Dulu, ketika seorang teman menanyakan tentang kenapa saya tidak membuat twitter, saya menjawabnya dengan “memang saya ini siapa? artis bukan, selebriti juga bukan. Kenapa orang pengen tahu semuanya tentang saya” Dan saya pun bertahan sedemikian lama untuk tidak bergabung dengan situs jejaring sosial berkarakter maksimal 140 ini.
Tapi kemudian saya memutuskan untuk mencoba. Pernah membuat satu akun dengan nama yang berbeda dari yang sekarang. Tapi sudah lama tidak aktif dan kebetulan saya juga lupa apa passwordnya. Hehehehe.
Dan kali ini saya membuatnya dengan nama saya. Sejak bergabung sampai sekarang masih punya 132 pengikut (nggak penting sebenarnya berapa banyak)..hehehehe. Dan saya hanya mengikuti tidak lebih dari 40 orang yang saya kenal. Dan sejak itu saya sudah “berkicau” sebanyak 3ribu 30o lebih kicauan.
Apakah saya capek? mungkin.
Terkadang ada satu masa dimana saya ingin diam sejenak dan lepas dari Twitter. Lelah rasanya harus selalu berkicau setiap saat setiap waktu. Saya menyebutnya sebagai “hiatus” dari Twitter. beberapa kali saya memberitahukannya pada temen-temen biar mereka nggak kehilangan. Hahahaha. Well, sebenernya lebih kepada ngasih tahu aja sih kalo lain waktu mention terus nggak direply, mereka sudah tahu bahwa saya masih dalam masa puasa.
Tidak ada alasan khusus kenapa saya selalu mengambil jeda sejenak. Semuanya lebih kepada keinginan saya untuk diam. Seperti yang sudah saya bilang tadi bahwa terkadang saya ini terlalu banyak bicara. Saya terlalu banyak menyampaikan informasi. Dan terlalu sering “mencari perhatian”
Padahal saya sendiri tidak yakin apakah teman-teman saya itu peduli atau tidak.
Apakah kondisi mood saya sedang tidak baik? Uhmmm…tidak juga.
Ada satu masa dimana dulu..ketika saya ingin menarik diri dari dunia, saya akan pergi meninggalkan semua. Menghapus akun saya di Friendster, menghilang dari Facebook dan memutuskan untuk selamanya tidak bergabung, bahkan saya pernah menghilang dari dunia blogging. Semuanya saya lakukan karena saya ingin sembunyi. Entah dari siapa. Tapi saya merasa bahwa dunia virtual tidak cocok dengan saya.
Bagi saya,menghabiskan banyak waktu untuk akrab dengan dunia maya berlama-lama itu…bukan aktifitas yang menyehatkan. tidak secara fisik pun untuk mental saya. Saya banyak melihat banyak sekali hal yang menggetarkan hati. Sesuatu yang bisa menyemangati, tapi tidak sedikit yang terlalu menghakimi. Dan biasanya kalo udah begitu, saya jadi kurang bersemangat.
(Hoy! wake up! this is the real world!)
Ya, begitulah dunia. Mau nyata mau maya, semuanya hampir sama. Bisa positif bisa juga negatif. tergantung dari sudut pandang mana saya melihatnya. Saya tidak menyalahkan medianya, tidak juga penggunanya. Saya hanya menyalahkan diri sendiri yang nggak bisa santai menghadapi ini. Hahahaha. I just take this thing as the most serious thing in my life, padahal seharusnya bisa dibawa santai aja ya?
Tapi begitulah saya kira, yang saya butuhkan sekarang hanya diam, entah sampai berapa lama. Untuk sementara saya mau ngeblog saja….lebih panjang lebih puas… #eh maksudnya, lebih panjang karakternya, ceritanya juga lebih lama.
Lhoh? katanya saya butuh diam? kok ngomong sampai sedemikian lama?


















