Saya tidak tahu bagaimana bumerang bekerja, tapi yang saya tahu bumerang selalu kembali pada pelemparnya.
Dan saya adalah salah satu dari pelempar itu.
Banyak hal dalam hidup ini – hidup saya terutama, yang wujudnya seperti bumerang. Selalu berbalik arah menuju saya.
Saya membenci..saya dibenci
Saya tak menyukai…saya tak disukai
Saya mengasihi..saya dikasihi
Saya memberi…saya pun diberi
dan banyak hal lainnya yang tak kasat mata, tapi selalu saya rasakan kembali pada saya. Mungkin tidak akan jadi masalah jika hal-hal baik lah yang datang, tapi terkadang tidak sedikit dari hal-hal itu merupakan sesuatu yang menyedihkan dan melukai. Dan kalau sudah seperti ini tidak ada yang saya lakukan selain melihat kembali adakah kebencian yang pernah saya tebarkan sehingga sikap-sikap membenci ini harus saya terima?
Tindakan seperti ini bukan tindakan menyalahkan diri sendiri. Tidak, saya tidak melihat diri saya sebagai seorang pesakitan. Karena terkadang hal-hal seperti itu tidak sengaja saya lakukan. Semuanya terjadi tanpa saya sadari. Tindakan ini lebih kepada introspeksi ke dalam diri saya, apakah yang selama ini sudah saya lakukan terhadap orang lain? Apakah ada yang salah? atau ada sikap saya yang tidak disetujui oleh orang lain?
Mumpung masih di awal tahun, saya rasa ini adalah saat yang tepat untuk melihat lagi pada apa yang sudah terjadi dan belum saya lakukan.
….Introspeksi…
Baiklah…banyak yang menganggap saya ini orangnya sombong, angkuh dan merasa paling bisa. Wohohoho…belum kenal sama saya ya? Kadang-kadang kalo ada persepsi orang pada saya dengan gambaran seperti ini, saya cuma bisa mesem dan geleng-geleng kepala. Dan paling cuma bilang dalam hati “anda tidak tahu saya…”
Ya, bagaimana orang yang baru pertama kali bertemu langsung beranggapan seperti itu? Mungkin karena mereka masuk ke dalam golongan yang percaya bahwa kesan pertama begitu menggoda. Kalau tidak menggoda, tinggalkan saja. Kalau terlalu menggoda, ya sebaiknya jangan lagi didekati, kecuali kalo Anda termasuk yang senang sekali digoda.
)
Let’s say…kalau saya memang sombong, mungkin Anda perlu lama mengenal saya untuk bisa menemukan hal-hal yang patut saya sombongkan. Semua yang saya punya, Anda juga pasti punya. apa yang saya tidak punya, saya yakin Anda pasti punya. Jadi, apa yang mau disombongkan? Anda akan butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan alasan kenapa saya harus bersikap sombong dan bisa dipastikan tak akan menemukannya.
Saya angkuh…Lalu kenapa saya angkuh. Apa karena saya tak bisa dengan cepat melebur di satu komunitas? apa karena saya lebih memilih diam ketimbang cerewet kesana kemari memperkenalkan diri dan sibuk bercerita tentang saya? Percayalah, saya bukan orang seperti itu. Saya orang yang lebih senang menunggu. Bukan berarti kemudian karena saya menganggap diri saya penting, tapi lebih kepada mengamati celah dimana saya bisa mulai untuk berkomunikasi. Saya rasa hukum ini sudah banyak dipahami orang bahwa kita cenderung mencari orang yang punya ketertarikan yang sama untuk bisa menjalin sebuah komunikasi. Tapi sayang…tidak semua orang mampu menerima hukum yang sudah kekal ini. Mereka pikir gampang memulai sebuah komunikasi…percayalah, untuk sebagian orang, tidak semudah itu.
Dan kemudian mereka menganggap saya angkuh. Apakah saya sedih? tentu saja. Tapi kemudian saya berpikir kembali “Apakah saya pernah punya pikiran yang sama pada orang lain?”
Ah ya……pernah. Beberapa kali dan terhitung sering malah. Lalu apakah salah dengan tidak menyukai orang lain hanya dalam sekali ketemu? Tidak. Wajar. Makanya saya akan menganggap wajar sikap orang pada saya. Mungkin saya butuh waktu, mungkin mereka butuh waktu.
Ada yang bilang saya merasa paling bisa. Doeng! Maaf, saya bukan tipe orang seperti itu. Paling bisa dalam hal apa? Saya memang bisa, tapi kalo merasa paling, itu pasti bukan saya. Banyak orang akan bilang “ah, saya merendahkan diri sendiri” dan saya akan ditempatkan pada sudut dimana saya akan kebingungan sendiri. Di bagian mana saya merendah? Saya sudah jujur apa adanya, bahwa saya memang bisa, tapi kalau merasa paling, maaf..saya tidak pernah punya niatan semacam itu. Yang ada dipandangan orang-orang hanyalah persepsi pribadi mereka, bukan statement dari dari saya. Jadi itu sudah pasti HOAX.
Saya tidak akan menyarankan orang untuk mencari tahu siapa saya yang sebenarnya. Bagaimana dan seperti apa kepribadian saya. Saya cuma akan buang-buang waktu dengan mencari pembelaan. Saya adalah pembela untuk diri saya sendiri. Biarkan orang memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya tanpa saya harus repot membenarkan ini dan itu.
Tapi satu hal yang ingin diakui disini adalah bahwa “Ya, saya orangnya memang pemalu”
Menjadi penyiar tidak serta merta merubah banyak hal. Memang ada banyak yang bisa didapat dan dipelajari sejak menjalani profesi ini. Tapi laiknya profesi lain, ada banyak hal yang tak mampu diubah dengan cara yang ekstrim, salah satunya adalah pribadi dasar saya.
Mungkin saya bisa menjadi sosok yang outgoing,tapi itupun bukan tipe yang hore more. Saya tetap menjadi orang yang senang menahan diri dan tidak melakukan banyak hal yang tidak membuat diri saya dan orang lain kurang nyaman. Ada yang bilang “membosankan berteman dengan saya” Well, mungkin saja.
Setelah demikian jauh menggambarkan diri saya sendiri, saya ingin kembali pada esensi bahwa banyak hal dalam hidup ini seperti bumerang. Dia akan kembali pada pelemparnya. Dan ketika saya tahu ada banyak persepsi tentang saya diluar sana, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Mungkin ini memang sesuatu yang kembali pada saya, dari apa yang sudah dilemparkan.
Ini warning…supaya sikap saya bisa jauh lebih baik. Okay, susah memang. Tapi nggak salah kalau saya merasa ada yang harus sedikit diperbaiki kan?