Post #7 – 2015 Bagaimana Seharusnya Bermedia Sosial?

April 15, 2015 - 4 Responses

Ini serius, saya nanya. Berhubung saya bukan seorang media sosial freak. Punya twitter saja sekarang sudah saya tutup. Facebook satu ditutup. Punya Path lama nganggur dan baru mulai lagi aktif sekitar beberapa bulan belakangan (itu saja sudah mulai terganggu oleh 1-2 orang yang postingannya nyinyir melulu). Media yang cukup menghibur sekarang sih cuma instagram ya? Alhamdulillah sejauh ini masih baik-baik saja, karena saya punya kendali untuk memfollow akun-akun yang saya rasa tidak banyak mengganggu.

Pertanyaan ini muncul karena seorang teman yang memposting gambar2 berikut :

PicsArt_1429082459422

PicsArt_1429082492978Dan postingan ini diposting oleh teman yang notabene adalah salah satu media sosial freak. Hahaha.

Tapi kemudian membuat saya bertanya-tanya, kalau seorang pemerhati media sosial seperti dia saja sudah merasa jenuh, berarti memang ada yang salah dengan perilaku kita sebagai pengguna.Benarkah?

Atau standar benar salah ini memang relatif.

Normal dan tidak normal berdasarkan sudut pandang siapa?

Benar dan salah menurut hemat siapa?

Dijaman yang makin canggih dimana semua source begitu terbuka kita makin bebas mengeskpresikan diri kita melalui media sosial. Dari hal-hal yang sepele sampai isu tentang kemungkinan adanya perang dunia ketiga, semua ada. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan keluar masuk kamar mandi, semuanya diposting. Penting nggak penting. Gambar pantat dan toket beredar, lalu hal-hal yang selama ini mungkin dianggap tabu sudah bukan hal yang masuk ke ranah private lagi. Semuanya begitu bebas beredar. Lalu seperti tidak ada rambu-rambu yang mengatur, tidak ada rem yang membuat semuanya berhenti. Semuanya berlari di jalan bebas hambatan, walaupun pada akhirnya berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Merujuk pada gambar yang pertama, lalu saya berpikir, kira-kira hal seperti apakah yang layak diposting di media sosial kalo orang sudah mempertanyakan “emang perlu ya diposting? Mau makan dipoto. Mau tidur laporan. Lagi boker kok pamer.”

Sesuatu yang menurut orang lain nggak penting, bisa jadi sangat penting bagi si pemosting. Ketika sebuah eksistensi menjadi hal yang penting, segala cara dilakukan. Mungkin saja foto makanan, rupa bangun tidur, atau sekedar kasih lihat baju baru, adalah senjata untuk membuat orang menaruh perhatian dan disanalah keberadaan seseorang kemudian diakui. Suka atau tidak. Dan kalau hal-hal semacam itu saja “dipertanyakan” dan “dinyinyirin”, lalu postingan semacam apa yang sebaiknya ada di lini masa media sosial? berita terkini tentang pemilu kada? Berita tentang penemuan air di planet mars? Apa semua postingan harus berisikan hal-hal semacam itu?

Kemudian soal gambar yang kedua seperti ingin mengingatkan kita bahwa gadget sudah menjadi hal yang begitu esensial dalama hidup kita dan apapun yang bisa terjadi selama kita bersentuhan dengannya. Godaan untuk membuat orang lain iri dengan kehidupan kita begitu besar. Godaan untuk kepo tentang orang lain juga nggak kalah besar. Berawal dari sebuah status di BBM, atau postingan curhat di lini masa LINE, semuanya bisa jadi “sesuatu”.

Ada yang bilang “media sosial jangan dianggap serius” tapi kemudian banyak yang nggak setuju. Media sosial sudah menjadi sebuah dunia baru yang tidak layak untuk dianggap sepele. Bahkan kalau mau dikata, sebuah revolusi saja bisa dimulai dari media sosial. Seseorang bisa gagal atau sebaliknya, mungkin berawal dari media sosial. Jadi bagian mana yang dibilang bahwa media sosial hanya sekedar main-main?

Memang sih banyak yang awalnya mencari kesenangan semata dengan bermedia sosial. Nggak ada yang terlalu serius tentang platform yang satu ini. Semula orang hanya ingin senang-senang, mengisi waktu luang, siapa tahu bisa lihat sesuatu yang lucu-lucu. Tapi kemudian banyak yang merasa kalau ini adalah sesuatu yang perlu untuk diseriusi. Kalau hanya sekedar main-main, tidak mungkin ada pemerhati, tidak mungkin ada ilmu yang membahas soal media sosial.

Tapi toh memang masih banyak yang hanya menyebar kesenangan disana-sini. Seorang teman bahkan punya semacam rambu-rambu, jika kamu ingin mencela orang, marah-marah dan menjelek-jelekan orang lain, sebaiknya tahan diri, nggak perlu sampai tumpah ke media sosial. Jika ingin mengeluh, sebaiknya gunakan media lain yang tidak banyak orang tahu. Nulis buku harian misalnya? Sehingga pada akhirnya, yang muncul di lini masa hanya hal-hal yang tidak berbau marah-marah, mencela, menyindir, nyinyir, mengeluh, dan hal-hal negatif lainnya.

Tapi kemudian, niat baik semacam ini pun masih belum diterima dengan cukup baik oleh orang lain. Ada orang-orang yang malah melihatnya sebagai wujud pamer. “Hidup Lo udah bahagia dan sempurna sampai nggak pernah sedih?”

Lalu semuanya jadi serba salah. Mau marah-marah lalu image yang muncul kok “ini orang sukanya marah-marah deh”…giliran unjuk kebahagiaan image yang muncul adalah “orang kok demennya pamer…” Lalu kita harus gimana???

Bahkan memposting gambar-gambar atau tulisan inspiratif saja dianggap sebagai sesuatu yang memuakkan.

Iya sih, kadang saya juga muak sama postingan orang lain yang sok inspiratif. Hahaha. Sama muaknya dengan melihat mereka yang suka nyinyir dan marah-marah di media sosial.

Dan dari sana saya yakin bahwa orang lain juga muak dengan postingan saya.

PicsArt_1429082426033Tapi kembali lagi ke pertanyaan, sebenarnya kita musti yang macam mana dalam bermedia sosial?

Sebenarnya sih begini, ketika kita memutuskan untuk masuk ke dunia maya yang kejam ini, kendali masih ada dalam tangan kita sendiri. Namanya juga bersosialisasi, pada akhirnya kita juga harus menyeleksi mana yang akan masuk ke dalam lingkaran pertemanan kita mana yang tidak. Bukan berarti kemudian pilih-pilih, tapi pada akhirnya kita hanya ingin berkumpul dengan mereka yang bisa membuat bahagia. Bukankah ada anjuran untuk menjauhi negatifitas supaya kita tak terbawa? Kita berhak untuk meng-unshared mereka-mereka yang hanya membuat kita cemas, takut, dan merasa bahwa dunia ini memang sudah mendekati kiamat. Kita berhak memfollow mereka-mereka yang menginspirasi dan menahan diri untuk tidak mengikuti perjalanan orang-orang yang berpotensi membuat kita sedih dan pesimis. Tapi nyatanya, banyak hal-hal tak terduga muncul di tengah jalan bukan?

Mungkin sebenarnya masalahnya ada pada diri kita. Orang-orang yang memposting foto-foto makanan itu tidak berniat membuat kita iri, mereka-mereka yang memposting sedang liburan dimana tidak berniat untuk membuat kita iri, mereka yang habis gajian tidak berniat membuat orang yang lagi bokek iri. Mereka hanya sedikit mencari perhatian karena itulah cara mereka untuk dianggap sebagai manusia yang eksis. Barangkali cuma itu, tidak lebih. Jadi kalau ada semacam perasaan iri, sedih, jengkel karena sepertinya kehidupan orang lain begitu sempurna, bisa jadi masalahnya ada pada diri kita yang terlalu banyak bermimpi tapi tak pernah bisa mewujudkannya. Atau memang bawaan orok yang melihat semuanya dari kacamata negatif? Sekali lagi masalahnya mungkin memang ada pada diri kita. Bukan postingan orang lain. Mungkin lho ya?

Karena saya juga ngerasa gitu..mungkin memang kesalahan ada pada diri saya….bukan mereka.

Jadi tolong beri pencerahan pada saya, bagaimana saya harus berperilaku di media sosial. Supaya saya tidak salah langkah dan jadi bahan nyinyiran orang lain?

:)

Post #6 – 2015 Tidak Semua Resep Itu Akurat

March 23, 2015 - One Response

Saya lagi seneng-senengnya belajar masak. Belakangan juga getol banget sama yang namanya “baking”. Bikin cupcake, bikin brownies, red velvet, dan pengen nyoba bikin cheese cake segala. Dalam rangka memuluskan usaha belajar saya browsing sana-sini soal resep masakan dan resep baking yang oke. Banyak nemu sih…tapi cukup lancarkah usahanya? Baguskah hasilnya?

Tidak selalu… :D

Bahkan sampai sekarang masih terus nyari resep yang pas,karena yang terlihat mudah dan nggak ribet pun ternyata nggak segampang itu, dan hasilnya tak sememuaskan seperti kelihatannya. Lalu apa yang salah? Siapa yang salah?

Gampang sekali untuk menyalahkan yang nyontek..Pasti ada takaran yang nggak pas. Pasti ada proses memasaknya yang nggak sesuai aturan. Ini dan itu sampai hasilnya beda jauh sama yang dibaca. Saya pikir memang begitu. Sayalah yang salah menakar. Sayalah yang terlalu lama atau malah kecepetan waktu ngaduk adonan, dan hasilnya selalu sukses….sukses bikin kecewa maksudnya.

Tapi ternyata, masalah seperti ini bukan hanya masalah saya….banyak dari mereka yang mencoba mengikuti resep juga mengalami kegagalan yang sama. Padahal mereka mengaku sudah mengikuti aturan mainnya. Dari sini saya merasa lega…dan menyadari ada sesuatu yang bukan sepenuhnya salah saya.

Walaupun terlihat benar, tapi sesungguhnya ada sesuatu yang tersembunyi dari resep yang memang sengaja tak diberikan oleh orang-orang itu. Sebuah rahasia yang mungkin saja mereka temukan sendiri ketika mereka melakukan proses coba-coba. Dan rahasia inilah yang tak pernah dibagi di depan kamera atau ditulis di buku. Apakah mereka pelit? Tidak sih, saya tidak melihatnya seperti itu. Saya lebih melihat kepada kesempatan yang mereka berikan pada kita untuk menemukan sendiri formula sempurna ala kita. Dan justru disitulah kepuasannya, ketika kita bisa menemukan proses yang pas sehingga hasilnya bisa sesuai.

Contoh yang bisa saya lihat ketika beberapa hari lalu saya melihat video step by step pembuatan red velvet cupcake. Dalam takaran digunakan minyak sayur sebanyak 415ml, ternyata banyak testimoni yang menyebut kalau dengan takaran segitu hasilnya sangat berminyak…dan ada yang menyarankan untuk mengurangi setengahnya. Dan hasilnya dinilai lebih baik daripada apa yang diajarkan di video. Meskipun ada yang bilang kalo semua tergantung konversi ukuran. Dan memang konversi ukuran ini sangat membingungkan dan berpotensi untuk menggagalkan.

Kenapa sih metrik takaran nggak dibikin global saja?

Terakhir saya coba bikin kukis, hasilnya enak sih, tapi itupun setelah ada revisi resep disana-sini. Menurut ukuran, tepung yang digunakan sebanyak 260 gram, tapi ternyata dengan tepung segitu adonannya jadi luar biasa lembek. Padahal takaran bahan lain sudah sesuai. Dan akhirnya takaran ditambah sampai 350 gram sampai adonan kukis menjadi kalis. Dari sini kemudian saya sadar bahwa resep masakan/baking yang ada selama ini pun tidak 100% akurat.

Dan penting untuk terus mencoba dan mencari takaran yang tepat sampai mendapatkan hasil masakan/baking yang sesuai dan memuaskan. Jangan sampai satu percobaan resep yang gagal lalu meruntuhkan semangat. Hahaha…karena saya yakin, orang-orang itu, yang tampak begitu hebat di mata saya, juga pernah mengalami kegagalan dalam mencoba resep masakan mereka sampai kemudian berhasil sempurna.

Jadi mari kita mencoba lagi.

Post #5 – 2015 Bagaimana Seharusnya Sebuah Review Dibuat?

March 11, 2015 - Leave a Response

Itu pertanyaan yang saya ajukan. Bukan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh orang dan akan saya jawab dalam postingan ini. Bukan, bukan seperti itu. Jadi kalau misal ada yang mau jawab, silakan posting di comment section ya?

Tulisan ini saya buat karena obrolan semalam dengan seorang teman yang bekerja di sebuah restoran makanan Makasar. Ceritanya, ada 2 orang mas-mas yang datang dan membeli semangkuk ikan Pallumara, dan 2 buah es teh. Dan tak lama kemudian (setelah mereka pergi tentu saja), muncullah sebuah postingan review tentang resto tempat teman saya bekerja itu.

Dalam postingan yang dibaca oleh si owner resto (dengan reaksi ketakutan) disebutkan kalau pelayanan restonya lama untuk menyajikan hanya semangkuk Pallumara dan 2 gelas teh jika dibandingkan dengan outlet resto yang sama di tempat lain. Rasanya juga asin, bahkan ada yang bilang kalo masakan Pallumara yang disajikan adalah masakan “angetan” alias nggak segar diolah saat itu juga.

Sebagai owner, wajar saja jika sebuah review yang diposting di grup kuliner membuatnya khawatir. Andai saja saya punya usaha dan komentar orang senegatif itu, saya juga pasti tidak akan bisa tidur. Tapi jujur, sebagai penikmat kuliner apa adanya dan kadang-kadang suka (sok) jadi tukang review, i would do better than cuma sekedar bilang masakan asin dan pelayannya buruk.

Itulah kenapa saya kemudian bertanya, “bagaimana seharusnya review itu dibuat?”

Saya tahu bahwa diluar sana banyak kritikus – apapun subjek kritiknya, yang tidak segan-segan memberikan komentar pedas dan negatif tentang sesuatu. Itu hak mereka. Tapi sepanjang yang saya tahu sih, tetap ada kode etik yang mungkin harus dipenuhi. Bisa jadi ada poin-poin positif yang dibahas terlebih dahulu baru kemudian bicara soal kekurangan. Mungkin seperti itu ya?

Saya menulis ini bukan karena resto yang direview adalah tempat teman saya bekerja. Kebetulan saja contohnya ada disana. Tapi memunculkan kesadaran pada diri sendiri untuk berhati-hati memberi review, terlebih jika levelnya masih amatiran.

Untuk urusan makanan saja saya mungkin akan lebih tertarik untuk mengetahui apa saja yang jadi bahan penyusun makanan yang saya makan. Sekarang ini saya lebih senang melatih “palate” atau indra pengecap saya. Merasakan apa saja yang ada di dalam semangkuk sup misalnya, atau mencoba menerka-nerka apa saja bumbu yang ada dalam sepotong ayam betutu. Jadi instead sekedar bilang keasinan, saya akan bilang “taste rempahnya enak, hanya saja level garamnya terlalu banyak buat saya” Karena bagaimanapun taste masing-masing orang berbeda. Keasinan untuk satu orang, bisa jadi malah kurang asin bagi yang lain.

Ketika teman saya bertanya tentang apa yang harus dia lakukan, saya bilang “Tak ada”. Tak ada dalam artian tak perlu terlalu dikhawatirkan karena bagaimanapun kembali pada selera masing-masing orang. Sometimes bad review malah bikin orang penasaran pengen nyoba untuk membuktikan benar atau tidak. Karena review bagaimanapun hanya sekedar sebagai reverensi, bukan penentu kebijakan seseorang. Walaupun ada orang yang hanya selalu mengandalkan “apa kata orang” ketika memutuskan sesuatu.

Tapi bukan berarti tak butuh perhatian. Saya bilang ya coba dievaluasi lagi dengan owner dan semua jajaran dapur juga service untuk meningkatkan kualitas pelayanan dimasa mendatang. Mengabaikan kritik yang ada mungkin juga bukan keputusan yang tepat untuk bisnis, karena dari kritik itulah perbaikan bisa dilakukan.

Dan dari sudut pandang saya, seorang kritikus (apapun subjeknya) sedianya tetap independent dan tidak oportunis. Dalam artian kalau mau jadi kritikus soal makanan (misalnya), harus mampu memberikan review yang tidak hanya menyenangkan bagi si pemilik resto hanya karena sudah dapat diskon atau malah digratisin. Karena ketika kita mengomentari sesuatu, kita juga membantu orang lain yang mungkin saja mencari bahan pertimbangan. Jadi baik buruknya tetap harus dikemukakan. Masalah seberapa imbang, ya tergantung seberapa banyak hal positif dan negatif yang ditemukan bukan?

Karena jaman sekarang, banyak tukang review yang ujung2nya bayaran. Sepanjang dapat gratisan, tulis saja yang baik-baik.

…karena kita, tak akan pernah bisa menyenangkan semua orang bukan?

;)

%d bloggers like this: