan akhirnya terlibatlah saya sama kegiatan kompetisi blog ini.

Sebagai blogger abal-abal yang sedang merintis karir sebagai blogger kuliner ini, bisa dibilang saya PD banget. Ibarat kata udah nebel-nebelin muka sampai berani ikutan terima tantangan segala. Padahal bekal “perang” juga tak memadai. Pengalaman jajan juga masih terbatas, dan kemampuan untuk menaklukan rasa malas menulis juga masih jadi masalah, elhakok berani-beraninya mengajukan diri. Itukan namanya nggak tahu malu?

Tapi ya nyatanya saya berhasil bikin 3 tulisan soal tempat makan yang ada di Semarang, walaupun tulisannya sih masih “cetek” dan gitu-gitu aja. Foto makanan juga seadaanya. Hahaha. Udah gitu kudu ngereview mobil segala. Lha mobil siapa? Untungnya ada temen yang punya mobil yang dimaksud, jadi masih bisa ngoprek spek dari mobil tersebut. Jadi bisa dibilang nggak cuma modal pereuz. :D

Cuma ya itu, waktu si Mbak penyelenggara menyarankan untuk ngecek beberapa peserta untuk referensi, jatuhnya malah melongo dan me-nganga. Blognya keren-kereeeen…serius deh ya. Digarap dengan sungguh-sungguh sampai jadi web beneran dengan hostingan berbayar (nggak kaya saya yang cuma bisa gratisan), tulisannya keren parah, ada yang pake bahasa inggris segala, belum lagi foto-fotonya. Aduh Maaaaaak…sedih. Pengennya langsung lempar handuk putih ke arena dan kibarkan bendera putih. Nggak kuaaaaat.

Yang namanya percaya diri, kadang suka naik turun. Padahal ya saya tahu kalau dari awal saya hanya ingin senang-senang, nambah referensi dan jejaring sosial. Karena buat orang yang setengahnya anti sosial seperti saya ini, nyemplung di keramaian itu sudah seperti prestasi tersendiri yang bisa dibilang istimewa. Mau ikutan kompetisi blog dengan para blogger jawara itu rasanya….gitu deh.

Saya tuh emang suka gitu. Tiba-tiba nggak percaya diri. Gampang sih ngasih semangat ke orang lain, tapi buat ngasih semangat ke diri sendiri? Beuh, bisa butuh banyak effort! Godaan untuk membanding-bandingkan apa yang saya punya dengan milik orang lain sepertinya nggak pernah habis-habisnya. Ujung-ujungnya sedih. #SayaSihOrangnyaEmangGitu

Tapi begitulah…pada akhirnya tidak ada harapan yang terlalu tinggi untuk kegiatan yang satu ini. Bisa ikut belajar dengan orang-orang hebat dibidangnya juga sudah merupakan suatu privilege sendiri buat saya.

Sekalian juga dalam rangka ngenalin blog saya yang nggak seberapa itu ceritanya…

..

..

ya apalagi sih kalau bukan #DemiEksistensi ?

:D

Post #7 – 2015 Bagaimana Seharusnya Bermedia Sosial?

April 15, 2015 - 4 Responses

Ini serius, saya nanya. Berhubung saya bukan seorang media sosial freak. Punya twitter saja sekarang sudah saya tutup. Facebook satu ditutup. Punya Path lama nganggur dan baru mulai lagi aktif sekitar beberapa bulan belakangan (itu saja sudah mulai terganggu oleh 1-2 orang yang postingannya nyinyir melulu). Media yang cukup menghibur sekarang sih cuma instagram ya? Alhamdulillah sejauh ini masih baik-baik saja, karena saya punya kendali untuk memfollow akun-akun yang saya rasa tidak banyak mengganggu.

Pertanyaan ini muncul karena seorang teman yang memposting gambar2 berikut :

PicsArt_1429082459422

PicsArt_1429082492978Dan postingan ini diposting oleh teman yang notabene adalah salah satu media sosial freak. Hahaha.

Tapi kemudian membuat saya bertanya-tanya, kalau seorang pemerhati media sosial seperti dia saja sudah merasa jenuh, berarti memang ada yang salah dengan perilaku kita sebagai pengguna.Benarkah?

Atau standar benar salah ini memang relatif.

Normal dan tidak normal berdasarkan sudut pandang siapa?

Benar dan salah menurut hemat siapa?

Dijaman yang makin canggih dimana semua source begitu terbuka kita makin bebas mengeskpresikan diri kita melalui media sosial. Dari hal-hal yang sepele sampai isu tentang kemungkinan adanya perang dunia ketiga, semua ada. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan keluar masuk kamar mandi, semuanya diposting. Penting nggak penting. Gambar pantat dan toket beredar, lalu hal-hal yang selama ini mungkin dianggap tabu sudah bukan hal yang masuk ke ranah private lagi. Semuanya begitu bebas beredar. Lalu seperti tidak ada rambu-rambu yang mengatur, tidak ada rem yang membuat semuanya berhenti. Semuanya berlari di jalan bebas hambatan, walaupun pada akhirnya berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Merujuk pada gambar yang pertama, lalu saya berpikir, kira-kira hal seperti apakah yang layak diposting di media sosial kalo orang sudah mempertanyakan “emang perlu ya diposting? Mau makan dipoto. Mau tidur laporan. Lagi boker kok pamer.”

Sesuatu yang menurut orang lain nggak penting, bisa jadi sangat penting bagi si pemosting. Ketika sebuah eksistensi menjadi hal yang penting, segala cara dilakukan. Mungkin saja foto makanan, rupa bangun tidur, atau sekedar kasih lihat baju baru, adalah senjata untuk membuat orang menaruh perhatian dan disanalah keberadaan seseorang kemudian diakui. Suka atau tidak. Dan kalau hal-hal semacam itu saja “dipertanyakan” dan “dinyinyirin”, lalu postingan semacam apa yang sebaiknya ada di lini masa media sosial? berita terkini tentang pemilu kada? Berita tentang penemuan air di planet mars? Apa semua postingan harus berisikan hal-hal semacam itu?

Kemudian soal gambar yang kedua seperti ingin mengingatkan kita bahwa gadget sudah menjadi hal yang begitu esensial dalama hidup kita dan apapun yang bisa terjadi selama kita bersentuhan dengannya. Godaan untuk membuat orang lain iri dengan kehidupan kita begitu besar. Godaan untuk kepo tentang orang lain juga nggak kalah besar. Berawal dari sebuah status di BBM, atau postingan curhat di lini masa LINE, semuanya bisa jadi “sesuatu”.

Ada yang bilang “media sosial jangan dianggap serius” tapi kemudian banyak yang nggak setuju. Media sosial sudah menjadi sebuah dunia baru yang tidak layak untuk dianggap sepele. Bahkan kalau mau dikata, sebuah revolusi saja bisa dimulai dari media sosial. Seseorang bisa gagal atau sebaliknya, mungkin berawal dari media sosial. Jadi bagian mana yang dibilang bahwa media sosial hanya sekedar main-main?

Memang sih banyak yang awalnya mencari kesenangan semata dengan bermedia sosial. Nggak ada yang terlalu serius tentang platform yang satu ini. Semula orang hanya ingin senang-senang, mengisi waktu luang, siapa tahu bisa lihat sesuatu yang lucu-lucu. Tapi kemudian banyak yang merasa kalau ini adalah sesuatu yang perlu untuk diseriusi. Kalau hanya sekedar main-main, tidak mungkin ada pemerhati, tidak mungkin ada ilmu yang membahas soal media sosial.

Tapi toh memang masih banyak yang hanya menyebar kesenangan disana-sini. Seorang teman bahkan punya semacam rambu-rambu, jika kamu ingin mencela orang, marah-marah dan menjelek-jelekan orang lain, sebaiknya tahan diri, nggak perlu sampai tumpah ke media sosial. Jika ingin mengeluh, sebaiknya gunakan media lain yang tidak banyak orang tahu. Nulis buku harian misalnya? Sehingga pada akhirnya, yang muncul di lini masa hanya hal-hal yang tidak berbau marah-marah, mencela, menyindir, nyinyir, mengeluh, dan hal-hal negatif lainnya.

Tapi kemudian, niat baik semacam ini pun masih belum diterima dengan cukup baik oleh orang lain. Ada orang-orang yang malah melihatnya sebagai wujud pamer. “Hidup Lo udah bahagia dan sempurna sampai nggak pernah sedih?”

Lalu semuanya jadi serba salah. Mau marah-marah lalu image yang muncul kok “ini orang sukanya marah-marah deh”…giliran unjuk kebahagiaan image yang muncul adalah “orang kok demennya pamer…” Lalu kita harus gimana???

Bahkan memposting gambar-gambar atau tulisan inspiratif saja dianggap sebagai sesuatu yang memuakkan.

Iya sih, kadang saya juga muak sama postingan orang lain yang sok inspiratif. Hahaha. Sama muaknya dengan melihat mereka yang suka nyinyir dan marah-marah di media sosial.

Dan dari sana saya yakin bahwa orang lain juga muak dengan postingan saya.

PicsArt_1429082426033Tapi kembali lagi ke pertanyaan, sebenarnya kita musti yang macam mana dalam bermedia sosial?

Sebenarnya sih begini, ketika kita memutuskan untuk masuk ke dunia maya yang kejam ini, kendali masih ada dalam tangan kita sendiri. Namanya juga bersosialisasi, pada akhirnya kita juga harus menyeleksi mana yang akan masuk ke dalam lingkaran pertemanan kita mana yang tidak. Bukan berarti kemudian pilih-pilih, tapi pada akhirnya kita hanya ingin berkumpul dengan mereka yang bisa membuat bahagia. Bukankah ada anjuran untuk menjauhi negatifitas supaya kita tak terbawa? Kita berhak untuk meng-unshared mereka-mereka yang hanya membuat kita cemas, takut, dan merasa bahwa dunia ini memang sudah mendekati kiamat. Kita berhak memfollow mereka-mereka yang menginspirasi dan menahan diri untuk tidak mengikuti perjalanan orang-orang yang berpotensi membuat kita sedih dan pesimis. Tapi nyatanya, banyak hal-hal tak terduga muncul di tengah jalan bukan?

Mungkin sebenarnya masalahnya ada pada diri kita. Orang-orang yang memposting foto-foto makanan itu tidak berniat membuat kita iri, mereka-mereka yang memposting sedang liburan dimana tidak berniat untuk membuat kita iri, mereka yang habis gajian tidak berniat membuat orang yang lagi bokek iri. Mereka hanya sedikit mencari perhatian karena itulah cara mereka untuk dianggap sebagai manusia yang eksis. Barangkali cuma itu, tidak lebih. Jadi kalau ada semacam perasaan iri, sedih, jengkel karena sepertinya kehidupan orang lain begitu sempurna, bisa jadi masalahnya ada pada diri kita yang terlalu banyak bermimpi tapi tak pernah bisa mewujudkannya. Atau memang bawaan orok yang melihat semuanya dari kacamata negatif? Sekali lagi masalahnya mungkin memang ada pada diri kita. Bukan postingan orang lain. Mungkin lho ya?

Karena saya juga ngerasa gitu..mungkin memang kesalahan ada pada diri saya….bukan mereka.

Jadi tolong beri pencerahan pada saya, bagaimana saya harus berperilaku di media sosial. Supaya saya tidak salah langkah dan jadi bahan nyinyiran orang lain?

:)

%d bloggers like this: