Post #107 Menulis Itu Mudah!

Ketika saya berkenalan dengan Richard teman sesama blogger dari Yogyakarta lewat kotak komentar di blog masing-masing, dia bertanya apakah saya adalah salah satu personil dari DOT? Dan saya bertanya apakah itu DOT? Meski saya tahu ini pasti perkumpulan Blogger. Tapi saya nggak tahu ini komunitas yang mana. Sepanjang yang saya tahu sih hanya Loenpia.net, kumpulan blogger keren yang eksis di Semarang. Nah, DOT ini malah saya nggak tahu. Dan belakangan Richard juga memberitahu kalau DOT itu memang komunitas blogger disini.

Setelah beberapa lama, saya terhubung dengan teman-teman dari DOT. Dan ternyata ini adalah komunitas blogger Detik.com cabang Semarang. Dan nggak kalah keren juga kok dari Loenpia. Oon juga saya yakh sampai nggak tahu kalau selain Loenpia, ada juga DOT. Kalau blog detik nya sih saya ngeh, yang kurang informasi ya si DOT ini…hehehehe. Maaf ya?

Dan setelah saling bertukar beberapa pesan lewat twitter, akhirnya semalam saya mengundang beberapa Dotters – sebutan untuk anggota DOT Semarang ke program Buka Buka Buku yang saya ampu. Saya pengin ngobrol-ngobrol tentang dunia tulis menulis di Blog. Berhubung sesepuhnya DOT semarang sedang berada di Jakarta untuk menghadiri pesta Blogger, 4 orang yang dikirim adalah anggota lain yang…masih muda-muda! Tapi udah eksis aja sebagai blogger…hahahaha.

Ada Nike, ada Moi, ada Thia juga elafiq. Mereka menyempatkan datang untuk berbagi tentang dunia blogging. Secara saya ini juga blogger, walaupun independen, ada banyak hal yang saya pengin ketahui tentang komunitas blog dan apa saja yang dilakukan disana.

"MOI,elafiq,saya,Thia,Nike"

Sambil haha-hihi mereka saling bertukar cerita tentang kenapa mereka tertarik untuk ngeblog, bagaimana prosesnya, dan kenapa memilih untuk bergabung dalam sebuah komunitas. Mereka juga ngasih tahu apa-apa saja yang sudah berhasil mereka dapat selama menjadi blogger. Wah, bikin saya jadi iri.

Ternyata seru juga kalau denger dari temen-temen muda saya ini, ketemu dengan banyak orang-orang baru dan dapet pengalaman-pengalaman berharga. selain imateri, mereka  juga dapat sesuatu dari kegiatan ini. Tapi itu tidak penting, banyak hal penting lainnya yang dirasa lebih spesial dibandingkan dengan mendapatkan barang.

Saya juga dapat banyak ilmu dari mereka. Sebagai seorang blogger independen, mata saya jadi terbuka bahwa seharusnya, kegiatan blogging ini bisa berguna, selain untuk diri sendiri, juga buat orang lain. Saling bertukar kisah dan menyelipkan beberapa info yang mungkin berguna untuk pembaca, adalah tujuan yang seharusnya dipunyai oleh seorang blogger. Tidak hanya sekedar curhat, tapi juga informatif dan menghibur.

Selama ini tujuan saya sih nggak jelas. Isi blog saya juga semacam gado-gado. Nggak fokus dan nggak tersegmen. Ada blogger yang khusus nulis soal keluarga dan kehidupan menjadi orang tua, mulai dari kasur, dapur, hingga sumur. Ada juga yang fokus pada fashion, makanan, fotografi, kegiatan, review, dan masih banyak lagi. Lha saya? waduh…saya ini blogger apa ya?

Fashion blogger…bukan

Food blogger… juga bukan.

Pengamat sosial? aduh…bukan spesialisasi saya…

Ya saya ini blogger gado-gado…

Kadang bisa cerita soal musik..kadang soal film..bisa juga makanan, atau hal remeh temeh lain yang mungkin nggak terlalu menarik. Belum bisa nentuin sih saya ini mau jadi blogger yang fokus pada apa. Tapi dari temen-temen DOT cerita kalau hal-hal seperti itu nantinya juga akan datang dengan sendirinya. Kesadaran untuk fokus dan menemukan minat yang lebih spesifik, akan membawa kita pada satu hal.

Tapi pertanyaannya, bisakah saya? atau saya masih bertahan pada ke-gado-gadoan saya? hahahaha.

Ya..nggak apa-apa. Nanti saya akan menemukan jalannya.

Menulis itu mudah. Dan mengetik itu lebih mudah. Hehehehe.

Kegiatan ini sejak lama sudah menjadi minat saya. Meski saya tahu bakat saya disini hampir tidak terlalu menonjol. Saya melakukannya hanya karena saya suka. Sejak SD saya sudah senang baca. Buku cerita lebih tepatnya. Saya masih ingat harus susah-susah datang ke rumah teman, yang waktu itu koleksi bukunya luar biasa banyak, untuk bisa saya pinjam. Saya paling suka minjem buku Trio Detektif dan Komik Kung Fu Boy.

Setelah pinjam ke teman saya ini, saya berlanjut minjem ke persewaan buku di desa sebelah. Dulu paling suka minjem 5 sekawan dan Wiro Sableng. Persewaannya bangkrut, bukunya belum sempet saya balikin. Hihihi. Tapi nggak tahu sekarang dimana buku-buku itu.

Saya sempet pengin punya perpustakaan pribadi. Keinginan itu datang setelah melihat guru fisika saya yang punya koleksi buku pelajaran dan novel-novel yang semuanya diberi label “perpustakaan pribadi” dan dimata saya saat itu, hal seperti ini sangat keren. Dan saya bilang “kelak saya mau seperti dia”

Buku pertama yang saya beli dari duit saya sendiri adalah beberapa seri Goosebumps dan Fear Street. Ketika membelinya, saya merasa sangat bangga! Ketika memberikan label dibalik sampul buku itu saya membayangkan teman saya meminjam buku itu dan melihat, bahwa itu adalah koleksi dari perpustakaan pribadi saya. Padahal jumlahnya cuma 3. Hahahaha.

Tapi saya bertekad, kelak setelah saya kerja, saya akan menyisihkan sedikit uang untuk membeli buku. Alhamdulillah, sampai sekarang koleksi novel saya  sudah hampir satu lemari penuh dan membuat saya sempet kerepotan pas pindah-pindah kos. Hehehehe. Tapi saya bangga. Eh, sebentar….dari beberapa koleksi buku ini, saya membelinya dengan uang bujet dari kantor untuk program Buka Buka Buku. Tapi saya sudah lupa yang mana…sudah jadi hak milik pribadi secara defacto dan dejuro. Hahahaha.

Dan benar juga kata orang, tidak lengkap rasanya kalau senang membaca tapi tidak menulis. Orang yang senang membaca pasti punya keinginan untuk menulis. Entah apa yang ditulis, tapi keinginan itu pasti ada. Saya masih ingat ketika SD saya senang menulis cerita pendek ala-ala trio detektif. Meski hasilnya “wagu” tapi saya senang saat saya mampu merangkai cerita dari awal sampai akhir.

Salah satu karya saya – yang sayangnya tidak sempat saya dokumentasi - adalah 2 buah cerpen yang dimuat dimajalah HAI dan saya dapet 300 ribu untuk masing-masing cerita. Duitnya mungkin besar buat saya, tapi kebanggaan yang saya rasakan lebih besar daripada duit yang saya terima. Duitnya sekarang udah habis, tapi rasa bangga ini masih ada sampai sekarang. :)

menulis itu mudah dan mengetik itu lebih mudah.

Saya mungkin tidak bisa setuju 100 persen karena terkadang proses menulis itu tidak bisa berjalan lancar ketika ide tidak didapat. Mendapatkan ide, itu yang terkadang butuh waktu. Meski ada yang bilang “ide itu murah, petiklah di udara” tapi pada kenyataannya, proses menuangkan ide ke atas kertas itu yang kemudian jadi kendala.

Layaknya bayi yang baru pertama kali belajar berjalan, menuangkan kata pertama dan hingga kemudian menjadi kalimat pertama itu rasanya juga sama. Membuat kalimat pembuka yang akan jadi hook, itu…susahnya luar biasa.

Tapi kemudian, ketika sudah menemukan jalannya, menulis itu menjadi mudah, karena menulis itu seperti bercerita. Anggap saja kita sedang bercerita dan kalimat-kalimat itu pasti akan datang dengan sendirinya.

Yang sering jadi masalah – juga masalah saya adalah : kita terkadang suka membandingkan tulisan kita dengan yang lain. Alih-alih kita belajar dari tulisan orang lain, kita membandingkan tulisan kita dengan yang lain dan kemudian merasa tidak percaya diri dan tidak mampu untuk menuliskan cerita kita dengan gaya yang sama baik atau lebih baik. Dan biasanya, hal-hal seperti ini yang mematikan hasrat untuk berbagi lewat tulisan.

Saya sendiri sering merasa tidak berguna dan berpikir, buat apa susah-susah menuliskan cerita kalau orang lain tidak bisa menikmatinya. Well…i did. Tapi ada teman yang bilang, What the Hell! and I Dont care! Nyatanya kita ini bukan penulis yang pro, tentu saja ada banyak kaidah yang sering tidak kita perhatikan. Terkadang cerita yang kita bagi membosankan, atau alurnya tidak runtut dan lain sebagainya.

Tapi kita menulis dengan gaya kita. Kita menulis tidak untuk menyenangkan orang lain. Kita menulis untuk diri  kita sendiri. Setidaknya awal seperti itu. Karena proses belajar itu akan terjadi dan percaya nggak percaya, kemampuan menulis itu sama seperti kemampuan praktis lainnya. Semakin anda sering berlatih, semakin cepat bisa anda, dan semakin mahir pula anda.

Ini yang dibilang sama temen-temen DOT Semarang semalam. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kemampuan menulis kita. Kita pasti akan mengalami peningkatan suatu saat nanti, dan itu akan jadi lebih baik. Tidak perlu minder.

Dan DOT semarang pun mencoba menularkan kegiatan positif ini melalui program coaching clinic menulis untuk anak-anak SMP dan SMA dengan harapan mereka tertarik dengan kegiatan tulis menulis ini. Siapa tahu awalnya dari Blog…kemudian bisa menjadi sebuah karya yang dibukukan. Siapa tahu? Dan siapa juga yang nggak ingin?

saya juga pengen…

hehehehe.

Dan begitulah….cerita yang semalem saya dapat dari temen-temen DOT semarang. Terima kasih karena sudah hadir ke studio untuk sharing. Banyak ilmu yang saya dapat dan…saya jadi berpikir ulang….apakah saya akan terus jadi blogger independen..

atau..

saya akan mengambil selangkah lebih jauh…dengan bergabung bersama komunitas blogger?

well…kita lihat saja nanti…

untuk web dari temen-temen DOT semarang..silakan kunjungi dotsemarang.blogdetik.com

Oh ya? tertarik menulis? rajin dan senang membaca dulu kalau begitu… :)

Post #100 Oh Wow…Okay Then…Now What?

:-D itu postingan ke 101 sebenarnya, tapi jadi postingan ke 100 yang saya tandai. Nggak nyangka bisa setahan ini saya mengisi blog sampai postingan ke 100. Masih dikit sih kalau menurut itung-itungan blogger profesional. Angka 100 itu belum apa-apa. Masih belum bisa dibilang mampu memanfaatkan banyak hal untuk jadi bahan cerita. Aha! tidak mengapa. Saya nggak kejar target kok. Lagipula, saya bukan tipe blogger copy-paste yang punya tujuan ningkatin traffic dan bisa dapet duit dari Mbah Google lewat ad-Sensenya.

Saya ini kan Blogger abal-abal. Eh, maaf-maaf..saya tidak akan melihat diri saya seperti itu lagi. Jadi inget Tintin semalem. Kapten Haddock bilang sesuatu yang artinya kurang lebih “jangan pernah melihat dirimu sendiri dengan cara negatif karena itu akan mengirimkan sinyal yang salah pada orang lain, dan orang lain akan melihat hal yang negatif saja dari dirimu, sama seperti kau melihat dirimu sendiri”

Jadi, saya harus positif ya? Oke, baiklah, *berdehem* saya ini adalah…Blogger yang nggak profesional. Ya iyalah, kan saya nggak dibayar? Kalau Blogger profesional itu kan dibayar sama pihak lain untuk sebuah tulisan. Nah, saya kan nggak, jadi saya bukan seorang pro. Saya ini blogger amatir yang tidak bergabung dengan kelompok manapun. Bukan sombong bukan angkuh, tapi karena nggak tahu musti gabung kemana? di semarang ada sih Loenpia.net, tapi isinya orang pinter-pinter semua, saya jadi minder. Hahahaha. Maksudnya, mereka ini bener-bener WOW. Blogger-blogger yang luar biasa aktif. Punya banyak cerita, dan sebenarnya punya banyak ilmu yang kalau saya gabung disana pasti bisa saya manfaatkan ilmunya. Tapi ya itu, saya masih belum berani. Masih ngerasa nggak “qualified” untuk bergabung dengan komunitas. Nanti deh ya? saya pikir-pikir lagi…

Saya memulai blog sudah beberapa tahun lalu. Awalnya di Friendster. terus saya tutup. Sempet gabung di blogger, tapi nggak tahan. Nggak suka dengan interfacenya. Habis itu bikin blog yang cukup sukses juga, hahahaha..namanya ruparuparumpi. Tapi abis itu nggak aktif lagi karena saya kebingungan sendiri, sebenarnya ini blog mau dijaadikan blog yang seperti apa sih? karena isinya emang campur-campur nggak nggenah. :-D ya sudah, akhirnya saya diemin aja. Tapi sampai sekarang trafficnya juga masih lumayan sih.

Nah, yang terakhir ya ini.

Menulis buat saya seperti terapi. Kadang-kadang ada banyak hal yang saya pikirkan. Dan nggak tahu kudu ngomong ama siapa, ya sudah, akhirnya jadilah sebuah tulisan ala kadarnya. and thanks Gooooood, ada yang namanya blog. Dulu saya suka nulis dibuku harian. Hihihi. Jaman-jaman ABG labil dan masih belum kenal sama yang namanya internet.

Kalau nulis, saya lebih senang apa-adanya. Seperti saya sedang ngomong. Nggak kepikiran buat bikin tulisan yang bagus dan enak buat dibaca. Apa yang saya tulis ya apa yang saya pikirkan. Apa yang ingin saya omongin. Itulah kenapa terkadang nggak runtut dan kacau balau. Karena saya sebenarnya juga seorang pengicau yang kacau. Hahaha.

Sama kayak orang ngobrol, kadang bisa ngoceh terus seharian. Itulah kenapa ada banyak postingan dalam sehari. Tapi kemudian nggak ada postingan sama sekali karena sedang malas ngobrol. Eh beneran deh, menulis itu menyenangkan. Walau sekarang saya udah hampir nggak pernah nulis cerita pendek lagi seperti tahun-tahun lalu. Kadang kangen sih bikin tulisan yang punya kaidah, runtut dan bener-bener punya jiwa. Tidak seperti yang ada di blog ini. Yang cuma ndelojor tanpa ada aturan.

Tapi nggak papa, blog saya ini. Nanti saya belajar deh gimana menulis yang runtut dan enak dibaca. Sementara saya begini aja dulu. Karena sesungguhnya saya ini orangnya nggak konsisten. Dan menulis blog juga membutuhkan tekat yang kuat untuk tetap konsisten dan rajin menulis. Apapun itu. Nggak boleh males-malesan.

Eh, tapi dibanding dulu, saya juga melihat banyak perubahan kok dari gaya menulis saya?

:-D

seharusnya kan juga begitu tho?

Published in: on November 22, 2011 at 1:44 pm  Comments (2)  
Tags: , , ,

Post #88 Sometimes All I Need Just “Shut Up”

Dulu, ketika seorang teman menanyakan tentang kenapa saya tidak membuat twitter, saya menjawabnya dengan “memang saya ini siapa? artis bukan, selebriti juga bukan. Kenapa orang pengen tahu semuanya tentang saya” Dan saya pun bertahan sedemikian lama untuk tidak bergabung dengan situs jejaring sosial berkarakter maksimal 140 ini.

Tapi kemudian saya memutuskan untuk mencoba. Pernah membuat satu akun dengan nama yang berbeda dari yang sekarang. Tapi sudah lama tidak aktif dan kebetulan saya juga lupa apa passwordnya. Hehehehe.

Dan kali ini saya membuatnya dengan nama saya. Sejak bergabung sampai sekarang masih punya 132 pengikut (nggak penting sebenarnya berapa banyak)..hehehehe. Dan saya hanya mengikuti tidak lebih dari 40 orang yang saya kenal. Dan sejak itu saya sudah “berkicau” sebanyak 3ribu 30o lebih kicauan.

Apakah saya capek? mungkin.

Terkadang ada satu masa dimana saya ingin diam sejenak dan lepas dari Twitter. Lelah rasanya harus selalu berkicau setiap saat setiap waktu. Saya menyebutnya sebagai “hiatus” dari Twitter. beberapa kali saya memberitahukannya pada temen-temen biar mereka nggak kehilangan. Hahahaha. Well, sebenernya lebih kepada ngasih tahu aja sih kalo lain waktu mention terus nggak direply, mereka sudah tahu bahwa saya masih dalam masa puasa.

Tidak ada alasan khusus kenapa saya selalu mengambil jeda sejenak. Semuanya lebih kepada keinginan saya untuk diam. Seperti yang sudah saya bilang tadi bahwa terkadang saya ini terlalu banyak bicara. Saya terlalu banyak menyampaikan informasi. Dan terlalu sering “mencari perhatian” :-D Padahal saya sendiri tidak yakin apakah teman-teman saya itu peduli atau tidak.

Apakah kondisi mood saya sedang tidak baik? Uhmmm…tidak juga.

Ada satu masa dimana dulu..ketika saya ingin menarik diri dari dunia, saya akan pergi meninggalkan semua. Menghapus akun saya di Friendster, menghilang dari Facebook dan memutuskan untuk selamanya tidak bergabung, bahkan saya pernah menghilang dari dunia blogging. Semuanya saya lakukan karena saya ingin sembunyi. Entah dari siapa. Tapi saya merasa bahwa dunia virtual tidak cocok dengan saya.

Bagi saya,menghabiskan banyak waktu untuk akrab dengan dunia maya berlama-lama itu…bukan aktifitas yang menyehatkan. tidak secara fisik pun untuk mental saya. Saya banyak melihat banyak sekali hal yang menggetarkan hati. Sesuatu yang bisa menyemangati, tapi tidak sedikit yang terlalu menghakimi. Dan biasanya kalo udah begitu, saya jadi kurang bersemangat.

(Hoy! wake up! this is the real world!)

Ya, begitulah dunia. Mau  nyata mau maya, semuanya hampir sama. Bisa positif bisa juga negatif. tergantung dari sudut pandang mana saya melihatnya. Saya tidak menyalahkan medianya, tidak juga penggunanya. Saya hanya menyalahkan diri sendiri yang nggak bisa santai menghadapi ini. Hahahaha. I just take this thing as the most serious thing in my life, padahal seharusnya bisa dibawa santai aja ya?

Tapi begitulah saya kira, yang saya butuhkan sekarang hanya diam, entah sampai berapa lama. Untuk sementara saya mau ngeblog saja….lebih panjang lebih puas… #eh maksudnya, lebih panjang karakternya, ceritanya juga lebih lama.

Lhoh? katanya saya butuh diam? kok ngomong sampai sedemikian lama?

:-D

Published in: on November 9, 2011 at 8:46 pm  Leave a Comment  
Tags: , , ,