Post #5 – 2012 Sometimes Everything Is Just Like A Boomerang

Saya tidak tahu bagaimana bumerang bekerja, tapi yang saya tahu bumerang selalu kembali pada pelemparnya. :)

Dan saya adalah salah satu dari pelempar itu.

Banyak hal dalam hidup ini – hidup saya terutama, yang wujudnya seperti bumerang. Selalu berbalik arah menuju saya.

Saya membenci..saya dibenci

Saya tak menyukai…saya tak disukai

Saya mengasihi..saya dikasihi

Saya memberi…saya pun diberi

dan banyak hal lainnya yang tak kasat mata, tapi selalu saya rasakan kembali pada saya. Mungkin tidak akan jadi masalah jika hal-hal baik lah yang datang, tapi terkadang tidak sedikit dari hal-hal itu merupakan sesuatu yang menyedihkan dan melukai. Dan kalau sudah seperti ini tidak ada yang saya lakukan selain melihat kembali adakah kebencian yang pernah saya tebarkan sehingga sikap-sikap membenci ini harus saya terima?

Tindakan seperti ini bukan tindakan menyalahkan diri sendiri. Tidak, saya tidak melihat diri saya sebagai seorang pesakitan. Karena terkadang hal-hal seperti itu tidak sengaja saya lakukan. Semuanya terjadi tanpa saya sadari. Tindakan ini lebih kepada introspeksi ke dalam diri saya, apakah yang selama ini sudah saya lakukan terhadap orang lain? Apakah ada yang salah? atau ada sikap saya yang tidak disetujui oleh orang lain?

Mumpung masih di awal tahun, saya rasa ini adalah saat yang tepat untuk melihat lagi pada apa yang sudah terjadi dan belum saya lakukan.

….Introspeksi…

Baiklah…banyak yang menganggap saya ini orangnya sombong, angkuh dan merasa paling bisa. Wohohoho…belum kenal sama saya ya? Kadang-kadang kalo ada persepsi orang pada saya dengan gambaran seperti ini, saya cuma bisa mesem dan geleng-geleng kepala. Dan paling cuma bilang dalam hati “anda tidak tahu saya…”

Ya, bagaimana orang yang baru pertama kali bertemu langsung beranggapan seperti itu? Mungkin karena mereka masuk ke dalam golongan yang percaya bahwa kesan pertama begitu menggoda. Kalau tidak menggoda, tinggalkan saja. Kalau terlalu menggoda, ya sebaiknya jangan lagi didekati, kecuali kalo Anda termasuk yang senang sekali digoda.

:) )

Let’s say…kalau saya memang sombong, mungkin Anda perlu lama mengenal saya untuk bisa menemukan hal-hal yang patut saya sombongkan. Semua yang saya punya, Anda juga pasti punya. apa yang saya tidak punya, saya yakin Anda pasti punya. Jadi, apa yang mau disombongkan? Anda akan butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan alasan kenapa saya harus bersikap sombong dan bisa dipastikan tak akan menemukannya.

Saya angkuh…Lalu kenapa saya angkuh. Apa karena saya tak bisa dengan cepat melebur di satu komunitas? apa karena saya lebih memilih diam ketimbang cerewet kesana kemari memperkenalkan diri dan sibuk bercerita tentang saya? Percayalah, saya bukan orang seperti itu. Saya orang yang lebih senang menunggu. Bukan berarti kemudian karena saya menganggap diri saya penting, tapi lebih kepada mengamati celah dimana saya bisa mulai untuk berkomunikasi. Saya rasa hukum ini sudah banyak dipahami orang bahwa kita cenderung mencari orang yang punya ketertarikan yang sama untuk bisa menjalin sebuah komunikasi. Tapi sayang…tidak semua orang mampu menerima hukum yang sudah kekal ini. Mereka pikir gampang memulai sebuah komunikasi…percayalah, untuk sebagian orang, tidak semudah itu.

Dan kemudian mereka menganggap saya angkuh. Apakah saya sedih? tentu saja. Tapi kemudian saya berpikir kembali “Apakah saya pernah punya pikiran yang sama pada orang lain?”

Ah ya……pernah. Beberapa kali dan terhitung sering malah. Lalu apakah salah dengan tidak menyukai orang lain hanya dalam sekali ketemu? Tidak. Wajar. Makanya saya akan menganggap wajar sikap orang pada saya. Mungkin saya butuh waktu, mungkin mereka butuh waktu.

Ada yang bilang saya merasa paling bisa. Doeng! Maaf, saya bukan tipe orang seperti itu. Paling bisa dalam hal apa? Saya memang bisa, tapi kalo merasa paling, itu pasti bukan saya. Banyak orang akan bilang “ah, saya merendahkan diri sendiri” dan saya akan ditempatkan pada sudut dimana saya akan kebingungan sendiri. Di bagian mana saya merendah? Saya sudah jujur apa adanya, bahwa saya memang bisa, tapi kalau merasa paling, maaf..saya tidak pernah punya niatan semacam itu. Yang ada dipandangan orang-orang hanyalah persepsi pribadi mereka, bukan statement dari dari saya. Jadi itu sudah pasti HOAX.

Saya tidak akan menyarankan orang untuk mencari tahu siapa saya yang sebenarnya. Bagaimana dan seperti apa kepribadian saya. Saya cuma akan buang-buang waktu dengan mencari pembelaan. Saya adalah pembela untuk diri saya sendiri. Biarkan orang memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya tanpa saya harus repot membenarkan ini dan itu.

Tapi satu hal yang ingin diakui disini adalah bahwa “Ya, saya orangnya memang pemalu”

Menjadi penyiar tidak serta merta merubah banyak hal. Memang ada banyak yang bisa didapat dan dipelajari sejak menjalani profesi ini. Tapi laiknya profesi lain, ada banyak hal yang tak mampu diubah dengan cara yang ekstrim, salah satunya adalah pribadi dasar saya.

Mungkin saya bisa menjadi sosok yang outgoing,tapi itupun bukan tipe yang hore more. Saya tetap menjadi orang yang senang menahan diri dan tidak melakukan banyak hal yang tidak membuat diri saya dan orang lain kurang nyaman.  Ada yang bilang “membosankan berteman dengan saya” Well, mungkin saja.

Setelah demikian jauh menggambarkan diri saya sendiri, saya ingin kembali pada esensi bahwa banyak hal dalam hidup ini seperti bumerang. Dia akan kembali pada pelemparnya. Dan ketika saya tahu ada banyak persepsi tentang saya diluar sana, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Mungkin ini memang sesuatu yang kembali pada saya, dari apa yang sudah dilemparkan.

Ini warning…supaya sikap saya bisa jauh lebih baik. Okay, susah memang. Tapi nggak salah kalau saya merasa ada yang harus sedikit diperbaiki kan?

:)

Published in: on January 4, 2012 at 12:52 pm  Comments (2)  
Tags: ,

Post #103 This Is About Up And Down

Ada masanya saya begitu percaya diri. Nggak pernah mikirin orang lain. Saya adalah saya. Tidak peduli orang mau bilang apa. Bukan sombong bukannya angkuh, tapi saya benar-benar bisa percaya pada diri sendiri. Karena saya merasa saya sudah punya apa yang saya butuhkan dan saya inginkan.

..pikiran saya sedang waras…

..

Tapi ada masanya, seperti sekarang misalnya, saya begitu minder dan sedih. *masih sempet nulis blog* :-) Mikir yang enggak-enggak, pengen yang enggak-enggak, dan bertanya yang enggak-enggak. Kenapa saya nggak bisa begini, kenapa saya nggak bisa begitu. Kenapa saya nggak bisa punya ini kenapa saya nggak bisa punya itu. Kenapa saya nggak mampu melakukan apa yang orang mampu dan lain-lain pertanyaan.

..pikiran saya sedang tak waras…

..

Saya mungkin sudah sekian kali menuliskan hal yang kurang lebih sama. Maklum, kejadiannya juga kurang lebih sama. Dan hal-hal seperti ini selalu terulang dan terjadi lagi dan lagi. Meski saya sudah mencoba untuk memproteksi diri sendiri dengan banyak kata-kata positif, tapi tetap saja, pikiran saya mempermainkan saya. Dan perjuangan untuk tetap terjaga, itu yang luar biasa.

Dan bisa jadi, ini akan jadi perjuangan seumur hidup.

Tapi semoga saja, saya akan selalu bisa untuk tetap kembali pada jalur yang benar. Artinya, saya akan cepat untuk kembali merasa baik-baik saja. Percaya diri dan bersyukur bahwa saya sudah menjadi seperti apa yang saya butuhkan sebagai manusia.

Bahwa saya lebih besar dari apa yang saya kira

Bahwa apa yang saya terima itu sudah lebih dari cukup

Bahwa apa yang saya inginkan mungkin adalah hal yang tak masuk diakal

Bahwa apa yang saya inginkan bukanlah apa yang saya butuhkan

dan lagi-lagi…

Nikmat Tuhan mana lagi yang akan saya dustakan?

Published in: on November 24, 2011 at 4:11 pm  Leave a Comment  
Tags:

Post #93 Kalo Belum Rejeki, Ya Sudah…

Saya ini orangnya mudah sekali kecewa. Dan seringnya, kekecewaan ini datang karena ekspektasi yang berlebihan pada sesuatu. Harapan yang kelewat tinggi, bayangan yang terlalu indah, berandai-andai tanpa pakai kira-kira. Ujung-ujungnya kecewa berat.

Jaman sekolah dulu, saya sering terlalu percaya diri bisa meraih prestasi tinggi. saya yakin bisa Rangking 1, hanya karena saya bisa mengerjakan soal ujian dalam waktu secepat-cepatnya. Padahal belum tentu bener semua. Dan beneran, bukannya rangking 1, peringkat saya malah turun dibandingkan sebelumnya.

Pernah ikut undian beberapa produk yang hadiahnya gede. Ada mobil ada duit juga. Bayangannya udah kemana-mana…Gimana kalo saya dapet mobil, gimana kalo saya dapet duit. Kalo emang bener dapet saya pengin begini..saya pengen begitu. saya janji kalo dapet duit saya mau ngasih si Ini…saya mau ngasih si Itu. Dan akhirnya…nggak dapet apa-apa. Nggak mobil, nggak juga duit.

Banyak hal yang tidak bisa saya miliki. Padahal saya sudah pengen setengah mati. Ikutan lomba, pengen menang, nggak pernah menang. Mau dapet job, terus dibatalin, akhirnya nggak jadi dapet duit tambahan, adalah beberapa hal yang sudah sering saya alami. Ditawarin kerjaan, tapi kemudian nggak jadi dikasih, juga udah sering. Kecewa..kecewa dan kecewa.

Lama-lama kecewa saya jadi agak sedikit kebas sama yang namanya angan-angan dan harapan. Kadang-kadang udah sampai ke tahap nyerah dan nggak mau berharap lagi. Karena takut kecewa untuk yang kesekian kali. Hihihihihi.

..

ternyata memang benar, menjalani semuanya apa adanya, berharap secara proposional, bisa mencegah kita jatuh dalam kekecewaan yang terlalu dalam. Bukan pesimistis dan apatis juga sih sama yang namanya mimpi, tapi biar nggak muluk-muluk itu juga penting. Soalnya kalo udah kecewa, saya ini orangnya jadi cenderung pemalas. Males buat ngelanjutin apa yang sudah saya kerjakan dan nggak berhasil baik. atau males buat ngerjain tugas yang sama, yang saya kira akan menghasilkan lebih banyak tapi ternyata nggak seberapa – menurut ukuran saya tentunya.

Makanya sekarang saya mau belajar percaya, kalau emang bukan rejeki saya, nggak usah dibuat sedih. Nggak usah dipikirin ampe kurus.

Ikut lomba dan nggak menang…ya wis, yang penting udah berpartisipasi.

Dikasih duit terus duitnya ilang…ya wis, emang dasar sayanya saja yang nggak teliti.

Ditawarin job terus nggak ada tindak lanjut…ya wis, mungkin emang bukan jatah saya, bisa jadi itu jatah orang lain yang lebih mampu.

kehilangan sesuatu..ya wis, mungkin emang sudah bukan jodoh saya lagi. sudah saatnya hilang mau apa lagi…?

Ditinggal kawin sama mantan..ya wis, emang udah jelas bukan soulmate saya, terus ngapain juga kudu maksa?

Intinya, saya ini memang datang tanpa apa-apa, jadi kalo emang terus nanti nggak punya apa-apa ya nggak boleh terlalu sedih juga. Toh saya sudah memanfaatkan waktu untuk mencoba? Jadi kalo emang belum rejeki, mau apa lagi?

Mungkin rejekinya ada ditempat lain?

Mungkin rejekinya bisa dalam bentuk lain?

Mungkin dengan nggak mendapatkan apa yang kita ingin itu juga merupakan sebuah rejeki?

kita nggak pernah tahu.

Yang pasti, hidup ini memang butuh mimpi, butuh berharap. Tapi kalo luput harapannya ya kudu siap-siap kecewa.

Karena kalo belum rejeki..ya sudah.

When you got nothing, you got nothing to lose…(jack Dawson – Titanic)

Published in: on November 15, 2011 at 1:46 pm  Leave a Comment  
Tags: , , , , , , ,

Post #87 Mau Jadi Tua Yang Seperti Apa?

Saya percaya, bahwa setiap kejadian itu PASTI ada alasannya. sudah ada yang ngatur, kenapa kita tiba-tiba pengen sesuatu, kenapa tiba-tiba kita pengen ngambil jalan yang nggak biasanya. Disana pasti ada sesuatu untuk kita.

Contoh kasus pagi ini, eh tiba-tiba pengen sarapan di warung sebelah belakang kos, udah lama nggak kesana. Untuk pergi ke warung itu ada 2 cara, yang pertama, lewat belakang, tapi kudu permisi sama ibu kos. Yang kedua bisa keluar gerbang utama dan muter ke TKP. Sebenarnya males kalo mesti ketemu ibu kos dan ber-haha-hihi tapi cara yang pertama  ini yang sering saya lakukan.

Tadi pagi saya udah mau keluar gerbang dan muter, tapi tiba-tiba saya urung dan milih ketemu ibu kos. Dasar rejeki, ibu kos lagi masak bistik daging – ehm.memasak ulang sih lebih tepatnya, menghangatkan bistik yang sudah sehari kemarin jadi. Saya dikasih sampai semangkuk penuh..Ya, tinggal beli nasi aja kalo begini. Coba kalo tadi saya jadi muter, saya kan nggak bakal ketemu ibu kos? saya juga nggak bakal dapet bistik sapi buatan beliau?

Contoh kasus yang kedua, kemarin, entah kenapa, dari kos saya mengambil jalur ke studio yang nggak biasanya. saya muter lewat jalan belakang. Tadinya sih emang pengen ngehindarin banyaknya lampu merah, tapi ternyata sih sama aja, jalur disana malah lebih macet dari jalur utama. Hahaha.

BTW, ditengah perjalanan saya melihat seorang bapak-bapak tua duduk di kursi roda dan didorong sama Nanny-nya jalan-jalan. Bapak ini badannya sih sepertinya masih segar, tapi mungkin beliau habis kena stroke. Soalnya wajahnya khas, agak perot ke kanan.

Cuma sekilas saja saya melihat, tapi kemudian saya jadi kepikiran. Kelak, kalau saya sudah tua, saya mau jadi manusia tua yang seperti apa ya?

Jadi tua itu pasti. Mau ke ujung dunia nyari obat awet muda juga, nggak bakalan bisa. Tua itu pasti. Mati apalagi. Makanya saya jadi ngebayangin masa tua saya kelak. Sebenarnya sih saya sudah mulai mengurangi soal mikir masa depan yang belum pasti juntrungnya. Tapi untuk yang satu ini terkadang saya masih suka berangan-angan. Apalagi kalo abis ngalamin kejadian kayak tadi. Ngeliat orang yang udah sepuh, pasti saya langsung mikir, “Ndak Tuoku mengko koyo ngono?”

Amit-amit ah…

saya pengen jadi manusia tua yang tetep sehat, nggak sakit-sakitan, bugar dan masih bisa melakukan banyak hal. Pengennya sih begitu. Tapi melihat gaya hidup saya yang sekarang kok saya jadi agak ragu ya? Makan nggak teratur – dalam artian jumlah sama jenisnya :-D , abis itu males olahraga, nggak begitu aktif, dan berat badan cenderung stabil,  stabil nambahnya..ah, saya jadi agak takut. Sungguh saya takut.

Saya nggak pengen ngerepotin orang lain. Sungguh. Saya bermimpi jadi orang tua yang bebas kemana-mana, masih bisa keliling jalan-jalan, melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa harus tersiksa karena demensia, dan bahagia tentunya.

itulah kenapa, beberapa hari ini saya jadi memikirkan kembali prioritas saya pada kesehatan. Jujur, beberapa tahun ini semuanya berubah. Masa-masa galau yang berakhir membuat saya doyan makan – apa saja! Tidur juga malem melulu karena kebanyakan kencan, :-D dan sungguh, tidak ada kebiasaan sehat yang saya lakukan.

terkadang saya sadar betapa melelahkannya gaya hidup ini, tapi memang susah untuk kembali ke jalur yang benar. saya sudah tidak lagi bisa naik tangga sambil lari, saya sudah tidak segesit dulu, itulah kenapa kemudian banyak bayangan-bayangan aneh tentang masa tua saya kelak.

Aduh! saya harus berubah! Saya harus sehat! saya masih punya banyak mimpi! dan mimpi-mimpi itu pengen saya nikmati sampai tua!

itulah kenapa, doa saya selalu adalah

“I Wanna live Wealthy, Healthy and Happy!”

Post #85 I Wanna Have A Life

Judulnya agak aneh…tapi saya memang sedang ingin punya “kehidupan”. Hidup yang lebih hidup. Hidup yang punya banyak sekali cerita untuk dibagi. Hidup yang lebih berwarna untuk dinikmati.

Hidup saya kadang hitam kadang juga putih, nggak jarang juga abu-abu. :)

Baru saja berselancar dari satu blog ke blog yang lain, menikmati beragam cerita yang LUAR BIASA! Banyak hal terjadi di luar sana dan semuanya tertangkap oleh mata, terekam oleh memori dan tersaji dalam banyak cerita. Sesuatu yang mampu membuat saya tersenyum, tertawa, terharu bahkan kadang-kadang ingin ikut menangis..

Ah, seru sekali. Seandainya saya juga bisa menangkap banyak momen seperti itu pasti rasanya hidup saya akan “kaya raya”

Itulah kenapa, akhir-akhir ini saya terpikir untuk melakukan “sesuatu”

Sesuatu itu….adalah…Bangkit dari Kemalasan…

selama ini saya merasa lebih banyak malas untuk menikmati hidup dan melakukan banyak hal karena terpenjara oleh pikiran sendiri. ada banyak hal di luar sana yang sebenarnya ingin saya nikmati. Tapi terkadang saya terlalu takut.

Ah, harusnya tidak seperti itu ya?

Saya

ingin

lebih

hidup

…ya…

H I D U P!

Published in: on November 7, 2011 at 3:04 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Post #82 About Being Better Than The Other

Satu hal yang selalu ingin saya hindari adalah menyombongkan diri (secara harfiah, benar-benar sombong) dan merasa diri saya lebih baik daripada orang lain. Dalam banyak hal. Hal apapun.

Tidak…saya tidak ingin seperti itu.

Bukan berarti ketika teman-teman saya banyak dan mereka adalah orang-orang yang pintar, lalu saya merasa lebih pintar dari mereka yang tidak menjadi teman saya..

Bukan berarti ketika teman-teman saya banyak dan mereka adalah orang-orang yang relijius, lalu saya merasa lebih ber-Tuhan dibandingkan mereka yang tidak menjadi teman saya…

Bukan berarti ketika saya berkumpul dengan orang-orang yang punya visi dan pandangan luas, lalu saya merasa lebih bervisi dibandingkan mereka yang tidak menjadi teman saya..

bertumbuh itu tidak lantas mengecilkan pihak lain…

berubah itu tidak  lantas memandang rendah pihak lain…

menjadi baik itu tidak lantas melihat dengan picik pada pihak lain…

itu yang selama ini ingin saya hindari…

Baiklah, orang bisa saja menentukan sikap dengan sangat tegas. Tapi terkadang, mereka lupa bahwa mereka pernah menjejak tanah yang sama, menghirup udara yang sama, bercanda bersama, berbagi bersama, susah senang bersama, dan ketika perubahan itu datang…semuanya mendadak berbeda. Lalu memandang hal yang sudah-sudah menjadi sesuatu yang seakan diharapkan tak pernah terjadi..

Saya tidak ingin seperti itu, meski kadang keadaan menggoda saya untuk melakukan itu…

Ah, saya hanya ingin menjadi orang yang bisa berdamai dengan siapa saja, dengan keadaan apapun, tidak mengangkuhkan diri…

Karena toh saya bukan siapa-siapa

Published in: on November 1, 2011 at 10:28 am  Leave a Comment  
Tags:

Post #77 Past – Present – Future

Don’t dwell in the past, and don’t dream a future. Concentrate the mind on the present moment. (Buddha)

..

Sebagai anak yang tumbuh dengan banyak kata-kata yang “degrading” saya terbiasa hidup dalam kecemasan. Berbagai macam pertanyaan sering muncul ketika saya hendak melakukan sesuatu.

“apakah saya bisa?”

“apakah saya mampu?”

“apakah saya layak?”

dan kemudian saya akan menjadi seorang pemikir…yang khawatir.

..

Banyak hal yang kemudian saya lewatkan, karena saya terlalu memikirkan apa yang orang pikirkan. Dan ini melelahkan.

Dulu ayah selalu meng-counter apa yang coba saya ingin lakukan. Dan sekarang, saya melakukannya pada diri sendiri.

Masa lalu membentuk pribadi…

Saat ini muncul pertanyaan yang kurang lebih sama…lagi dan lagi.

Seharusnya saya tidak perlu memikirkan banyak hal terlalu jauh, tapi menikmati apa yang ada sekarang. Mencoba melakukan yang terbaik saat ini.

Tapi…lagi-lagi, pertanyaan itu sering muncul begitu saja.

“Bagaimana jika….?”

and many more……..

Tapi terkadang, untuk hal-hal seperti ini saya cukup hanya tersenyum dan mengatakan pada diri saya…

Nikmati….Nikmati….selama masih ada dan tersisa…

karena hal seperti ini, tak akan selamanya ada…

enjoy the moment, at the present…

forget the past, and don’t dream the future.

Published in: on October 18, 2011 at 11:58 am  Leave a Comment  
Tags:

Post #75 Hidup Saya Adalah Tentang Keluarga

Akhir-akhir ini saya sering bertanya tentang makna dari hidup. Hidup saya tentunya. Ada banyak pertanyaan berseliweran,tapi satu yang cukup mengganggu.

“Untuk apa saya hidup?”

Terkadang,ketika pertanyaan itu muncul,saya bisa jadi sangat sedih. Mengingat hampir 30 tahun usia saya,saya merasa tidak banyak hal baik yang sudah saya lakukan.

Dan apakah untuk itu saya hidup? Untuk melakukan hal-hal buruk?

Para bijak berkata “selalu saja ada alasan kenapa sesuatu itu ada dan terjadi”. Ada alasan kenapa Tuhan menciptakan bumi dan seisinya. Ada alasan kenapa Adam dan Hawa terbuang dari surga. Ada alasan kenapa dalam hidup ini ada hal baik dan buruk..dan masih banyak lagi alasan akan keberadaan sesuatu,dan terjadinya satu peristiwa. Termasuk eksistensi saya sebagai manusia. Ada alasan,kenapa saya hidup..

Sering kali saya tidak tahu alasan apa yang membuat saya bernyawa hingga saat ini. Jujur saja,melihat banyaknya catatan buruk dalam hidup saya,saya sering merasa lebih baik saya tidak dilahirkan. Sebaiknya saya tidak ada di dunia ini..tapi yang terjadi malah sebaliknya. Saya hidup,bernafas,hingga selama ini. Dan pasti Tuhan punya alasan untuk itu.

Ketika melihat banyak hal yang sudah terjadi,saya sedikit mengambil kesimpulan. Jikalau bukan untuk diri saya,saya pasti ada untuk orang lain. Orang lain yang adalah keluarga saya. Keluarga yang membutuhkan,keluarga yang mungkin kekurangan,keluarga yang barangkali tak mampu melakukan sesuatu,saya ada untuk alasan-alasan itu.

Sungguh,jika berpikir tentang banyaknya masalah yang terjadi,saya seperti ingin menyerah dan melepas tanggung jawab,tapi jika teringat pada banyak hal yang membuat saya harus tetap hidup,saya jadi semangat kembali,setidaknya sedikit.

Alasan-alasan itu yang sering membuat saya berhenti untuk khawatir dan takut. Alasan-alasan tadi yang membuat saya ingin berhenti untuk menyerah dan kembali melakukan sesuatu. Sesuatu yang membuat mereka bahagia.

Karena seringnya “membahagiakan orang lain terlebih dahulu,akan membuat kita bahagia,meski kita yang akan bahagia belakangan”. Hal seperti ini penting buat saya,disaat saya kebingungan mencari sesuatu yang bisa membuat saya senang lebih dulu saya menemukan,membahagiakan orang lain ternyata adalah hal yang bisa memahagiakan saya.

Saya ada karena sebuah alasan..

Saya boleh bilang,semangat saya untuk berbuat yang terbaik saat ini adalah karena ibu saya,adik dan keponakan lelaki saya. Berhubung saya belum menikah,merekalah yang jadi prioritas saat ini.

Apapun…akan saya coba untuk lakukan…apapun…yang baik..untuk mereka..

Maka,ketika suatu saat anda merasa tidak berguna dan sedih,pastikan anda tahu,untuk apa Anda hidup? Demi alasan apa anda harus tetap hidup? Itulah yang bisa jadi pegangan untuk tetap bertahan dan tidak menyerah…

Karena saya tahu…andapun tahu,selalu saja ada alasan untuk sesuatu..termasuk hidup anda dan saya..

Published in: on October 10, 2011 at 7:35 pm  Comments (1)  
Tags: , , ,