berharap semoga semua film ini masuk ke Indonesia, apapun bentuknya. Mau tayang di bioskop, atau dalam bentuk VCD or DVD original.
tapi tetep..saya pengennya nonton di bioskop.
berharap semoga semua film ini masuk ke Indonesia, apapun bentuknya. Mau tayang di bioskop, atau dalam bentuk VCD or DVD original.
tapi tetep..saya pengennya nonton di bioskop.
Akhirnya, satu lagi film yang pernah saya pajang trailernya di blog ini, bisa saya tonton. Kemaren-kemaren udah nonton Machine Gun Preachers – yang nggak saya posting reviewnya, dan semalam saya nonton MI 4 : Ghost Protocol di Paragon XXI semarang.
Dulu, jaman-jaman serial film ini tayang di TV – waktu itu RCTI, tayang tiap Rabu atau kamis malam kalo nggak salah, saya pasti nonton rame-rame bareng sama tetangga-tetangga. Secara nih, keluarga saya adalah termasuk yang punya TV berwarna lebih dulu dibandingin yang lain. Nggak nyombong…wong cuma TV 14 inchi kok. Hehehe.
Di mata saya, Mission Impossible itu keren banget. Apalagi kalo sudah sampe pada adegan nyamar-nyamar segala. Wuih! tsk..tsk..tsk…
Nah, pas Mission Impossible diangkat ke layar lebar, saya masih belum jadi seorang penikmat film di Bioskop. Masih “piyik”. Masih nggak ngerti. Makanya kelewat. Mission Impossible 2 pun begitu. Dua-duanya cuma bisa saya tonton di VCD. Itupun yang seri 2 awalnya lewat VCD Bajakan yang gambarnya udah masuk kategori lumayan. Nggak miring-miring dan nggak ada intermezo kepala orang nongol ditengah-tengah layar.
Baru pas yang ketiga dan keempat ini saya sudah bisa nonton di bioskop. Mungkin karena sekarang saya udah pindah ke semarang, dimana fasilitas juga udah mendukung. Jaman saya di pekalongan dulu, bioskop cuma 2. Itupun yang satu bangkrut. sementara cinema 21nya muterin cuma film itu-itu aja. Masih dalam era serbuan film-film erotis dalam negeri. Hihihi…
Walopun yang 2 itu kelewat, tapi seenggak-enggaknya saya ngelihat gimana perkembangan Ethan Hunt dari jaman film yang pertama. Seiring dengan bertambahnya umur Tom Cruise, ethan hunt mau nggak mau juga berubah. Dan perubahan ini cukup terlihat. Dia jadi lebih tangguh, lebih dewasa, lebih keliatan seniornya dan leadershipnya jadi lebih menonjol.
Sama kayak tokoh-tokoh agen spionase lain macam James Bond, atau Jason Bourne, makin kesini Ethan Hunt juga lebih matang. Dan nggak tahu ya, saya jadi ngebandingin sama film-film james bond jaman Pierce Brosnan dan Daniel Craig. di Mission Impossible 4 ini nuansanya juga kerasa kayak gitu. Apa adanya. Dan beneran jadi impossible to do.
Gimana enggak, kali ini nggak ada acara nyamar pake topeng segala macem. Teknologinya juga seadanya – walo tetep aja paling canggih.
Di MI4 ini ceritanya IMF dibekukan. Tapi kelompok agen spionase ini masih punya satu misi yaitu mencegah seorang teroris yang ingin mengadu domba amerika dan rusia dalam perang nuklir. (selalu jadi tema menarik nih perang amerika dan rusia). Maka dibentuklah Ghost Protocol yang dipimpin oleh Ethan Hunt dan beberapa orang yang jadi anggotanya. ada Benji si pakar tekhno. Terus Jane si cantik tapi jago gebuk sana sini. Ditambah satu personil yang mantan agen juga, si William Brandt – yang konon kabarnya nanti di film-film selanjutnya (kalau ada) bakal ngegantiin Ethan Hunt.
Mereka harus menghentikan aksi Kurt Hendrick alias Cobalt sang teroris. Dari Rusia sampai ke Dubai, lanjut ke India, team Ghost Protocol ini harus menghadapi sejumlah musuh tangguh dan berpacu dengan waktu untuk mencegah misil nuklir diluncurkan.
Jawabannya sih pasti bisa lah, itu udah keliatan banget di plotnya. Cuman ya…kita sih nggak ngeliat kesananya. Its not about the result, its about the process. Ya nggak?
Mission impossible 4 diplot lebih manusiawi dan lebih normal. Dalam artian, Ethan dan kawan-kawan harus beraksi tanpa dukungan IMF seperti sebelumnya. Mereka harus jalan sendiri dengan bekal seadanya. Bahkan dibeberapa rencana, semuanya kacau gara-gara nggak ada back up yang kuat. Tapi dasar emang jagoan, masalahnya bisa diselesaikan dengan baik.
Film ini lebih intens daripada sebelumnya. adegan aksinya bisa terjaga dari awal sampai akhir. Serius. Nggak ada kesempatan buat kita bangun dari tempat duduk dan pergi ke toilet buat pipis. Karena sayang banget. Adegan aksinya bener-bener simultan. Sayang kalo ditinggalin ke toilet.. APALAGI MAINAN HAPE! STUUUUUUPIIIIIDDD!!!!
Banyak adegan seru. Yang paling menegangkan tentu aja di Hotel Burj Khalifa yang tinggi abiiis! si Ethan harus bergantungan di ketinggian dan buat yang takut ama ketinggian, seperti saya, adegan ini breath taking banget. denger-denger sih Tom Cruise ngelakuin ini beneran lho di Burj Khalifa, tapi tetep pake kawat yang dihapus gambarnya, jadi nggak kelilatan waktu di filmnya.
Ada ciri khas yang selalu muncul di film mission impossible. Setidaknya ciri-ciri ada di 2 film terakhir. atau malah gabungan dari beberapa adegan dari film yang dulu-dulu.
Yang pasti sih Mission Impossible kali ini lebih komplit dengan kehadiran Benji Dunn yang diperankan sama komedian asal Inggris Simon Pegg. Tingkahnya yang kocak memberikan kesegaran tersendiri buat film spionase ini.
cuma satu yang menurut saya agak kurang…pemilihan Cast buat villainnya yang menurut saya agak kurang tepat. Atau karakter villainnya yang nggak terlalu menonjol?
Ngelihat aksi Michael Nyqvist di trilogy Millenium dan terakhir nonton dia di Abduction bikin saya ngerasa nih bajingan kurang greng aja jadi bajingan. Kalau mau digambarkan sebagai seorang psikopat yang dingin, kok rasanya juga kurang greget. Nggak menimbulkan ketakutan. Kurang sadis. Nggak seperti villain di ketiga film sebelumnya.
Bandingin dengan MI 2 atau MI 3 dimana Philip Seymor Hoffman jadi penjahat. Rasanya tuh dingin dan kejam. Lha si Michael Nyqvist ini nggak begitu. Apalagi jadi inget karakternya di Abduction, yang dibilangnya penjahat kejam dari serbia, tapi apa hasilnya? Akh…nggak semenakutkan itu sih saya rasa….
Padahal sebenarnya kalo karakter villainnya ini bisa dibikin lebih kejam lagi, pasti aksi Ethan Hunt dan timnya juga bakalan kerasa lebih seru lagi karena ngedapetin perlawanan yang luar biasa tangguh. si villain ceweknya sabine Moreau juga gitu. Centil dan dinginnya sih udah dapet, tapi sebagai cewek yang diincar sama Jane karena udah membunuh kekasihnya, scene nya kerasa kurang. Eh…tiba-tiba udah jatoh aja dari lantai atas Burj Khalifa.
Tapi ya tetep aja sih MI4 ini tetep keren. Dan sayang kalo dilewatin gitu aja terus nunggu filmnya di VCD or DVD. Addduuhh…nonton dibioskop deh….LEBIH SERU!
Masih inget sama film ini kan? Saya pernah posting kalo saya pengen nonton, tapi berhubung distributor film Indonesia tidak melihat The Help sebagai film yang cukup komersil untuk bisa mendatangkan penonton dan mendatangkan untung, akhirnya berlalu begitu saja tanpa sempat nongol di bioskop, terutama di Semarang.
Nggak nyalahin sih…dizaman susah begini, dibutuhkan dari sekedar review dan pujian-pujian kritikus untuk bisa membawa penonton berbondong-bondong datang ke bioskop dan membeli tiket. Apalagi The Help ini mungkin termasuk film Drama yang dinilai cukup membosankan bagi banyak orang. Nggak nyalahin lagi nih, penonton bioskop indonesia sekarang – kalau menurut penilaian pribadi – lebih menginginkan film yang kolosal, heboh, penuh dengan adegan action, atau kalo yang romantis, sekalian model Twilight. Itupun karena ketolong euforia dari mulut ke mulut. Semakin trendi, semakin bikin orang penasaran. Padahal makin kesini, makin membosankan. Saya saja, yang menonton 2 instalment sebelumnya, sama sekali tidak tertarik melihat kisah Bella dan Edward. Saya tahu filmnya akan lebih membosankan dibanding yang sudah-sudah…
Sebenarnya saya malu mengakui kalau saya menonton film ini lewat DVD bajakan. Tapi percayalah, saya rela membeli orisinilnya kok kalau desember nanti rilis. Menurut info sih begitu…
Ini lebih karena penasaran dan nggak sabar aja sih, akhirnya saya melanggar ucapan saya tempo hari kalau saya akan berhenti membeli DVD bajakan karena kalau dipikir-pikir, barang yang satu ini jatuhnya nggak collectible. Menurut pengalaman, ternyata data yang ada di DVD bajakan akan hilang pelan-pelan dalam jangka waktu tertentu. Alih-alih ingin mengoleksi, membeli DVD bajakan justru tindakan yang buang-buang duit. Mending beli yang orisinil, bisa lebih tahan lama.
Kecuali kalo kepepet…hihihihi. *ngeles*
Yang ini juga bikin saya mepet. The Help adalah film yang diangkat dari novel karya Kathryn Stocket yang dicetak pada tahun 2009. Ceritanya sendiri berlatar belakang era segregasi antara kulit putih dan hitam di Jackson Missisipi disekitar tahun 60-an. Settingnya sih mengambil waktu deket-deket perjuangan Hak Asasi oleh Martin Luther King Jr, jadi pembauran antara kulit putih dan hitam sudah hampir terjadi, meskipun disana-sini masih ada tindakan-tindakan diskriminasi.
The Help adalah sebutan bagi para “maid” atau Pekerja Rumah Tangga. Waktu itu banyak wanita kulit hitam bekerja sebagai pembantu di rumah orang-orang kulit putih. Ini adalah pekerjaan yang bisa dibilang hanya satu-satunya pilihan, dan menjadi profesi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Para PRT ini termasuk juga Aibileen Clark dan juga Minny Jackson yang bekerja di keluarga kulit putih yang berbeda. Aibileen mengasuh anak perempuan dari keluarga Leefolt dan Minny bekerja pada Hilly Holbrook, perempuan muda yang tidak pernah menyukai kulit hitam dan hanya memandang mereka sebagai budak.
Hilly Holbrook termasuk keluarga terpandang disana, jadi apapun yang menjadi keinginannya adalah sebuah titah yang tidak bisa ditolak oleh banyak orang, termasuk keluarganya sendiri. Hilly punya sebuah ide untuk semakin menjauhkan warga kulit hitam dari kesetaraan. Para pembantu tidak boleh melanggar banyak aturan termasuk menggunakan toilet keluarga karena dikhawatirkan menularkan penyakit tertentu. Hilly pun membuat sebuah petisi yang salah satu isinya adalah bahwa PRT harus menggunakan toilet yang terpisah dengan toilet keluarga.
Adalah Eugene Phelan atau yang biasa dipanggil Skeeter, teman Hilly Holbrook yang tidak melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Dia melihat ada banyak tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Skeeter yang seorang jurnalis mulai mengumpulkan banyak cerita dari Aibileen dan Minny tentang bagaimana kehidupan mereka sebagai seorang The Help. Tujuannya adalah supaya orang melihat sisi lain dari hidup pembantu rumah tangga sekaligus menunjukkan sikap salah dari banyak keluarga kulit putih terhadap warga kulit hitam.
Awalnya Aibileen dan Minny tidak setuju dengan ide ini mengingat ada banyak kejadian buruk karena isyu persamaan hak ini. Tapi kemudian mereka berdua berani untuk mengungkap kebenaran dan banyak skandal yang terjadi, meski dengan satu syarat, bahwa ini akan menjadi sebuah cerita fiksi demi alasan keamanan. Bahkan kemudian tidak hanya mereka, tapi banyak dari Pembantu Rumah Tangga yang berani untuk buka mulut dan mengungkap cerita mereka masing-masing.
Cerita-cerita sedih dan lucu pun terkumpul, termasuk cerita masa kecil Skeeter bersama dengan “maid” tercinta keluarga mereka Constantine yang juga mengalami diskriminasi. Dan akhirnya, Skeeter mengirimkan kumpulan kisah ini ke penerbit dan buku berjudul The Help pun dirilis, termasuk di Jackson. Dan terungkaplah skandal warga kulit putih, termasuk skandal Hilly Holbrook. Apakah itu?
you better watch this movie by your self…
The Help mungkin akan masuk ke dalam ajang Oscar tahun depan. Selain karena sukses secara komersil, dimana bujet 26 juta dollar berbuah 196 juta lebih, secara cerita dan kualitas akting dari pemerannya pun tidak perlu diragukan. Emma Stone, tetep kelihatan tengil dan lucu disini, meski saya cuma suka scene terakhirnya pas lagi bertengkar dengan ibunya. Yang jadi spotlight adalah Viola Davis dan Octavia Spencer yang chemistrynya pas banget. Sahabat yang punya kisah sedih yang sama dan saling menjaga, betul-betul kerasa banget. Dan, oh i love Minny…she’s a real BIG MOMMA!
Dan saya juga suka dengan karakter Hilly Holbrook, seharusnya dia juga dapet kredit tersendiri. Bryce Dallas Howard mampu memerankan Hilly Holbrook yang meski wajahnya sendu merayu tapi dia mampu menampilkan sosok Hilly yang kejam sekaligus rapuh dengan cukup baik.
Saya yakin The Help akan berjaya di Oscar tahun depan. Setidaknya ada 1 yang bisa dibawa pulang. Kalau nggak supporting actress, ya best movie lah ya? secara tahun ini kayaknya nggak banyak ya film-film yang bertema drama yang cukup menarik dan sukses secara komersil dan kritik juga. Mungkin Moneyball atau Tree Of Life bakal jadi saingan. Tapi kans The Help saya rasa lebih besar. Kita lihat saja nanti.
Yang lain nonton bola, saya nonton Tin Tin.
Bukan saya nggak nasionalis, tapi saya emang nggak suka nonton bola. Maaf ya? Tapi saya berharap kok Tim Garuda akan jadi juara. Tapi sayang kalah sama Malaysia. Tapi nggak papa, mungkin benar apa yang orang bilang, hasil bukan yang terpenting, tapi bagaimana usahanya. Dan usaha Timnas semalem (katanya) sih memang sudah maksimal.
Semalem itu ceritanya mau nonton TinTin yang 3D, tapi nyari Taxi buat ke Paragon itu susahnya minta ampun. Katanya sih kosong melulu, tapi saya kira, supir taxinya lagi nggak pengen narik penumpang karena mau nonton Bola. Hahahaha. oke-oke, nggak apa-apa.
Akhirnya saya “mbecak” ke E-Plaza buat nonton yang 2D. Agak nyesel sih, tapi ya wislah, daripada nggak sempet nonton.
Saya sendiri tidak terlalu akrab dengan tokoh karya Herge ini. Tapi seenggaknya saya tahu siapa itu Tintin dan snowy. Wartawan berjambul yang selalu beruntung, terlibat dalam kasus-kasus menarik. Nah, Tintin yang saya tonton semalem itu judulnya secret Of The unicorn. Ini juga diangkat dari salah satu judul komik Tintin yang terkenal.
Ini termasuk buku Tintin yang seri-seri awal sepertinya karena Tintin juga diceritakan baru kenal sama Kapten Haddock dan 2 polisi kembar kikuk Thompson dan thomson.
Kisah dimulai dari Tintin yang membeli sebuah model kapal bernama unicorn seharga 1 pound. Nggak lama kemudian ada seorang yang menawar dengan nilai lebih tinggi untuk kapal yang baru saja dibeli oleh Tintin. Tapi dia menolak dan nggak ngerti kenapa kapal itu begitu berharga. Dan benar saja, ternyata kapal tersebut adalah satu dari 3 kapal yang saling berhubungan dimana didalamnya terdapat sebuah petunjuk menuju lokasi harta karun.
Salah satu orang yang menginginkan kapal tersebut adalah Ivan Sakharine. Dia sendiri sudah memiliki satu model kapal tersebut dan membutuhkan 2 lainnya supaya bisa menemukan petunjuk harta dengan lebih jelas. Dia menyuruh orang untuk menculik Tintin dan menyekapnya disebuah kapal bernama Karaboudjan. ternyata kapal itu adalah kapal milik seorang kapten Pemabuk yang bernama Haddock. Kapten Haddock sendiri tidak sadar bahwa kapalnya telah dibajak sampai kemudian Tintin memberitahunya saat kapal itu membawa mereka ke Bagghar.
Di Bagghar sendiri terdapat 1 model kapal lainnya yang dimiliki oleh Omar Ben Salad, pemimpin Bhaggar yang kaya raya. Model kapal tersebut disimpan dalam sebuah lemari kaca yang anti peluru. Ternyata Ivan sakharine sudah menyiapkan rencana jahat untuk mengambil model kapal ketiga.
Apakah Tintin berhasil mencegah niat jahat Ivan sakharine? dan rahasia apa yang sebenarnya tersimpan dalam petunjuk didalam kapal Unicorn? Dan rahasia-rahasia apa lagi yang akan terungkap?
eh, pertanyaan saya kok jadi kayak pertanyaan-pertanyaan editorial di ulasan-ulasan film ya? hihihihi. Yang pasti film Tintin ini cukup lumayan buat ditonton, meski sebenarnya juga nggak cocok ditonton anak-anak karena adegan kekerasan dengan senjata apinya. Teknologi animasi yang digunakan juga bagus. Jadi berasa nyata, apalagi kalau ditonton dilayar 3 dimensi. detailnya luar biasa.
Ceritanya sendiri mungkin juga nggak melenceng jauh dari isi komiknya. Tapi tentu saja humornya jadi lebih terasa dibandingkan bukunya. sungguh, saya suka karakter Kapten haddock yang meski seorang pemabuk tapi punya integritas tinggi. Saya rasa andy serkis memerankannya dengan baik. Oh ya, daniel Craig juga keren, ternyata dia punya bakat jadi seorang Dubber.
Ah, saya mah nggak pinter kalo suruh ngereview sesuatu.
tapi saya cuma bisa bilang film ini bagus!
Nanti, tinggal nonton Contagion…Breaking Dawn? Nggak deh…
Cengoh, nggak ada kegiatan, perlu sebuah spontanitas untuk bisa mengisinya dengan sebuah kegiatan yang menyenangkan. Pulang kerja, disambut kejadian yang tidak menyenangkan – tapi kemudian masalahnya beres, saya punya ide untuk pergi nonton. Bareng sama sodara satu kos, saya gerak cepat mewujudkan ide saya..hahaha.
Padahal semalem itu udah jam 9 lebih 15 menit, filmnya main jam setengah sepuluh. Ditambah lagi situasi jalan raya seputar Simpang Lima macet dan ditutup karena sedang ada acara besar, saya dan @syakirachyar mencari jalan tikus untuk bisa masuk ke parkiran gedung. Belum beli tiket pula, sempet khawatir kalo filmnya udah main, atau parah-parahnya kehabisan tiket padahal sudah susah payah.
Eh tapi, kami cukup beruntung, dapet spot nonton yang enak dan nggak telat pula. Pas nyampe didalam teater, trailer film-film lawas itu sedang diputer. Teeeettt!! Tidak tertarik. Udah nonton di Star Movies. Dan film utamanya pun dimulai.
I’m not a big fans of Hugh Jackman, but i can say he’s good.
Real Steel is a movie about robot, boxing, family, and love. Ngeliat traillernya tempo hari saya jadi pengen nonton film ini. Hugh Jackman, dapet peran sebagai pensiunan petinju bernama Charlie Kenton. Sama seperti para penonton yang senang bertaruh pada pertandingan tinju yang mereka nikmati, hidup Charlie sendiri penuh dengan pertarungan dan pertaruhan. Punya hutang disana-sini, dikejar-kejar debt collector, udah jadi santapan sehari-hari.
Suatu waktu di tahun 2020, manusia sudah tidak lagi menikmati pertandingan tinju Konvensional. between man to man, but there’s a robo boxing in that time. Baja-baja tebal itu beradu kekuatan dengan pengendali jarak jauh yang dimainkan oleh tuannya. Dan Charlie pun terlibat dalam bisnis Robo Boxing ini.
Saat nasibnya sedang tidak baik, Charlie harus menghadapi kenyataan bahwa mantan pacarnya – yang ditinggalkan dengan seorang anak, meninggal. Anak semata wayangnya, Max Kenton, pun menjadi tanggung jawab si ayah biologis. Hubungan mereka kemudian berlanjut dengan sangat cepat dan ternyata Max juga punya ketertarikan yang sama dengan Charlie.
Disuatu malam, ketika mereka berdua menyelinap ke sebuah gudang penyimpanan bangkai suku cadang Robot, Max menemukan sesosok robot yang terkubur dalam tanah. Max percaya bahwa robot ini bisa menjadi robot yang hebat. Namanya Atom. Dan benar saja, meski Atom adalah bukan robot tipe petarung, tapi dengan niat dan kegigihan Max, Atom bisa menjadi robot yang luar biasa.
Ceritanya sampai juga ke pertarungan robot, drama pertandingan diatas kanvas, dan menang-kalah kemudian jadi hal yang seru.
Real Steel is an AWESOME movie! Digarap dengan kesederhanaan cerita, kecepatan alur, dan kemampuan mengaduk-aduk emosi, membuat film ini menjadi luar biasa dimata saya. Tidak ada yang istimewa dari desain robot di Real steel ini. Robot juga tidak menjadi tokoh utama, lain halnya dengan Transformer. Saya pikir, Real Steel akan jadi seperti film satu itu. Yang penuh dengan adegan blegedar-blegeder. But this is different.
Bisa jadi karena Shawn Levy yang duduk di kursi sutradara. Dia memang sudah terbiasa dengan film bergenre drama fantasi keluarga. Masih inget Night At The Museum? Nah..itu salah satu karyanya. begitu pun Real Steel. Nuansa film drama keluarganya tetap terasa. Terlebih lagi tokoh Max yang cerdas, dan cenderung cocky dan percaya diri seperti ayahnya, mampu menjaga emosi penonton, ehm..saya maksudnya. Nggak tahu dengan yang lain
Nonton film ini saya jadi inget sama film Champ yang pernah saya tonton di Metro TV bertahun-tahun yang lalu. Kalo nggak salah film itu dibintangi sama John Voight, ayah dari Angelina Jolie dan Ricky Schoerder. Wuih, nonton film itu bikin saya nangis sengguk-sengguk. Eh tapi, Real Steel nggak sampai bikin saya segitunya. Walau iya juga bikin saya terharu.
Hubungan ayah dan anak, tinju, dan drama keluarga, adalah ramuan yang hampir mirip dari keduanya. hanya saja Champ minus robot tentunya.
Yang pasti spesial efeknya lumayan mumpuni. Ada Steven Spielberg dikursi produser juga, saya rasa film ini memang A Real Deal To Watch!
and please…nonton di Cinema aja..lebih seru!
update : saya kasih clip film The Champ – ini ending scene-nya..kasih tahu ya…anda nangis nggak lihat scene ini?
semalem akhirnya saya nonton film ini di E-Plaza semarang. Sendirian. Ah- udah lama nggak jalan-jalan dan nonton sendiri.
saya nonton yang jam 7.50 malam. Nggak rame kok. Bisa dapet kursi yang paling atas nyempil di antara pasangan-pasangan mesra dan seorang bapak dan anak remajanya. Suer..ini bapak anak…bukan yang lain.
FD 5 ini..opening scene-nya mengingatkan saya pada franchise Final Destination 4 yang saya tonton di teater yang sama tahun lalu.
Dari segi cerita sih, mau dari pertama sampai terakhir, ceritanya ya gitu-gitu aja. Diawali dari premonition tokoh utamanya, abis gitu ada kecelakaan, survivor, dan sang malaikat kematian yang “tidak rela” dirinya dicurangi menuntut balas dengan mengambil nyawa sang survivor satu persatu.
Saya termasuk yang ngikutin film FD dari 1-5. Dan memang, nggak bisa disangkal, film pertamanya tidak bisa disaingi dengan sequel-sequel selanjutnya. Meski begitu, orang selalu penasaran dengan apa yang akan mereka lihat dari film ini, karena toh mereka sudah tahu bagaimana story line film ini.
Kalau di film pertama proses kematiannya berjalan menarik dan digambarkan cukup realistis, mulai dari seri yang kedua hingga terakhir, kematian ditampilkan dengan proses yang lebih mengerikan, darah muncrat dimana-mana, dan bahkan kadang terlihat konyol dan nggak masuk akal.
Dan sebenarnya ini adalah satu-satunya nilai jual dari film horror yang satu ini, membuat penonton penasaran dan deg-degan melihat adegan-adegan kejutan.
Tapi sungguh, selesai menonton FD 5 saya merasa ini adalah cara yang cerdas untuk mengakhiri rangkaian film Final destination. saya tidak berharap film ini akan seperti SAW yang hampir bisa dibilang jadi seperti film seri.
And you know what..ternyata FD 5 ini adalah PREQUEL dari FD 1!!!!! Damn SHIT!! this is so awesome!
menurut saya ini cara cerdas! untuk mengakhiri perjalanan FD selama ini…i hope nggak ada lagi FD lainnya di tahun2 depan. But you know hollywood, money makes everything possible.
Oh ya, ceritanya bermula ketika rombongan karyawan muda hendak melakukan retret bisnis yang diadakan di tempat mereka bekerja. Ketika sampai di sebuah jembatan gantung, jembatan itu runtuh dan ada beberapa dari mereka yang selamat. Dan kemudian berlangsunglah pembalasan dendam dari sang maut.
Dan ternyata….mereka ini adalah tokoh2 di tahun 2000, bahkan sebelum tokoh2 di FD 1 mengalami hal yang sama, karakter2 di FD 5 ini mengalami hal yang sama. Dan pesawat yang meledak di udara di adegan FD 1, ditumpangi oleh karakter yang ada di FD 5 ini.
Bingung??? nonton sendiri saja dan semoga anda sama senangnya dengan saya.
Serius, saya bener-bener menganggap ini adalah alur yang cerdas…setelah 4 film, akhirnya prequel justru muncul di film ke 5! Awesome!
cuma ya itu, jadinya aneh ketika melihat FD 5 ini penuh JROOT and JROOOT seperti dil film 3 dan 4, kalau mengingat kembali FD 1 rasanya ada yang salah.
spesial efeknya terlalu mumpuni untuk sebuah film yang ceritanya diset jauh sebelum cerita di film pertamanya. Tapi itulah hollywood, kadang-kadang logika seperti ini suka kelewat..
hehehe..
I’m desperately want to watch this movie..!!!!
PLEASEEEEEE…bring it heeeeeerreee..to Our Cinemaaaaaa!!!
Agak bingung memilih film untuk ditonton di sabtu siang ini. apakah saya memutuskan untuk menonton film thriller, horror dan sebangsanya? atau saya butuh untuk menonton sesuatu yang ringan dan bisa membuat saya tertawa. Komedi drama misalnya.
Dan saya berakhir pada pilihan keduanya. Satu film drama, satu film thriller suspense dan satu lagi komedi kulit hitam.
Lagi, saya kesulitan memilih mana yang ingin saya nikmati terlebih dulu. Anda tahu, terkadang ketika anda menyewa film di penyewaan video, secara tidak sadar anda memilih film yang sesuai dengan mood Anda? Kalau masih bertanya-tanya benar apa tidak, mungkin lain kali ketika Anda pergi ke penyewaan video, teliti lagi mood anda saat itu, apakah sesuai dengan film yang dipilih?
Disiang yang panas ini saya memilih sebuah film drama serius. Drama kulit hitam. Geez- sepertinya saya memang punya sedikit darah “black people”. Sekarang saya baru tahu darimana kemampuan meniru “big momma” itu datang. Hehehe.
For Colored Girls menjadi pilihan saya. Sebuah drama karya Tyler Perry yang diangkat dari naskah panggung Ntozake Shange yang berjudul “For Colored Girls Who Have Considered to Suicide When The Rainbow Is enuff” di tahun 75. Di Jamannya drama ini begitu sukses dan memberikan penulisnya 2 Toni Award. Just as you know piala ini diberikan kepada mereka-mereka yang konsen di pertunjukkan panggung teater.
Terus terang saya tidak tahu tentang apa film ini. Yang saya tahu ini adalah drama kulit hitam. Itu saja. Oh ya, drama wanita kulit hitam. Salah satu hal yang membuat saya tertarik menonton filmnya. Deretan cast-nya yang menjanjikan juga menjadi salah satu alasan berikutnya. Mungkin kalau berbicara sang penulis naskah dan sutradaranya, saya masih tidak terlalu excited. Meski nama Tyler Perry mungkin sudah menjadi jaminan mutu dari apa yang dihasilkannya.
Mari kita lupakan soal kritik dari para pengamat film yang muncul di beberapa surat kabar atau majalah di Amerika sana. Orang bisa berpendapat berbeda tentang satu hal. Tapi yang pasti, buat saya film ini menarik. Berhasil menjadi sebuah omnibus dengan beragam cerita dimana kemudian mampu mengumpulkan banyak karakter dengan plot yang berbeda menjadi satu kesatuan utuh pada akhirnya.
For colored Girls mengangkat banyak karakter dalam satu latar belakang tempat yang sederhana. sebuah apartemen. Seorang wanita single yang bijak, seorang wanita dengan “abusive relationship” dan wanita lainnya mencari cinta melalui sex dengan banyak pria. sementara ada yang begitu relijiusnya dibalik semua masa lalu yang kelam, dengan anak yang hamil diluar nikah.
Masih ada lagi lainnya. Wanita karir dengan suami yang ternyata gay tetapi menolak untuk disebut sebagai gay. Pekerja sosial yang menjadi “rebound girl” untuk pasangannya serta wanita lain korban perkosaan berkumpul menjadi satu. Terlibat dalam satu kisah yang terkoneksi antara satu dengan lainnya.
Saya tidak akan mengangkat plot disini. Karena anda tahu, sebuah omnibus biasanya memang tidak mempunyai plot yang runut, tetapi pada akhirnya banyak karakter yang ada didalamnya berkumpul dan menyimpulkan sesuatu. Begitu juga dengan For Colored Girls.
Kepiawaian pemeran For Colored Girls tidak perlu saya ragukan. Dan kredit saya berikan pada Kimberly elllise yang di film ini memerankan tokoh wanita yang terjebak dalam sebuah hubungan penuh kekerasan dimana pada akhirnya kekerasan itu merenggut kedua buah hatinya.
Drama kulit hitam seperti ini selalu menarik buat saya. Entah apanya, tapi ya, film-film seperti ini selalu menarik. Karena dibalik cerita tentang hidup yang terlihat pahit dan suram terseimpan sebuah semangat yang mampu membangkitkan. Ada sebuah pesan. saya tidak bilang bahwa drama kulit putih tak bisa begini, tidak. Tapi buat saya, ada kesan yang berbeda ketika saya menonton genre serupa antara drama kulit putih dan kulit hitam. Saya bukan rasis, tapi saya boleh bilang, black people is the winner kalau urusannya sudah sama film drama seperti ini. Hehehehe.
Ini bukan review berdasarkan wikipedia. Ini adalah kesan saya seusai menonton filmnya. Jadi entah anda terpengaruh atau tidak, yang pasti film ini BAGUS!
buat saya
tidak tahu dengan Anda. Mungkin selera kita berbeda?