Post #102 Pentingnya Karakter Dalam Diri Seorang Penyiar

Tiba-tiba, seorang teman datang menghampiri…mengatakan ingin mengeluhkan tentang berkurangnya partisipan pada program yang dia ampu. Dengan membandingkan pada perolehan SMS pada beberapa tahun ke belakang, dia merasa kalo kuantitasnya berkurang. Dan ada satu kesimpulan yang menurutnya adalah, jumlah entries berkurang karena kami tidak memutarkan banyak lagu-lagu dari boyband yang sedang naik daun saat ini.

Saya mangut-mangut dan mengatakan padanya bahwa bisa jadi itu benar. Kesimpulan yang dia ambil adalah berdasarkan dari apa yang dilihatnya semalam di salah satu TV swasta. Sebuah acara yang menampilkan boysband dan girlsband masa kini, yang mana menurut saya konsepnya hampir sama seperti apa yang tayang di TVN Korea. Yang menjadi perhatiannya adalah para gadis-gadis remaja yang hampir semuanya hafal pada lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para artis itu, yang hampir sebagian besar lipsync.

Mungkin si teman saya tidak tahu, bahwa deretan gadis itu…adalah penonton bayaran juga. :-)

Baiklah..baiklah, mari kita alihkan fokus pada hal lain selain masalah boysband dan girlsband yang sedang marak di negeri ini, dampak dari “Badai Korean Pop” yang melanda dihampir semua belahan dunia.

Bisa jadi itu benar. Bisa jadi juga ada hal lain. kemudian saya berpikir kembali tentang banyak hal. Beberapa pertanyaan yang ada di kepala adalah apa yang membuat banyak pendengar tak lagi mengirimkan SMS? Dan apakah mereka benar-benar pergi dan tidak mendengarkan radio kami lagi?

Kalau teman saya punya kesimpulan, saya juga boleh punya kesimpulan.

Tahun-tahun ini, radio kami kehilangan banyak penyiar. Sebagian besar dari mereka hijrah ke luar kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Mereka-mereka ini penyiar yang luar biasa. Mereka adalah penyiar hebat dimasanya. Masing-masing dari mereka punya pendengar yang loyal, yang mengagumi  mereka sebagai sosok yang luar biasa. Dan adalah hal yang sangat sulit diterima oleh pendengar ketika mereka tak lagi bisa didengarkan.

Teman-teman saya yang sudah hijrah ini, punya karakter yang kuat dalam setiap performanya. Ada yang lucu, ada yang “gila”, ada yang pinter, ada yang lugu, bahkan ada yang suka bebancian. Pokoknya macem-macem. Dan masing-masing dari mereka begitu spesial dengan karakternya. Yang terjadi kemudian adalah karakter-karakter ini mampu membuat acara jadi lebih hidup, dan membuat pendengar semakin aktif berinteraksi dengan mereka. Hasilnya, kuantitas respondenpun yang masukpun berada dalam skala bagus.

Bukan berarti sekarang jauh berkurang dan tidak ada responden, tapi banyak nama-nama lama yang kami kenal sudah tidak lagi bermunculan. Tentu saja digantikan dengan banyak nama baru, meski jumlahnya juga tidak sebanyak yang kami harapkan.

Lantas saya berpikiran, apakah ini semua karena teman-teman saya yang pergi satu-satu itu? sehingga membuat pendengar kami kemudian ogah berinteraksi?

Radio kami, mempunya karakteristik pendengar yang cukup unik. Mereka mendengarkan radio kami tidak semata-mata karena program atau materi yang disajikan. Tapi juga beralasan karena mereka senang dengan sosok penyiarnya. Oke, saya rasa hampir di semua radio banyak pendengar yang tipenya begini. Dan biasanya, pendengar-pendengar yang jenisnya seperti ini paling rajin kalo suruh kirim sms, apalagi pas yang siaran adalah penyiar favorit. Mau diputer nggak diputer requestnya, mereka pasti tetep kirim sms.

Buat saya pribadi itu tidak masalah. Tapi bisa jadi masalah kalau kemudian penyiar tersebut sudah tidak lagi bekerja diradio yang bersangkutan.

Sebuah program radio dibuat berdasarkan banyak pertimbangan. Standar operasinya juga sudah dibuat sedemikian rupa. Konten-konten yang ada didalamnya pun sudah pasti dipikirkan dengan saksama. Tapi tidak bisa dipungkiri, sosok penyiarlah yang kemudian menjadikan program itu semakin menarik. Bagaimana kemudian dia mengeksekusi program dengan baik, Bagaimana kemudian dia bisa membawakan program yang dimaksud dengan pembawaan yang menarik, itu adalah sesuatu yang penting. Karena pendengar akan semakin merasakan sebuah paket siaran yang lengkap.

Yang sering dihadapi oleh banyak radio adalah nuansa program jadi banyak berubah ketika yang membawakannya pun berbeda. Terkadang, cara mengeksekusi program yang sudah berstandar operasi pun turut memengaruhi hasil jadi program tersebut. Memang, sedikit banyak pasti terasa “impact”nya. Pendengar-pendengar yang loyal dengan program karena sosok penyiarpun akan merasa ada sesuatu yang lain. Dan celakanya, sebagian besar pendengar pasti suka dengan programnya karena suka dengan penyiarnya. Nah Lho??!!

Walaupun ini masih perlu diteliti lagi, tapi saya percaya bahwa faktor penyiar pun turut berperan besar pada program yang dibuat oleh radio. Bahkan mungkin yang paling utama selain materi lagu dan isian siaran lainnya. Itulah kenapa penting bagi seorang penyiar mengembangkan air personality dan karakter yang betul-betul menarik. Karena penyiar yang tidak punya air personality pastinya hanya akan jadi penyiar yang biasa-biasa saja dan mudah dilupakan oleh pendengar.

Dan penting bagi penyiar yang baru saja menggantikan program radio dimana dulunya dibawakan oleh penyiar yang berkarakter kuat, untuk segera mengembangkan karakternya sendiri. Tidak perlu mengekor pada apa yang sudah ada sebelumnya. Penyiar tersebut harus punya style sendiri. Dan faktor-faktor inipun harus lebih kuat, selain untuk membedakan dengan pendahulunya, juga untuk menarik perhatian pendengar yang sudah terbiasa dengan sosok yang lama.

Penyiar baru ini harus punya sesuatu yang lebih dan berbeda dibandingkan pendahulunya. A Big shoes to fill, tapi bukan berarti kemudian tidak mungkin dilakukan. Nah, yang saya lihat kurang dari program yang teman saya tadi keluhkan adalah tidak adanya karakter yang betul-betul kuat dan mampu menyamai teman-teman saya yang sudah lepas satu-satu itu.

Yang saya lihat dari teman-teman baru ini adalah mereka masih belum mampu mengembangkan karakternya. mereka masih menahan diri dan masih malu-malu untuk menampilkan sisi menarik dari dirinya. Mereka masih menganggap bahwa bersiaran adalah pekerjaan “asal ngomong”. Padahal bersiaran lebih dari itu. Bahkan menurut penyiar yang bilang “siaran itu harus apa adanya”, secara tidak sadar dia sedang menampilkan karakternya. Dia sedang memainkan peran, peran dengan karakter yang tidak berbeda jauh dengan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Percaya tidak percaya, buat saya, siaran itu seperti sedang berakting. Bukan kemudian diartikan bahwa penyiar itu palsu. Tidak. Tapi lebih kepada dia sedang membawakan peran yang bertujuan menyenangkan untuk pendengarnya dan demi menyampaikan pesan secara efektif.

Masih nggak percaya kalo proses siaran itu akting?

Ada penyiar yang karakternya moody, pemurung, pemikir, dan cenderung pendiam. tapi begitu di depan mic, sosok itu berubah 180 derajat.

Ada penyiar yang dalam kesehariannya senang berkata kasar, tapi ketika siaran, dia luar biasa halus dan mampu membawakan diri dengan baik.

itu akting. Dan itu memang menjadi bagian dari tuntutan profesi. Apakah salah? tidak sama sekali. Selama tujuannya tidak untuk menipu. Tapi memang begitulah seharusnya. Penyiar itu Aktor. Dan penyiar generasi baru di radio saya, masih belum mampu menjadi seorang aktor yang baik. Itulah kemudian yang membuat orang yang mendengarkan jadi tidak menikmati. Karena tidak ada yang spesial disana.

Anda saja, ketika menonton sebuah pertunjukkan film dengan kualitas akting yang biasa saja dari aktornya atau bahkan mungkin lebih buruk dari yang anda kira, anda pasti akan mencela keseluruhan film tersebut. Walaupun sebenarnya yang salah cuma kualitas aktingnya saja.

Penyiar pun begitu. Itulah kenapa penting untuk mengembangkan karakter yang kuat dari seorang penyiar. Demi apa? demi sebuah pertunjukkan yang menarik. Bahkan jika dan hanya jika, materi siaran yang sudah disiapkan dengan teliti, tapi apabila sang penyiar tak bisa menyajikannya dengan baik, saya yakin, program yang sebagus apapun rancangannya tidak akan bisa menjadi sebuah program yang diminati.

Jadi, tugas saya, untuk mencari tahu seperti apa karakter teman-teman baru saya ini….dan membantu mereka untuk mengembangkannya.

Published in: on November 23, 2011 at 2:19 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Post #96 Adil Itu MEMANG SUSAH!

Perasaan baru kemarin aja saya bikin jadwal siaran buat temen-temen dan periode baru sudah hampir datang. Karena ada beberapa hal yang terjadi, jadwal pun harus berubah mengikuti dinamika kegiatan para penyiar. Jiah! bahasanya…

Ya, ada yang dapet kerjaan baru, syuting di TV, jam siang, jadi mau nggak mau harus mengatur lagi giliran supaya nggak bentrok. Belum lagi yang sudah merasa udah nggak mampu siaran diacara anak muda karena ngerasa udah semakin tua, mau nggak mau harus ngubah lagi dan memberikan kesempatan bagi teman saya ini untuk belajar program yang lebih adult.

Dan mengutak atik jadwal ini rasanya sangat membingungkan. Saya berharap bisa menempatkan si A disini dan Si B disana. Tapi terkadang tidak semudah itu. Persebaran jam juga harus diperhitungkan supaya tidak ada yang paling banyak, atau paling sedikit, atau jangan ada satu orang yang terlalu sering siaran dibandingkan lainnya. Ini juga tidak baik untuk pendengar…dan image radio tentunya.

Radio saya ini memang luar biasa unik. Dibandingkan dengan yang lain, jumlah karyawan disini untuk bagian siaran saja ada 30 orang. Bandingkan dengan radio lain yang rata-rata maksimal paling 13 orang. Entahlah, saya tidak tahu kenapa bisa begini. Mungkin karena radio ini siarannya 24 jam? Atau karena bosnya kebanyakan duit? Nggak tahu saya…

Walaupun banyak, tapi urusan mengatur jadwal bisa dipastikan susahnya minta ampun. Biarpun banyak tapi availabilitasnya tidak. Hanya beberapa saja yang masih bisa diandalkan untuk siaran kapan saja. Selebihnya, susah, karena mereka ini orang-orang sibuk. Sibuk dengan kerjaan, atau urusan rumah tangga…hahaha.

Yang paling susah itu :

1. Karena mereka nggak bisa siaran di jam2 tertentu karena ada kegiatan

2. Ada yang nggak mau siaran program tertentu, alasannya nggak nyaman

3. Ada yang nggak mau jamnya dikurangin, karena kurang jam berarti kurang penghasilan

sementara pembagian jam siaran ini juga harus adil seadil-adilnya. memang sih, kalau yang nggak bisa banyak-banyak siaran ini biasanya udah tahu konsekuensinya. Tapi ada juga yang udah jam siarannya milih-milih, maunya jamnya yang banyak. Susah kan? Tapi ada tuh yang begitu…

Yaaaa…saya sih baru 2 kali bikin jadwal, tapi sudah kerasa gimana pusingnya mengatur semuanya. Dan saya pun setuju, bahwa untuk berbuat adil itu susahnya minta ampun. Supaya tidak dicap memihak pada salah satu dan disebut sebagai orang yang pilih kasih, itu…..ah, uangele jan tenan!

saya jadi berpikir, orang-orang yang poligami itu hebat ya? bisa ngaku adil…

ah, tapi….Mau sepinter apapun ngomongnya, tetep aja, berlaku adil itu susah..

Published in: on November 16, 2011 at 4:47 pm  Comments (2)  
Tags: , , , , , ,

Post #91 No,I’m Not Even Simon Cowell

Ditempat saya bekerja, sedang ada training penyiar baru. Sudah berjalan berbulan-bulan. Dari mulai bikin demo siaran sampai kemudian mereka dapat kesempatan untuk bersiaran langsung di beberapa program. Sebagai salah satu “senior” saya bertanggung jawab untuk memantau perkembangan mereka. Dan ketika saya menempati jabatan ini, tidak hanya sekedar memantau, tapi juga bertanggung jawab memberikan masukan.

Sebuah proses yang sulit. Bukan kegiatan mendengarkannya yang susah, tapi lebih kepada kemudian memberikan koreksi dan saran disana-sini. Kenapa sulit? Karena godaan untuk mengatakan sesuatu yang menyakitkan itu selalu saja muncul. Tujuannya sih bukan untuk merendahkan, tapi justru supaya mereka ini terpacu untuk berbuat yang lebih baik lagi.

Melihat lagi apa yang sudah saya lakukan hampir berbulan-bulan ini saya kok ngerasa jadi yang sok paling ahli ya?

http://www.emocutez.com

Malu sendiri….mengingat ilmu saya belum seberapa. Jabatan ini juga masih seumur jagung. Hahahaha.

Memberi kritik itu mudah, tinggal nyari cela orangnya saja, abis itu..udah…”kupas” aja semuanya. Tapi apakah kemudian hal itu bermanfaat?

Keinginan untuk mengatakan sesuatu yang jelek itu pastinya ada. Dan percayalah, usaha saya untuk menahan diri itu luar biasa. “Gigit lidah…gigit lidah” itu yang selalu saya pikirkan. Artinya, saya memang harus bisa mengendalikan diri untuk tidak menyakiti perasaan orang lain.

Seringnya, kita yang sudah lama di satu bidang melihat orang lain yang masih baru dan mencoba bidang yang sama, tidak bisa melihat kesalahan. Menuntut kesempurnaan, padahal faktanya, mereka itu masih awam, masih baru dan butuh waktu untuk belajar dan melakukan hal yang sama seperti apa yang kita lakukan saat ini.

Dan kemudian, yang terjadi adalah kita mengkritik, kita mencela dan menganggap bahwa mereka tidak mampu melakukan seperti apa yang sudah kita standarkan. Meski tujuannya mungkin baik, tapi tetap saja tindakan itu tidak ada faedahnya.

Saya mencoba mengingat-ingat kembali bagaimana posisi saya saat itu, ketika masih belum menjadi seperti sekarang yang lebih banyak pengalaman, saya hanya orang yang betul-betul tidak tahu bagaimana proses bersiaran. Bagaimana menjadi orang yang lebih “cerewet”, bagaimana menjadi orang yang harus punya lebih banyak perbendaharaan kata dibandingkan orang lain, dan bagaimana menjadi teman berdialog yang enak.

Dulu saya masih ingat, selalu saja dievaluasi dan dikoreksi oleh bos . Orang yang sudah kenyang makan asam garam siaran. bahkan nggak jarang keluar kata-kata yang mengejutkan. Tapi ujung-ujungnya beliau tetap saja memberikan kepercayaan dan mempertahankan saya.

Anak-anak baru ini, mengingatkan saya pada diri saya dulu. Tapi situasinya mungkin sudah berubah. Dalam artinya saya yang dulu beda dengan mereka yang sekarang. Apa yang dulu dilakukan oleh bos, mungkin sudah tidak cocok lagi saya tiru. Karena lawan bicara saya juga sudah berbeda.

Saat ini saya banyak menemukan hal-hal yang masih kurang dari anak-anak baru ini :

  • mereka masih kaku
  • mereka masih belum kaya kata-kata
  • mereka masih belum santai
  • mereka masih punya banyak masalah dalam urusan komunikasi dengan partner siaran
  • mereka masih kurang koordinasi dengan partner siaran
  • mereka masih bingung dengan urusan administrasi siaran
  • intinya mereka masih bener-bener baru dan belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang sekarang
Ada beberapa yang sudah pesat kemajuannya, tapi masih ada beberapa yang seperti “agak lambat mengerti’ tentang standar yang kami terapkan disini. Dan ini yang kemudian bikin saya “gemes”
Hari ini saya hampir mengatakan sesuatu yang…..Tapi saya tahan. Bahkan sebelumnya saya sudah bilang kalo saya akan jadi seorang Simon Cowell dan komentar jahatnya. Tapi kemudian yang keluar adalah….ya…bahkan untuk mendekati Simon Cowell saja tidak.

apakah saya terlalu lembek? entahlah. Tapi saya hanya mencegah diri saya untuk terlalu jauh melakukan sesuatu yang akan saya sesali. Jadi, sekali lagi, saya mencoba mencari sesuatu yang lebih persuasif dan mudah dipahami ketimbang harus marah-marah dan merendahkan orang lain.

Pssst..sebenarnya tadi sudah keluar satu komentar sih…saya bilang “dengerin kamu siaran pagi ini bikin saya cuma tahan satu jam” hihihii…dan tampaknya si trainee ini sedih. Ya habisnya, saya memang agak keki dengan dia yang sepertinya nggak dengerin apa yang sudah menjadi evaluasinya diminggu-minggu yang sudah lewat.

Sebenarnya saya sedang dalam posisi bingung saat ini. Mau dibiarkan saja supaya dia lebih santai? atau lebih ditekan lagi supaya potensinya bisa keluar? bagaimana kalau dia salah tangkap? Bagaimana kalo dia malah nggak sadar tujuan saya melakukan ini dan itu?

Ada yang bilang bahwa proses siaran hanya butuh kebiasaan saja. kalau sudah meminta terlalu banyak dari anak-anak baru itu dalam waktu yang relatif masih singkat ini rasanya kok ya kurang adil. Kesannya saya terlalu memaksakan diri. Padahal sama halnya dengan saya. untuk menjadi saya yang sekarang, butuh waktu dan proses yang tidak sebentar.

Lalu kemudian saya mulai menarik diri untuk berlari terlalu jauh. Mungkin sekarang saatnya saya mencari cara supaya metode saya bisa jadi lebih efektif. Mungkin tidak sama seperti metode Simon Cowell, karena saya bukan dia. Dan tak akan bisa jadi sosok yang seperti dia. I cannot be rude to anyone. Hehehe.

Ah, saya cuma pengen mereka cepet jago….tapi mungkin saya perlu ekstra bersabar karena mereka juga butuh waktu dan kesempatan untuk bisa menjadi seperti apa yang kami inginkan.
Published in: on November 11, 2011 at 2:12 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , ,

Post #70 Ya! Saya Adalah Seorang Penyiar Radio

Kesannya jumawa banget ya? :-D Enggak lah..saya enggak jumawa. Tapi bangga. Bangga dalam artian bangga yang senang dan bahagia, tidak sombong dan rajin menabung.

Saya jadi kepikiran buat nulis hal yang satu ini secara nih ya di radio tempat saya bekerja sekarang, sedang ada training untuk calon penyiar baru. Asal tahu saja, di tempat ini, proses training berjalan cukup lama. Dari mulai perekrutan sampai bikin demo siaran (kami menyebutnya dummy siaran) saja berlangsung hampir 2 bulan. Dan dari beberapa trainee, sudah mulai ada yang mengeluh “kenapa prosesnya lama sekali, dan kita ini jadi dipekerjakan nggak ya?”

Dari sudut pandang saya, keluhan dari orang-orang seperti ini terlihat sebagai sesuatu yang mewakili ketidakpunyaan mereka terhadap hasrat untuk menjadi seorang penyiar. hehehe..Menghakimi banget kesannya. Tapi memang begitu adanya.

Ya wajar sih, apalagi kalau selama jadi trainee mereka juga nyambi nyari kerja ditempat lain.

….

Jadi seorang penyiar, tidak cukup hanya bermodalkan minat. kepengen jadi penyiar karena kesannya keren, banyak temennya, banyak fansnya, dikenal banyak orang sampai berasa jadi seleb lokal. Buat saya itu tidak cukup. Walaupun, saya akui, hampir 10 tahun yang lalu saya juga punya pikiran semacam itu.

Jadi penyiar itu….menurut saya, harus punya passion. Betul-betul cinta, dengan dunia radio atau TV. Sama seperti pekerja media lainnya. Mereka mengambil pekerjaan itu bukan karena nggak bisa kerja di bidang lain, atau karena gara-gara  nggak ada kerjaan, tapi karena mereka memang senang dengan bidang tersebut.

Saya sudah jadi penyiar hampir 10 tahun. Masih belum apa-apa. Pengalaman juga masih belum terlalu banyak. Tapi saya cukup tahu bahwa bahkan sampai sekarang pun profesi ini masih dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Sebelum terjun ke dunia kepenyiaran radio, saya ini seneng denger siaran radio. Dulu saya sampai punya 2 radio. Saya masih ingat sempet juga rebutan radio sama tante saya. Kalau malam, dia udah tidur saya masuk diem-diem ke kamarnya dan ngambil tuh radio butut, dan mendengarkannya sendiri sampai saya sendiri pun tidur.

SMP sampai SMA, saya sudah mulai telpon-telpon ke radio. Jaman dulu belum ada SMS. Ada pun pager. Itu juga masih jadi barang mahal dan radio nggak pake pager buat request. Kalau bukan kita datang dan ngisi kartu request – yang kadang juga dijual, ya satu-satunya cara untuk bisa berinteraksi ya lewat telpon. saya pake telpon umum koin di dekat rumah.

Awalnya cuma iseng ikut kuis. begitu dapet sekali, ketagihan ikutan lagi. Kuisnya bisa macem-macem. Kadang cuma iseng jawab pertanyaan aja, tapi bisa juga yang adu bakat macam menyanyi karaoke via telpon. Nah, kalo yang terakhir ini saya sering menang. hehehehe.

Jaman dulu hadiahnya tiket nonton bioskop gratis di Atrium 21 kalau enggak di Gajahmada Theater Pekalongan. Seneng banget rasanya. Oh ya, ada juga kaset tape sebagai hadiah. Saya inget banget bisa ngumpulin ampe lebih dari 20 kaset..dan beberapa diantaranya sama. Lha iya, wong menang mulu, hadiahnya juga masih artis yang itu-itu aja, ya koleksi saya akhirnya numpuk :-D

Mulai SMA kuis sudah bukan lagi jadi minat saya untuk telpon ke radio. Jaman-jaman itu, saya suka ikut ngobrol – pake bahasa inggris di salah satu program english on the air di sebuah radio. Weeiiizzz…rasanya seneng banget bisa sekalian praktek cas cis cus pake bahasa bule…walau cuma terbatas yes no yes no i love you – jaman dulu belum ada full di belakang kata i love you :-D

kalau pagi harinya ada temen yang “ngonangi” saya telpon ke radio itu, wah, saya pasti seneng banget! Bangga! disatu sisi mereka jadi tahu kalo ternyata saya bisa juga ngobrol pake bahasa selain bahasa ibu. Dan disisi lain, saya senang, akhirnya mereka mengenal saya lewat radio. Banyak lho, temen-temen satu sekolahan yang diam-diam nyari info tentang siapa saya..hahahahaha…(ini saya tahu dari temen saya yang bilang katanya ada yang nanyain ‘siapa sih dia? kok banyak diomongin orang?”)

Yaaa..gitu deh, sampai suatu ketika – ini saat saya sudah lulus sekolah, radio yang  jadi langganan saya waktu itu menawari saya untuk jadi salah satu penyiar disana. Dari pendengar jadi penyiar. Awalnya saya ragu, apa saya bisa atau tidak. Jaman dulu pun saya sudah sadar, bahwa tertarik saja tidak cukup. Saya harus betul-betul tahu apakah saya betul-betul mampu dan bisa mencintai pekerjaan ini atau tidak. Dan akhirnya saya mencobanya. Nyatanya, saya bisa bertahan sampai sekian lama.

Butuh waktu untuk benar-benar tahu bahwa saya memang menyukai dan mencintai pekerjaan ini. 3 tahun saya diradio itu dan memutuskan keluar untuk mencoba lahan pekerjaan baru. Ternyata, ada sesuatu yang mungkin tidak bisa saya lakukan, karena masih terus kangen dengan pekerjaan awal saya. Dan setelah bekerja disana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi penyiar saja.

Jujur saja, yang pertama, karena saya tidak punya kemampuan dibidang lain. Dan kedua, dibidang yang saya kerjakan itu tidak timbul passion yang sama seperti ketika saya bekerja di radio.

Dan setelah berhenti selama setahun, saya kembali lagi ke media.

Penyiar dari dulu hingga sekarang – masih dianggap remeh oleh sebagian orang. Saya masih ingat dulu ketika almarhum Ayah bertanya “mau hidup dari gaji seorang penyiar? mana bisa? mau jadi apa nanti?”

Dan yang seperti itu kadang juga diikuti dengan sikap meremehkan. Memang sih, waktu 3 tahun bekerja, ibarat kata saya cuma kerja nggak dapet materi apa-apa. Duit gaji cuma bisa tahan sampai 20 hari. 10 hari sisanya saya harus kas bon koperasi kantor. Bukan apa-apa, tapi karena memang mepet  banget. Dan yang seperti itu sih tidak terjadi tiap bulan. tergantung pengaturan keuangan saya juga sih.

Tapi belakangan, beliau mengakui bahwa saya memang “hanya” punya bakat dibidang ini. Suara saya memang tidak bagus-bagus amat, tapi beliau bilang, pribadi saya cocok dibidang ini. Saya orang bebas, dan radio memberikan tempat untuk saya menyalurkan hasrat “bebas” saya. hehehe..dalam artian, ketika jadi seorang penyiar, saya bisa menjadi siapa saja…dan berkreasi apa saja.

Dan belakangan juga, meski tak lama, beliau bisa menikmati hasil saya bekerja di radio. Mungkin tidak banyak, tapi paling enggak, beliau tahu, bahwa jadi penyiar juga bisa memberikan sesuatu kok… :-D (tergantung radionya juga dink.)

Ya, intinya, memang dibutuhkan dari sekedar senang saja untuk jadi seorang penyiar. Tapi betul betul harus punya modal – dalam hal ini suara, dan kecintaan terhadap dunia radio. Meski nggak sedikit yang jadi penyiar karena terpaksa – belum dapet kerja, atau nggak cocok ngerjain pekerjaan lain selain siaran (sama seperti saya heheheh)

Saya akui, radio memberikan saya banyak hal. BANYAK!

bukan materi saja, tapi non materi juga iya.

Dulu, saya ini orangnya pemalu. Sampai sekarang juga sih kadang masih suka nggak pedean. Tapi sejak jadi penyiar, kemaluan saya, eh…maksud saya, perasaan malu itu lama-lama bisa sedikit ditaklukkan. Kalau jadi penyiar, saya dituntut untuk ketemu dengan banyak orang. “Harus” ramah dengan pendengar, bisa haha hihi walau hati sedang merintih perih…bisa ngomong didepan banyak orang pas lagi ngemsi, dan hal-hal seperti itulah yang kemudian membuat saya jadi agak sedikit lebih “tinggi’ dibandingkan dulu. Dalam artian begini, saya sudah tidak banyak lagi malu menghadapi situasi. Jadi penyiar membuat saya belajar banyak jurus-jurus ngeles dalam menghadapi berbagai macam situasi.

Kalau suara saya – yang dulu dibilang ayah kecil dan mirip suara wanita…sekarang sudah tidak terlalu. Hehehehe…kadang masih lembut juga sih, tergantung pesanan. LHoh eh?!! maksud saya, saya bisa mengatur tone suara saya tergantung situasi, dan saya belajar ini dari hampir 10 tahun jadi penyiar.

See??!! saya banyak dapat hal disini. Saya jadi lebih bisa mengatur kata-kata dalam berbicara, saya juga punya beberapa jurus diplomasi yang membantu saya untuk jadi orang yang lebih persuasif dalam menghadapi orang lain, dan saya belajar gratis! tanpa harus menghadiri kelas-kelas pengembangan diri dan public speaking yang mahal itu.

Saya belajar dari universitas kehidupan…hahahaha.

Saya boleh bilang, gaji penyiar emang dikit, tapi sabetannya banyak, lhoh? eh…maksud saya, gaji penyiar emang dikit, tapi banyak hal lain yang nggak bisa diukur pake materi yang bisa saya dapat disini.

Banyak orang yang mengakui bahwa semenjak jadi penyiar, mereka mengalami perubahan positif dalam hal kemampuan sosial mereka. Dari yang tadinya pemalu sekarang suka malu-maluin..hehehe..nggak ya…? dari yang tadinya sedikit sekarang sudah mulai banyak temen. Kalau dulu susah berkenalan dan memulai pembicaraan sekarang sudah agak mendingan, jejaring sosial juga makin luas, dan masih banyak lagi kemajuan inter dan intra personal seseorang.

Saya juga…mengalami cukup banyak kemajuan dibanding dulu lah…Itulah kenapa saya tidak akan pernah menafikkan ini semua ketika kelak saya mewujudkan passion saya yang lain… :-)

Makanya….nyari penyiar yang betul betul mau jadi penyiar sekarang itu susah…masih training aja udah ngeluh sana sini…itulah kenapa, selama hampir 10 tahun dibidang ini, saya paling males kalau suruh buka rekrutan baru…karena hampir pasti, ketemunya orang-orang yang tipenya ya begitu itu…

tapi puas rasanya kalo dapet newbie dan kelak bisa jadi seorang penyiar yang oke…berarti pilihan kita nggak salah….hahahaha…

tertarik jadi penyiar? nggak cukup….

cintai dulu radio…baru jadi penyiar….Nggak pernah denger radio terus mau jadi penyiar?

kelaut aja neng…