Post #87 Mau Jadi Tua Yang Seperti Apa?

Saya percaya, bahwa setiap kejadian itu PASTI ada alasannya. sudah ada yang ngatur, kenapa kita tiba-tiba pengen sesuatu, kenapa tiba-tiba kita pengen ngambil jalan yang nggak biasanya. Disana pasti ada sesuatu untuk kita.

Contoh kasus pagi ini, eh tiba-tiba pengen sarapan di warung sebelah belakang kos, udah lama nggak kesana. Untuk pergi ke warung itu ada 2 cara, yang pertama, lewat belakang, tapi kudu permisi sama ibu kos. Yang kedua bisa keluar gerbang utama dan muter ke TKP. Sebenarnya males kalo mesti ketemu ibu kos dan ber-haha-hihi tapi cara yang pertama  ini yang sering saya lakukan.

Tadi pagi saya udah mau keluar gerbang dan muter, tapi tiba-tiba saya urung dan milih ketemu ibu kos. Dasar rejeki, ibu kos lagi masak bistik daging – ehm.memasak ulang sih lebih tepatnya, menghangatkan bistik yang sudah sehari kemarin jadi. Saya dikasih sampai semangkuk penuh..Ya, tinggal beli nasi aja kalo begini. Coba kalo tadi saya jadi muter, saya kan nggak bakal ketemu ibu kos? saya juga nggak bakal dapet bistik sapi buatan beliau?

Contoh kasus yang kedua, kemarin, entah kenapa, dari kos saya mengambil jalur ke studio yang nggak biasanya. saya muter lewat jalan belakang. Tadinya sih emang pengen ngehindarin banyaknya lampu merah, tapi ternyata sih sama aja, jalur disana malah lebih macet dari jalur utama. Hahaha.

BTW, ditengah perjalanan saya melihat seorang bapak-bapak tua duduk di kursi roda dan didorong sama Nanny-nya jalan-jalan. Bapak ini badannya sih sepertinya masih segar, tapi mungkin beliau habis kena stroke. Soalnya wajahnya khas, agak perot ke kanan.

Cuma sekilas saja saya melihat, tapi kemudian saya jadi kepikiran. Kelak, kalau saya sudah tua, saya mau jadi manusia tua yang seperti apa ya?

Jadi tua itu pasti. Mau ke ujung dunia nyari obat awet muda juga, nggak bakalan bisa. Tua itu pasti. Mati apalagi. Makanya saya jadi ngebayangin masa tua saya kelak. Sebenarnya sih saya sudah mulai mengurangi soal mikir masa depan yang belum pasti juntrungnya. Tapi untuk yang satu ini terkadang saya masih suka berangan-angan. Apalagi kalo abis ngalamin kejadian kayak tadi. Ngeliat orang yang udah sepuh, pasti saya langsung mikir, “Ndak Tuoku mengko koyo ngono?”

Amit-amit ah…

saya pengen jadi manusia tua yang tetep sehat, nggak sakit-sakitan, bugar dan masih bisa melakukan banyak hal. Pengennya sih begitu. Tapi melihat gaya hidup saya yang sekarang kok saya jadi agak ragu ya? Makan nggak teratur – dalam artian jumlah sama jenisnya :-D , abis itu males olahraga, nggak begitu aktif, dan berat badan cenderung stabil,  stabil nambahnya..ah, saya jadi agak takut. Sungguh saya takut.

Saya nggak pengen ngerepotin orang lain. Sungguh. Saya bermimpi jadi orang tua yang bebas kemana-mana, masih bisa keliling jalan-jalan, melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa harus tersiksa karena demensia, dan bahagia tentunya.

itulah kenapa, beberapa hari ini saya jadi memikirkan kembali prioritas saya pada kesehatan. Jujur, beberapa tahun ini semuanya berubah. Masa-masa galau yang berakhir membuat saya doyan makan – apa saja! Tidur juga malem melulu karena kebanyakan kencan, :-D dan sungguh, tidak ada kebiasaan sehat yang saya lakukan.

terkadang saya sadar betapa melelahkannya gaya hidup ini, tapi memang susah untuk kembali ke jalur yang benar. saya sudah tidak lagi bisa naik tangga sambil lari, saya sudah tidak segesit dulu, itulah kenapa kemudian banyak bayangan-bayangan aneh tentang masa tua saya kelak.

Aduh! saya harus berubah! Saya harus sehat! saya masih punya banyak mimpi! dan mimpi-mimpi itu pengen saya nikmati sampai tua!

itulah kenapa, doa saya selalu adalah

“I Wanna live Wealthy, Healthy and Happy!”

Post #51 : My Splurging Activity

Saya memang tidak tahan untuk tidak membeli majalah tentang masak memasak. Bukannya majalah musik, tapi justru majalah masak memasak! Just imagine bahwa saya adalah seorang pekerja media, radio, dan bertugas dibagian musik! Tapi saya beli majalah masak, bukan musik. HAhahaha. Tidak usah heran, ini hobi saya. Lagipula, kantor tidak mungkin membelikan saya majalah kuliner. Dan bujet bulanan majalah sudah terdistribusi dengan baik. Salah satunya membeli majalah tentang musik.

Hampir tiap kali saya pulang kampung saya pasti masak. entah apa saja yang bisa dimasak. Dari mulai nasi goreng sampai makaroni skotel. Terakhir, yang notabene adalah malam ini, saya berhasil memnbuat 2 jenis masakan. Semuanya kudapan. Bukan main course sih.

Setiap kali saya mencoba untuk mempraktekkan resep yang saya lihat dimajalah, saya selalu mengalami kegagalan. entah itu gagal dalam hal visual maupun citarasa. Dalam arti entah tampilannya yang tidak seindah di majalah atau rasanya yang mungkin tidak seenak yang dijanjikan. Kecewa? tentu saja. Tapi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyukai hasil kerja saya sendiri. Tidak puas pasti ada, tapi inilah seni masak memasak. Anda tak akan pernah bisa menemukan citarasa yang langsung enak, atau tampilan yang langsung indah, hanya dengan satu kali percobaan. Anda terberkati dengan tangan yang oke kalau anda bisa melakukan itu.

terkadang Anda sudah mematuhi semua ukuran yang disarankan, tapi tetap saja hasilnya ada yang kurang. Saya yang salah dalam proses, atau bagaimana? Seperti pancake stroberi diatas. semua bahan sudah sesuai dengan takaran. Tapi kata mama saya, rasanya agak pahit. Mungkin karena kebanyakan baking soda. Nah lho? dalam resep saya harus pakai 2 sendok teh, tapi mama saya bilang seharusnya tidak perlu sebanyak itu. Kalau nanti nggak rata ngaduknya bisa pahit. Hmmm…takarannya yang kebanyakan atau prosesnya yang ngawur?

Tetap saja, menurut saya – sebagai yang masak, hehehe, rasanya tetep enak kok, walau mungkin nggak seenak namanya. Hihihi.

Nah, kalau yang ini adalah meatloaf saus barbeque. Presentasinya sih memang seadanya, wong rasanya juga apa adanya. Hahahaha…tidak seperti yang pernah saya makan di salah satu coffee shop di semarang itu…Tapi yaaa..menurut saya sih lumayan masih bisa dinikmati. meski momen-nya salah. Saya membuatnya dikala semua orang sudah makan. Akhirnya malah jadi nggak ada yang nyentuh. Hahaha.

Hobi saya yang satu ini memang membuat saya harus keluar banyak uang. Tentu saja saya tidak menyesal. Beberapa hobi memang berkategori mahal. Apalagi kalau statusnya masih newbie dalam hal menekuni hobi. Masih meraba-raba, masih belum terlalu kreatif. Masih tekstual. Masih nyontek. Jadi belum bisa berimprovisasi dengan apa yang ada tanpa harus banyak membeli. saya pikir..pelan-pelan lah..tidak usah terlalu terburu-buru, meskipun sebenarnya saya sudah tidak sabar untuk bisa lebih advance dan punya kesempatan untuk meningkatkan hobi saya ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Bisnis.

Ya, saya memang pengin punya bisnis tempat makan. Kafe lah. kecil-kecilan, tapi nyaman. Tempat orang bisa nongkrong sambil makan dan ngobrol. Dengerin musik atau baca buku. Nanti juga bisa hotspot-an. Hihihi. Pokoknya kafe yang ceritanya sih mau semi modern gitu. Dan saya pengin bisa menjual sesuatu dari apa yang selama ini saya tekuni.’

Ini masih sekedar pengin. Masih mimpi. Entah kapan akan terwujud. Tapi saya pengin ini terwujud. Saya tahu saya harus mencari cara untuk itu. Dan saya harap cara saya nanti efektif dan bisa membuahkan hasil. Bisnis makanan memang menantang untuk ditekuni. Meski banyak yang bilang, bisnis makan pasti jalan selama orang butuh makanan. Tapi tidak segampang itu saya kira. Amunisinya harus benar-benar cukup untuk bisa menjadikan bisnis ini besar. Salah satunya ya dari makanan itu sendiri. Karena memang itu jualan utamanya. Makanya saya pengin belajar lebih banyak tentang hal yang satu ini, memasak dan mempresentasikan hasil masakan dengan baik.

Semoga saya bisa melakukannya. Karena ini juga mimpi ayah saya.

:)

Published in: on September 1, 2011 at 9:46 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , ,