Selamat tinggal soto ayam

…
selamat tinggal nasi goreng

…
selamat tinggal Solaria
..
selamat tinggal Bee’s

..
selamat tinggal makanan-makanan enak…
..
dan selamat datang WRP 6 Days Diet program!!!

Selamat tinggal soto ayam

…
selamat tinggal nasi goreng

…
selamat tinggal Solaria
..
selamat tinggal Bee’s

..
selamat tinggal makanan-makanan enak…
..

Ini adalah sebuah cerita singkat dari obrolan singkat juga semalam. Antara saya dan penjual soto dan sate ayam yang lewat depan kosan. Kebetulan, sehabis pulang siaran saya melihat gerobak sate ayam yang biasa saya beli kalo pas lagi pengen sate dan dianya pas lewat depan kos. Semuanya serba pas.
Nah, sembari saya menunggu satenya dibakar, datanglah gerobak soto. Dalam hati saya berkata “asem,aku ya pengen soto..tapi sayang dah beli sate”. Berhentilah gerobak soto itu disamping si gerobak sate. Mereka saling bertukar sapa. Sapaan antar pedagang dengan objek jualan yang berbeda.
Saya kira si penjual soto ini sudah uzur…ternyata eh ternyata, dia masih muda. Sangat muda malah. Sebagai seorang blogger amatiran dan sedikit ada “cipratan” jurnalis dalam diri saya, karena profesi saya tentunya..hehehe…saya melihat ada cerita disini. Bervalue nih kayaknya…setidaknya buat saya.
Cuma sayang…awalnya saya ragu-ragu dan malu untuk memulai obrolan…Saya putar otak gimana memulai “wawancara” ini tanpa menimbulkan perasaan yang tidak enak. Dan akhirnya saya menemukan cara. Ah, uang memang terkadang bisa menyelesaikan banyak masalah. Hehehe.
Saya keluarkan uang 3 ribu rupiah dari kantong celana saya..dan saya membeli 6 tempe keripik dari si tukang soto..dan terjadilah obrolan singkat itu.
Well, sebenarnya ini hanya tentang orang muda, dari desa, yang dimata saya begitu luar biasa. Katakanlah, ketika mereka begitu tertarik untuk pergi ke Jakarta dan meraih mimpi yang terkadang semu disana, masih ada yang mau tinggal di kota – yang mungkin juga nggak bisa dibilang kecil seperti Semarang ini. Bertahan disini mengadu nasib dengan mengerjakan sesuatu yang masih sesuai kapasitas dan kemampuannya.
Kebetulan siangnya saya baca soal kota-kota besar yang menawarkan “sesuatu” selain Jakarta..
Nah, saya tanya dia…sudah berapa lama jualan soto…Dia bilang setahun yang lalu..tadinya dia ikut orang. Setelah lulus SMP, dia langsung kerja di warung soto milik orang. Setelah merasa cukup modal, baik materi dan juga kemampuan, dia keluar dari tempat kerjanya dulu dan membuka usaha sendiri.
Damn! saya keduluan! dia saja berani kenapa sampai sekarang saya masih begini-begini aja dengan mimpi saya punya bisnis kuliner?
okay…kemudian saya nanya…Nggak malu tho jualan keliling soto begini? masih muda lho…dan dia bilang..saya nggak punya keahlian lain mas..kalo nggak kerja begini mau kerja apa lagi…mau makan apa?
Terdengar seperti orang yang sedang pesimis bukan? untuk Anda yang merasa nggak pernah puas dengan hidup Anda. Seakan semuanya ingin Anda raih dan dapatkan. Statement dari si tukan soto itu pasti terdengar sebagai nada pesimistis bagi Anda. ya kan?
Tapi tidak untuk saya. Ini adalah sebuah kebenaran, setidaknya hingga saat ini. Saat dia mengatakan hal itu. Betapa tidak. Banyak anak-anak muda yang merasa malu melakukan sesuatu yang sebenarnya menghasilkan. Sesuatu yang halal. Karena gengsi. Karena tidak sesuai dengan mimpi dan angan-angan mereka, tanpa sadar kemampuan pribadi. Dan alih-alih mereka mencari ke dalam diri mereka sendiri, mereka malah tidak melakukan apa-apa. Mereka lebih memilih menganggur, kongkow-kongkow..melakukan banyak hal sia-sia…dan kemudian berbuat onar..merugikan orang lain. Berapa banyak orang berusia muda yang begitu? Sangat banyak saya rasa…
Dan benar saja ketika dia mengatakan hal itu..saya tidak bisa lebih setuju. Buat saya, mending berusaha daripada tidak melakukan apapun sama sekali.
Lalu saya tanya lagi dia…Nggak pengin ke Jakarta? dan dia bilang…ah, buat apa…disana juga nggak tahu mau kerja apa…
Lhoh? dagang soto donk….Dan dia cuma ketawa…Mungkin dalam hati dia berkata ” disini jauh lebih menghasilkan daripada jualan soto di Jakarta.
Dan dia cerita, biasanya sehari dia bisa dapat 200 ribu sebagai penghasilan dari jualan soto. Ini masih kotor sih. Tapi setidaknya setiap hari jualan sotonya bisa habis. Nggak lebih dari jam 10 malam dia sudah bisa pulang dan menghitung laba. Sedangkan di Jakarta mungkin dia masih harus mengurusi tetek bengek lainnya. Kontrakan, biaya hidup, dan lain-lainnya. Mungkin buat dia, uang 200 ribu di Ibukota Indonesia itu bakal hanya menguap tanpa rasa, dan bisa jadi kelak malah menimbulkan masalah baru.
Entahlah…Yang pasti saya kagum. beginilah seharusnya citra anak muda kita. Tetap berusaha walau keadaan makin sulit. Saya harap sih dia bertahan dengan usahanya ini dan mampu berkembang lebih baik lagi dimasa mendatang. Mungkin dengan membuka warung permanen milik sendiri? atau bahkan rumah makan soto ayam? saya nggak pernah tahu…karena toh dia sudah punya modal. Semua bumbu dan kebutuhan berdagang dia racik sendiri lho? hebat kan?
Yaaa..banyak orang mengeluh tentang jaman yang makin susah…bukannya berusaha lebih keras malah kemudian putus asa, dan berakhir dengan cerita yang kurang begitu baik. Sayang sekali..padahal mungkin masih ada banyak jalan yang bisa dilalui. Tapi terkadang hal itu tak terlihat sama sekali.
Dan saya berpikir, siapa bilang rejeki di bumi ini sudah habis? Tuhan masih punya stok banyak..asal mau berdoa dan berusaha, Dia pasti mau kasih sama kita. Dan tugas kita selanjutnya adalah mensyukuri….sedikit banyak…itu pemberian Tuhan…imbalan atas usaha kita.
Dan inilah si mas-mas penjual soto dan penjual sate…saya sengaja nggak tanya namanya…biar kesannya obrolan ini mengalir apa adanya..hehehe. Alasan wagu sih, tapi ya memang begitu yang ada di kepala saya malam tadi. Tapi saya bilang kok kalo hasil cerita ini akan saya tampilkan di blog – uhm..mungkin dia kurang tahu apa itu blog kali ya? hehehe.
But thanks to them…
Dan obrolan itu ditutup dengan celetukan di penjual sate…
setuju….