Post #13 – 2015 Drew – Yang Ini Untuk Kamu

Ada lagu-lagu tertentu yang enak didengarkan dalam kondisi tertentu pula. Bukan, bukan kondisi yang berhubungan dengan hati dan perasaan. Tapi lebih ke suasana yang mendukung ketika mendengarkannya. Salah satunya adalah lagu yang satu ini.

Saya selalu membayangkan dunia saya yang melambat ketika mendengarkan lagu ini. Berada di sebuah jendela balkon apartemen, hotel, atau balkon kantor saya mungkin? dengan segelas minuman hangat dan sedikit cahaya matahari yang menembus lembut. Sambil melihat kendaraan yang saling berusaha mendahului di jalanan, lagu ini bisa menenangkan suasana hiruk pikuk yang ada diluar sana, termasuk apa yang mungkin ribut di dalam pikiran.

Lagu ini mampu membuat saya menikmati setiap helaan nafas, mensyukuri angin yang berhembus perlahan, atau sinar matahari yang mungkin memang menyilaukan. Tapi lagu ini punya keindahannya tersendiri.

Saya tidak sedang jatuh cinta, tapi lagu ini mampu membuat orang ingin terus jatuh cinta. Akhir dari sebuah kisah dan awal dari cerita yang baru. Sebuah pengingat untuk hati yang sudah mulai bosan terhadap komitmen. Lagu yang bisa digunakan untuk menyalakan kembali api cinta yang mungkin hampir padam dan mendingin.

Lebay ya? :D

Tapi saya tidak bisa tidak membayangkan sebuah gambaran pesta pernikahan yang indah di sebuah kebun. Semua persiapan yang dilakukan oleh si pengantin wanita, mulai dari memakai gaun pengantin serbaputih, memasang kerudung yang cantik di atas kepalanya, dan memastikan semuanya tampak sempurna. Sementara pengantin pria menunggu dengan sabar di depan altar pernikahan dengan perasaan campur aduk dan kemudian semua gambaran masa lalu itupun terputar.

Semua kisah masa lalu dari cinta yang tak selamanya indah. Kegagalan yang pernah dialami, kesalahan yang pernah dibuat, cela yang pernah tercipta, dan noda yang tak bisa hilang. Hingga akhirnya menemukan sebuah akhir dari pencarian cinta sejati.

Indah.

Dan kemudian si pengantin wanita mulai berjalan menuju altar dan bertemu dengan pangeran dalam mimpinya. Lalu semuanyapun berakhir dengan sebuah ciuman.

Manis.

Semua orang tertawa.

Setidaknya itu gambaran saya tentang bagaimana seharusnya lagu ini diterjemahkan dalam sebuah video klip.

Tapi meski berbeda dengan apa yang saya bayangkan, tapi lagu ini tetap menjadi salah satu lagu favorit saya dan sudah pasti akan menjadi lagu pernikahan saya kelak.

:)

Post #12 – 2015 It’s Ok To Not Be Ok

From @dianarikasari Instagram
From @dianarikasari Instagram

Captured image diatas saya ambil dari laman instagram Diana Rikasari, seorang fashion blogger terkenal (yang saya yakin Anda juga pasti tahu). Disertai dengan sebuah caption versi beliau yang kurang lebih mengingatkan kita untuk tetap menjaga jatidiri kita dan terus menjadi diri sendiri. Kurang lebih captionnya begini :

A Reminder For All Of Us. Keep things real, don’t fake our feelings. It is okay to feel sad. Don’t Hide moreover pretend we are always okay. Sharing cures. And stop trying to be so perfect on social media

Jika ada yang belum tahu tentang kisah Madison Holleran, mungkin perlu cari lebih lengkap via google. Yang pasti Madison adalah seorang siswi SMA berusia 19 tahun yang cukup aktif di sekolahnya. Dia juga seorang atlet lari di sekolah dan terlihat begitu bahagia di tiap foto-fotonya. Suatu hari Madison memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan lompat dari lantai 9 gedung bertingkat dan meninggal tak lama kemudian.

Keluarga dan teman mengaku kaget mengingat Madison tidak pernah menunjukkan sinyal-sinyal dimana seseorang sedang mengalami depresi. Jika bukan karena orang-orang di sekitarnya yang kurang begitu aware, Madison pastilah sangat pintar menyembunyikan perasaannya.

Tetapi melihat captured image di atas, ternyata Madison pernah “curhat” dengan saudara perempuannya tentang hidupnya yang tidak menarik dibanding dengan teman-temannya. Madison mengaku bahwa hidup yang menurut orang lain adalah kehidupan yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan ternyata tidak begitu. Dibandingkan dengan yang lain, Madison merasa inferior. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Di era serba canggih seperti sekarang, media sosial menjadi sebuah gaya hidup yang tak terpisahkan dari keseharian kita, jika memang tak mau disebut sebagai sebuah kebutuhan. Lewat media sosial kita bisa menengok kehidupan orang lain (bahkan yang tak kita kenal sekalipun) dan kemudian menyimpulkan sendiri bagaimana kehidupannya, padahal kita sama sekali tak mengenal orang itu dengan cukup baik.

Dan kemudian muncul kebutuhan untuk diakui dan diperhatikan oleh orang lain. Kita menyebutnya sebagai eksistensi. Nggak eksis kalau nggak punya akun med-sos. Dibilang kuno kalau nggak mainan twitter. Dibilang nggak gaul kalau nggak tahu apa itu Path dan Instagram. Apa-apa ditunjukin. Bahkan kata orang, mau buang hajat saja berasa wajib laporan.

Tidak salah, memang begitulah yang terjadi.

Katanya yang entah kata siapa, media sosial membuat kita berlomba-lomba untuk jadi tukang pamer dan cari perhatian.

Don’t get me wrong, kita disini berarti saya juga. Dan memang begitulah saya, pengin ikutan pamer juga biar dianggap hidup.

Saya sudah pernah menulis mengenai Bagaimana Seharusnya Bermedia Sosial. Bukan sebuah essay, hanya sekedar isi kepala yang tak seberapa. Kurang lebih saya pernah menulis tentang aturan-aturan (tak tertulis) yang harus dipatuhi oleh seseorang ketika menggunakan media sosial. Berdasarkan banyak tulisan, pengguna med-sos nggak suka dengan mereka yang senang marah-marah dan mengumbar sumpah serapah di lini masa mereka karena akan memberikan energi negatif bagi siapa saja yang membacanya. Pengguna juga lebih senang membaca sesuatu yang lucu ketimbang cerita sedih dan dianggap lebay. Dan aturan-aturan tidak tertulis ini pun kemudian membentuk kita untuk selalu menampilkan sesuatu yang menarik.

Alih-alih menebarkan semangat positif, banyak dari kita yang terdorong untuk menampilkan sesuatu yang sempurna. Kehidupan yang menyenangkan, senyum dan tawa lebar sebagai tanda bahagia. Lalu jadi takut untuk membagikan kesedihan lewat status kita di twitter, path, BBM, whatsapp, atau Line karena khawatir dianggap lebay dan tak bisa mengendalikan diri, haus perhatian, dan tukang cari sensasi.

Padahal, siapa sih yang tidak butuh perhatian di media sosial?

Kalau tidak butuh perhatian, kenapa juga harus dibagi dengan banyak orang? kenapa tidak disimpan saja sendiri dan menjadi sesuatu yang personal? Sudah bukan sesuatu yang bernilai “PRIBADI” atau “PRIVATE” lagi jika sudah masuk ke media sosial, begitu menurut pendapat sementara orang. Itulah kenapa kita tak boleh menyalahkan orang lain yang berusaha “kepo” tentang kehidupan kita, karena bagaimanapun suka tidak suka begitulah yang terjadi jika satu hal sudah kita bagikan melalui dunia maya. Semua yang terposting melalui jaringan internet, sudah tak berhak lagi disebut sebagai “hal yang pribadi”. Bahkan jika ada label “copyright” saja orang masih saja menganggapnya sebagai milik umum, apalagi yang tak berlabel?

Mungkin mendapatkan perhatian bukan satu-satunya tujuan utama dari semua hal yang kita posting di media sosial. Barangkali hanya ingin bersenang-senang dan membagikan hal-hal yang penting nggak penting, tapi perasaan ingin eksis adalah sesuatu yang barangkali lebih menyenangkan. Karena dianggap eksis juga merupakan sebuah prestasi. Eksis dan mampu melakukan sesuatu adalah salah satu manifestasi dari keinginan kita untuk berdaya sebagai manusia. Dan menjadi berdaya adalah sesuatu yang luar biasa.

Kita berhasil sebagai manusia…. :)

betul begitu?

Tapi tanpa sadar kita seperti berkompetisi. Sesuatu yang awalnya hanya untuk tujuan bersenang-senang, berubah menjadi ajang perlombaan. Seperti dapat panggung, semua orang berlomba untuk tampil paling depan, mati-matian ingin menjadi tokoh utama yang selalu dapat jatah sorot lampu paling banyak. Sementara mereka yang tak punya cukup nyali (atau kurang beruntung) hanya cukup puas jadi pemain pendamping yang ada di tepi belakang panggung. Masih cukup lumayan daripada yang hanya sekedar menonton. Meski begitu bukan berarti tak ada keinginan untuk jadi pusat perhatian lho?

Dan bagi yang tak kuat mental, kondisi ini cukup menekan. Bisa jadi sama seperti Madison dan banyak orang lain.

Mungkin terlalu dini untuk menyalahkan media sosial untuk kasus-kasus seperti ini karena tentu saja variabel penyebab orang frustasi dan depresi ada cukup banyak. Kita tak pernah tahu bagaimana kehidupan seorang Madison atau siapapun dengan masalah yang sama. Bisa jadi ada masalah keluarga yang tak pernah kita ketahui? Orang tua yang terlalu menuntut? Hubungan pribadi yang tak cukup berhasil dan membuat seseorang tak cukup bahagia? Who knows…

Ditambah dengan gambaran-gambaran hidup sempurna milik orang lain seperti sebuah statement bahwa kita adalah orang paling menyedihkan di dunia ini. Ketika melihat gambar-gambar penuh senyum beberapa kali muncul pertanyaan “Apakah dia tak pernah sedih?” atau “Hidupnya senang terus. Bikin iri!” Meskipun selalu diakhiri dengan ekpresi senang tapi nyatanya perasaan iri itu nyata dan benar terasa. Karena memang kita tak pernah puas sebagai manusia…

Dalam laman instagram yang sempat saya kunjungi, banyak foto yang sepertinya sudah dihapus oleh pihak keluarga Madison dan berganti dengan beberapa foto yang berisikan informasi mengenai yayasan Madison yang didirikan oleh orang tuanya. Sebuah yayasan yang sepertinya juga dilengkapi dengan sebuah call center yang menyediakan layanan untuk (kebanyakan) remaja yang mengalami gangguan depresi dan hampir tak terdeteksi oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan dalam sebuah postingannya, admin akun tersebut memposting tentang pesan “ITS OK TO NOT BE OK” Intinya, nggak apa-apa jika kita merasakan tidak bahagia, tidak masalah jika kita sedih dan bermasalah karena hidup tidak melulu berisi cerita tentang riang dan gembira.

Dan postingan caption Diana Rikasari seperti sebuah pesan bahwa (ternyata) kita boleh ngapa-ngapain selama tidak mengganggu kenyamanan orang lain atau masih dalam tahap wajar. Mungkin memang ada batas-batas tertentu yang tak boleh dilanggar, seperti menyebarkan pornografi atau mencemarkan nama baik seseorang, tapi untuk hanya sekedar curhat ketika kita sedang sedih saya rasa bukan sesuatu yang buruk jika memang itu bisa cukup meringankan. Asalkan tidak hanya sekedar berkicau tapi segera mencari bantuan agar beban terasa lebih ringan. Karena ratu dan raja drama sendiri sebenarnya cukup menyebalkan untuk terus-terusan dilihat :P

Orang bilang, simpan sedihmu dan biarkan dunia melihat kau tertawa.

Tapi bukankah hal-hal seperti itu cukup membuat kita tertekan karena kita dituntut untuk selalu terlihat sempurna?

Saya rasa media sosial bisa kita gunakan secara seimbang. Jika orang lain boleh melihat kita bergembira, sekali waktu biarkan mereka melihat kita yang sedang bersedih. Hanya sekedar memberi tahu bahwa hidup kita tidak sesempurna apa yang terlihat di foto.

Karena kesedihan bukanlah aib yang harus selamanya disimpan dan ditutupi.

Berani jujur?

Taken from Madison's Intagram Page
Taken from Madison’s Intagram Page

Post #11 – 2015 Apakah Bahagia Dan Kebahagiaan Itu?

Hari ini, saya melihat banyak teman-teman di Path saya yang mengirimkan pesan-pesan positif melalui postingannya. Ada yang menulis #JanganLupaBahagia #PokoknyaBahagia atau #KitaSemuaWajibBahagia, padahal ini bukan tanggal 20 maret ketika “Hari Bahagia Sedunia” dirayakan.

Tetapi apakah perlu menunggu sampai tanggal 20 bulan ketiga untuk selalu mengingat bahwa kita perlu merasa bahagia? Tidak juga. Momen tertentu hanya digunakan untuk mengingatkan akan pentingnya sesuatu dan selebihnya sesuatu yang penting itu harus tetap penting sepanjang waktu. Termasuk mengingatkan pada diri sendiri untuk merasakan bahagia dan menemukan kebahagiaan.

Kemudian muncul pertanyaan ini di kepala saya : Apakah saya bahagia hari ini?

Mungkin saya berkumpul dengan teman dan tertawa-tawa karena guyonan yang nggak banget dan orang lain melihat saya sedang bahagia. Mungkin juga saya makan banyak hari ini dan itu dianggap sebagai manifestasi dari hati dan pikiran yang sedang lega. Bisa jadi saya berfoto selfie dengan senyum yang lebih lebar dari senyum Indra Bekti yang terkenal dengan senyum 3 jarinya hanya untuk menunjukkan bahwa saya benar-benar bahagia.

Tetapi apakah benar saya sedang bahagia hari ini?

Saya tidak yakin bisa menjawabnya.

Apakah bahagia itu? Seperti apa kebahagiaan itu?

Kalau kita cari di google, kita akan menemukan banyak rujukan mengenai apa arti dari bahagia dan kebahagiaan.

Wikipedia menulis : bahagia adalah salah satu bentuk perasaan. Bagian dari sekian banyak emosi yang manusia miliki. Sebuah perwujudan dari rasa senang yang intens. Sesuatu yang membuat orang tersenyum bahkan tertawa. Tapi tidak jarang pula ada yang menangis karena bahagia.

Dan kebahagiaan mungkin adalah sebuah benda abstrak yang merupakan kumpulan dari banyaknya perasaan bahagia, yang menjadi satu dan terkumpul dalam waktu yang lama, dan dirasakan secara konstan oleh manusia yang bersangkutan.

Praktisi kejiwaan, para filsuf, dan pemuka agama, mempunyai definisi yang berbeda tentang bahagia dan kebahagiaan. Agama mengatur sendiri bentuk dan jenis kebahagiaan menurut ajarannya masing-masing. Tidak jarang definisi ini menimbulkan diskusi antara mereka-mereka yang kompeten dalam merumuskan arti yang sebenarnya dari bahagia dan kebahagiaan.

Begitu juga dengan saya dan Anda.

Saya mungkin punya definisi yang berbeda dari sudut pandang Anda mengenai bahagia dan kebahagiaan. Sesuatu yang kecil menurut saya, dan bisa membuat saya tersenyum, belum tentu bisa menyenangkan Anda dan membuat Anda tersenyum bahagia. Begitu juga sebaliknya. Sesuatu yang mampu membuat Anda menangis bahagia, bisa jadi saya anggap sebagai sesuatu yang berlebihan.

Seseorang dengan pekerjaan mapan, gaji besar, rumah mewah, mobil berderet bak showroom, pasangan yang cantik atau ganteng, anak yang lucu dan pintar, teman-teman yang (menurutnya) adalah jenis terbaik dari yang Tuhan bisa ciptakan, bisa jadi merasa bahagia. Tapi apakah orang tersebut sudah benar-benar menemukan kebahagiaan?

Entahlah.

Lain halnya dengan mereka yang tinggal di gundukan sampah dengan gubuk reyot seadanya, bertubuh kotor dan jarang sekali wangi, dengan pasangan yang (mungkin) sama dekil dan baunya, apakah sudah pasti tak pernah merasa bahagia dan selalu sengsara? Apakah orang-orang seperti itu dikatakan tak pernah menemukan kebahagiaan?

Entahlah.

Ilmuwan mungkin memiliki banyak macam metode yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Ada sesuatu yang mereka sebut sebagai The Subjective Happiness Scale, atau yang mereka berinama The Positive And Negative Affect Schedule, yang sama-sama digunakan untuk mengukur level bahagia baik secara individu maupun global.  Atau The Satisfaction With Life Scale, yang akan melihat seberapa bahagia kita dengan mengisi jawaban berupa persetujuan. Setuju atau tidak setuju, adalah skala yang digunakan untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan kenyataan hidup orang tersebut.

Kebanyakan orang mungkin akan terkejut dengan hasilnya. Fakta yang ada bisa saja menunjukkan bahwa kita tidak sepenuhnya bahagia. Ada sesuatu yang selama ini mungkin berusaha kita tekan dan ternyata membuat kita digolongkan ke dalam orang-orang berkategori Tak Terlalu Bahagia, atau berkategori Bahagia, Tapi….

Jadi apakah metode-metode ini tidak sepenuhnya bermanfaat? Diserahkan kembali pada penerimaan masing-masing orang sih.

Selama ini saya dan Anda mungkin sering berkomentar (atau hanya membatin) ketika melihat hidup orang lain yang terlihat begitu menyenangkan. “Enak ya jadi dia, suami ganteng, istri cantik, kaya raya, anak lucu-lucu, jalan-jalan mulu, terkenal, bahagia banget kayak nggak punya masalah.” adalah salah satu yang meluncur dari mulut kita, atau setidaknya melintas dalam benak dan pikiran kita.

Diluar soal sawang sinawang, benarkah gambaran yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri adalah kenyataan yang sesungguhnya? Bagaimana jika kita tidak melihatnya, apakah kebahagiaan itu masih dirasakan oleh orang yang bersangkutan, yang hidupnya terlihat begitu sempurna di mata dunia?

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik pintu.

Meski begitu manusia memang berhak untuk merasa bahagia dan menemukan kebahagiannya sendiri, bagaimanapun caranya, diterima atau tidak oleh masyarakat, yang penting diri sendiri bisa merasa senang. Bruce Jenner mengaku hidupnya jadi terbebaskan dan lebih bahagia setelah dia memutuskan untuk berubah menjadi Caitlyn Jenner. Jenner mengklaim telah menemukan kebahagiaannya dengan menjadi seorang wanita. Banyak masyarakat mendukung, dan sebanyak itu pula ada yang mengutuk.

Tapi apa hak kita untuk menentukan jalan kebahagiaan orang lain?

Ya, karena merasa bahagia dan tidak, menemukan atau kehilangan kebahagiaan, adalah urusan pribadi seseorang. Satu manusia bisa saja memotivasi manusia lain dengan beribu cara dan kata supaya orang lain menemukan kebahagiaannya dan berusaha membantunya. Tapi kalau memang belum waktunya, apa yang bisa dilakukan?

Tetapi mari kita lihat rangkuman dari seorang Psikolog bernama Martin Seligman yang menemukan 5 hal yang bisa membuat orang menjadi bahagia :

  1. Pleasure atau kesenangan. Hal-hal yang mampu membuat kita senang ketika melakukannya. Makan makanan yang enak, mandi air hangat, tidur nyenyak, dan masih banyak lagi.
  2. Engangement atau yang dalam istilah psikologi disebut sebagai Flow/Zone yaitu kondisi mental seseorang ketika sedang melakukan sesuatu yang membuatnya tertarik. Dimana ketika melakukan kegiatan tersebut, yang bersangkutan mengerahkan kemampuan dan fokusnya untuk mengerjakan hal tersebut sampai selesai. Dan ketika berhasil, dia pun akan bahagia.
  3. Relationship atau hubungan dengan orang lain. Bisa jadi ini menjadi salah satu indikator yang bisa mengukur apakah seseorang bahagia atau tidak. Mereka yang punya kehidupan sosial yang relatif baik cenderung lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang lebih individualis.
  4. Meaning atau Perasaan Berarti. Banyak orang merasa bahagia ketika diterima oleh masyarakat. Seseorang merasa mempunyai makna dalam hidupnya ketika berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dan perasaan berdaya ini juga menjadi salah satu tolak ukur apakah seseorang dikatakan bahagia atau tidak.
  5. dan yang terakhir adalah Accomplishment atau pencapaian. Dalam hidup yang makin kompetitif, dimana kita secara diam-diam memerhatikan orang lain dan mengukur mereka dengan diri kita sendiri, sebuah pencapaian sangatlah penting. Karena pengakuan dari orang lain lah yang mampu membuat seseorang bahagia. Karena dengan diakui, seseorang akan dianggap mampu. Seseorang akan dianggap ADA.

Setuju tidak setuju tapi memang begitu pada kenyataannya dan jika kelima-limanya mampu diraih, bukan tidak mungkin orang tersebut sudah mendapatkan perasaan bahagianya. Tapi apakah sudah menemukan kebahagiaannya? belum tentu.

Makanan enak adalah relatif. Ada orang yang malah tidak suka dengan makanan tertentu yang dianggap fancy dan keren. Dia lebih memilih makan pecel dibanding burger. Ada orang yang lebih suka mandi air dingin dibanding dengan air hangat. Ada yang lebih senang mandi pakai gayung dibanding harus berendam di bath tub. Tapi saya yakin, tidur nyenyak adalah satu-satunya kebutuhan yang memang bisa membuat orang bahagia. :)

Tidak jarang seseorang justru merasa tertekan ketika diakui dan dianggap mampu. Seseorang yang berprestasi merasa dituntut untuk meningkatkan, atau minimal mempertahankan prestasinya demi eksistensi. Orang yang berhasil mencapai posisi tertentu dalam hidupnya tidak jarang merasa harus naik lebih tinggi lagi hingga tak terkejar. Perasaan bahagia berubah jadi stress, dan kebahagiaan yang sudah ada di depan mata pun mendadak berubah menjadi maya.

Bukan sekali dua kali juga kita mendengar berita mengenai orang kaya yang tak bisa menikmati harta kekayaannya karena satu dan lain hal. Atau keluarga yang terlihat sempurna mendadak berantakan karena perceraian.

Mungkin yang paling benar mengenai konsep kebahagiaan sejati adalah konsep yang diberikan oleh panduan agama. Diluar dari pendapat para atheis yang mengatakan kalau agama justru membuat manusia saling bunuh dengan mengatasnamakan agama dan saling menyebarkan teror yang pada ujungnya membuat hidup orang lain jadi tak bahagia, tapi konsep mengenai kebahagiaan sejati memang ada pada tataran spiritual.

Buddha mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai apabila seseorang sudah terbebas dari baragam keinginan. Karena keinginan pada dasarnya adalah jalan menuju kesengsaraan. Bebas dari “rasa lapar” akan sesuatu dan menciptakan keselarasan dan harmoni dalam berhubungan sosial dengan sesama makhluk, dipercaya mampu membawa seseorang ke Nirwana, dimana kebahagiaan sejati berada.

Yahudi bahkan mendorong umatnya untuk merasa bahagia karena dengan bahagia, mereka mampu melayani Tuhannya dengan baik, dan pada akhirnya akan menemukan kebahagiaan tersendiri.

Sementara umat Katolik bahwa ketaatan pada Tuhan akan membawa seseorang pada kebahagiaan sejati yang ada pada kehidupan setelah mati. Barangkali sama dengan agama Islam yang saya percayai. Bahwa ketaatan pada Tuhan dan aturan-aturannya akan membawa kita pada kebahagiaan sejati yang menunggu kita di surga. Kami percaya bahwa ada kehidupan setelah mati. Akhirat yang masih harus dilalui sebelum kita diputuskan akan tinggal di neraka, atau nantinya cukup beruntung untuk menjalani kehidupan kekal kita di surga.

Mungkin terdengar utopis, tapi kembali pada Bahagia dan Kebahagiaan. 2 hal yang sama-sama tak berwujud, tapi bisa dirasakan. Namun begitu bukan berarti tak bisa ditunjukkan atau diciptakan.

Senyum dan tawa adalah sesuatu yang bisa kita bagi. Lepas dari apakah jauh di dalam hati kita merasa merana, tapi setidaknya senyum yang tertangkap kamera adalah sesuatu yang mungkin akan membuat orang merasa senang, dan kemudian mereka pun bisa merasa bahagia.

Sesuatu yang baik yang kita lakukan untuk orang lain, akan membuat mereka senang dan bahagia. Dan diharapkan pada saat itulah kita juga akan merasakan hal yang sama, dan bukan tidak mungkin kita akan menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

Karena konon kabarnya, kebahagiaan itu tidak bisa dicari, tapi diciptakan.

Pertanyaan berikutnya setelah ‘Apakah saya merasa bahagia’ adalah….

BERANIKAH KITA MENGAKU BAHWA KITA TIDAK BAHAGIA DAN BELUM MENEMUKAN CARA UNTUK MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN KITA SENDIRI?

PS : maaf jika tulisan ini dangkal. Saya memang tidak tahu apa-apa, ini hanya sekedar buah pikir dengan sedikit dasar. Saya harap Anda tidak marah dan kecewa.