Post #16 – 2012 Met You And Kiss You Goodbye

Aku masih ingat saat pertama kali ketemu kamu. Kamu masihlah kecil. Masih anak-anak. Kamu memandangiku dari jauh dengan takut-takut lalu bersembunyi di balik punggung ibumu. Justru dia kemudian meninggalkanmu sendiri dengan mendatangiku. Kami cepat sekali akrab. Ibumu tak pemalu seperti dirimu. Sementara kami berakrab-akrab, kamu memilih untuk menjaga jarak. Tak apa, suatu saat kau pasti jadi milikku, pikirku saat itu.

Butuh waktu untuk membuatmu takluk. Kamu sering menolakku. Pergi menjauh dan tak peduli, atau hanya memandangiku sekilas ketika namamu kupanggil. Sekali lagi tak apa, suatu saat kamu pasti jadi milikku.

Dan benar pun, kemudian kamu sendiri yang mendekat dan berakrab-akrab denganku hanya untuk mencoba menarik perhatian. Aku sebal. Dulu kamu tidak mengacuhkanku dan sekarang kamu merasa bahwa aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Sekarang giliranku untuk jual mahal, meski sebenarnya aku tak tega.

 Mungkin kamu belajar dariku tentang arti dari sikap tak mudah menyerah. Usahamu kuakui luar biasa. Dengan kedua bola mata itu kamu memandangku dan seolah mengatakan “Ayolah, kamu tak akan bisa menolak pesonaku. Aku terlalu berharga untuk diacuhkan begitu saja,” Dan nyatanya aku memang tak bisa berlama-lama abai akan keberadaanmu.

 Siang itu setelah sekian lama, akhirnya kita duduk berdua.

“Kamu sudah makan?” tanyaku. Dan kamu pun diam. Tapi aku tahu kamu belum makan. Kamu tak perlu malu, kedua bola mata itu mengatakannya padaku. Urusan perut, tabu jika malu-malu. Kamu bisa mati kalau selalu ngurusin gengsi. Bilang saja kamu lapar dan masalah pasti selesai.

Lalu kita berdua makan siang. Tentu saja dengan menu yang berbeda. Aku tak ingin memanjakanmu disaat-saat ini. Aku masih sebal. Tapi aku senang kamu makan dengan lahap. Kamu bahkan tak peduli dengan beberapa pertanyaanku tentang ibumu, dimana dia, dan apa yang dia lakukan sekarang. Sepertinya yang kamu pedulikan hanya makanan di depanmu, tidak ada yang lain. Dan aku hanya angkat bahu.

Dan sejak saat itu kita jadi sering bertemu. Hanya sekedar duduk-duduk dan tidak melakukan apa-apa, lalu aku akan bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Dan karena kamu masih kecil, kamu hanya diam saja, seperti biasa, sibuk dengan dirimu sendiri. Lalu tertidur lelap di dekatku. Lalu aku akan mengangkatmu ke tempat tidurku. Dan kita akan terlelap bersama disana. Dan ketika aku terbangun, kamu sudah tak ada disana, pergi entah kemana.

Ada masa dimana aku merindukanmu ketika kita tak bertemu. Aku bertanya-tanya kemana kamu hari ini. Kenapa tidak menungguku pulang seperti biasa? Tapi aku tidak berusaha mencarimu. Kalau kamu sama rindunya denganku, kamu pasti akan datang.

Buatku, tidak mudah mencari teman. Pengalaman mengajarkanku untuk selalu waspada dengan manusia. Mereka makhluk yang luar biasa. Terlihat manis di hadapan mata, tapi kejam luar biasa ketika kau berbalik memunggunginya. Mengaku teman, tapi tak pernah bisa bertingkah selayaknya teman. Pun dengan apa yang mereka sebut cinta. Tak mudah mencarinya, sungguh. Kau bisa kesana kemari mencari, tapi lalu bertemu dengan mereka yang hanya menyakitimu dan membuatmu takut. Menyakitimu luar dalam dengan pengkhianatan dan akhirnya meninggalkan dirimu sendirian tanpa ada sisa rasa percaya. Dan sejak saat itu aku hidup dalam duniaku sendiri, dengan dinding yang kubangun perlahan-lahan.

Dan kamu, kamu datang dengan segala rupa tak bersalahmu. Meski menjengkelkan tapi aku tahu aku jatuh cinta. Dan sekarang kita melewati masa-masa ini bersama. Kamu semakin besar dan menua. Mungkin kalau dihitung-hitung usia kita hampir sama tuanya. Ah, betapa waktu begitu cepat berlalu…

……

Seorang dokter keluar dari ruangan kecil itu..wajahnya terlihat cemas, tapi setelah itu dia tersenyum padaku.

“sudah saatnya,” dia bilang. Dan akupun masuk keruangan serba putih itu. Kamu terbaring disana. Nafasmu tersengal-sengal lemah. Kamu mengangkat kepalamu ketika aku datang seakan mengatakan bahwa kamu ingin pulang.

“Nanti kita pulang…” ucapku lirih sambil menahan air mataku jatuh. Aku berlutut dihadapanmu. Kepalamu miring, matamu terbuka sayu dan memandangku dengan tatapan letih. Bukan lagi dua bola mata yang lucu itu, tapi kamu menua sayu. Aku tidak ingin kamu melihatku menangis. Tapi aku tidak bisa. Setitik air mataku jatuh saat aku membelai kepalamu yang tergolek miring.

“Maafkan aku…” kembali aku berbisik padamu. Dokter Ayu memegang pundakku lembut dan mengatakan bahwa sekaranglah saatnya. Dan aku bilang “sebentar,” lalu menciummu lembut. Dan memeluk tubuhmu erat. Dan aku bisa merasakan perutmu naik turun. Kamu masih bernafas, tapi lemah. Dan tak lama kemudian hilang..dan makin hilang, seiring dengan jarum yang disuntikkan dokter Ayu ke tubuhmu.

Lalu kau pergi dengan cepat..dalam damai. Aku terisak tertahan. Menangisimu yang telah menjadi temanku selama bertahun-tahun ini. Aku menangisimu yang meninggalkan aku dalam sepi lagi.

PS : Cerpen ini saya buat dalam rangka ikut berpartisipasi di Project Nulis Buku [dot] Com Semarang

Published in: on January 24, 2012 at 11:54 am  Comments (4)  
Tags:

Post #15 – 2012 Satu Macem Bisa Jadi 2! ;)

All you need is just to improvize!

Minggu lalu saya belanja makaroni ulir, daging cincang, bawang bombay di Hypermart. Ceritanya mau buat makan malem sama adik. Berhubung si Mommy legi ke Jepara sama rombongan BMT saya yang bertanggung jawab untuk menjadi “pemburu dan peramu”, secara adik saya nggak bisa masak..hihihi.

Sambil ngajak jalan-jalan ponakan saya belanja barang-barang tadi. Niatnya sih mau bikin pasta simple recipe aja…eh tapi kok kemudian kepikiran buat bikin masakan yang lain ya?

Kalo yang ini sih resep sederhana makaroni ulir saos daging ala Chef Nuno…hihihi..tinggal rebus makaroni..tunggu sampe al dente. Sementara nunggu, saya bikin sausnya. Tinggal tumis bawang bombay dan bawang putih sampai wangi abis itu kasih sedikit air dan masukin daging cincangnya. Jangan lupa kasih sesendok teh gula, sedikit garam, sedikit kaldu sapi, dan masukin saos tomat atau saos cabe – tergantung kesukaan. Abis itu masak sampai kadar airnya berkurang. That’s it!

Kalau makaroninya udah mateng, tinggal dicampurin aja. Walo ada yang lebih suka nggak dicampur, tapi buat saya, nyampur pasta ke saos itu…YUMM!

Nah, berhubung masih ada sisa pasta dan daging sapi cincang…saya lalu bikin ini..

Yang ini namanya Twisted Baked Macaroni With Cheese… (ini namanya ngarang bebas..) wong resepnya nggak pake…cuma dicampur-campur terus dipanggang…hasilnya? Nggak mengecewakan! Bahkan teman saya bilang ini masakan pasta saya yang paling enak dari yang sebelumnya. Hahaha

Kebetulan saya masih punya persediaan keju dan daging asap di freezer. udah deh…Bikinnya gampang kok…

Makaroni ulir yang udah direbus dikasih olive oil aja dikit biar nggak lengket. Siapin di mangkuk besar 2 butir telur kocok lepas, sisihkan. Sementara itu saya masak daging cincangnya. Caranya sama dengan bikin saus dari masakan di atas. Kalo udah mateng..campur aja semuanya. Telur, makaroni, saus daging, tambahin keju, susu bubuk dan daging asapnya. Udah deh! taro di pinggan tahan panas, terus panggang sampai matang.

menurut saya, dari segi bahan dan cara masak, yang ini bahkan lebih simple daripada bikin makaroni skotel! Dan rasanya…much better!

Jadi benar kan? cuma butuh improvisasi, biar satu, bisa jadi dua!

Published in: on January 24, 2012 at 11:30 am  Leave a Comment  
Tags:

Post #14 – 2012 Jalan Jalan Bareng Ponakan

Sejak ponakan pindah ke comal,saya jadi lebih senang menghabiskan waktu weekend saya di kampung. Dia sepertinya juga senang,sebab tiap pakdhenya pulang,pasti ada traktiran makan es krim. Hehehe…Jadi paling tahu dianya kalo pakdhenya sayang luar biasa.

Seharian ini saya ajak dia jalan-jalan. Nggak jauh sih,cuma ke Pekalongan. Kota kecil ini tidak punya banyak tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan tanpa mobil pribadi seperti saya. Ujung-ujungnya ke mall. Hahaha. Buat saya pribadi sih sudah bosan setengah mati lihat pusat perbelanjaan. Secara di Semarang mall ini udah kayak tempat bermain yang cuma begitu-begitu saja. Tapi buat keponakan saya yang memang sejak dari kecil tinggal di daerah ungaran yang jauh dari keramaian,keberadaan mall laksana tempat yang luar biasa.

Tumbuh di daerah pringapus Ungaran,bikin keponakan saya ini tulen kamsonya. Mungkin karena masih kecil dan nggak pernah liat keramaian yang sebegitu horenya,tiap kali masuk ke mall pasti ketakutan. Tapi campur aduk sama exciting. Antara penasaran sama takut liat banyak orang. Jerit-jerit seneng tapi emoh-emoh takut juga. Antara pegangan kenceng sama pengen jalan sendiri.

Sadar bahwa pakdhenya juga (sebenarnya) super kuper,saya pengen ngajarin keponakan saya ini sama gegap gempitanya suasana kota (lebay mode on). Setidaknya dia bisa lihat play land di mall yang banyak anak kecil,bukan rumah di desa yang isinya cuma tetangga -tetangga berusia tua. Saya pengen kasih liat banyak mainan-mainan seru…Dan benar saja…dia takut sama mainan-mainan di play land! Anak-anak berlarian kesana kemari..naik turun perosotan,keluar masuk rumah-rumahan…eh dia cuma minta gendong. Hahaha.

Mesti pelan-pelan buat bikin dia nyaman. Saya.mesti ikut masuk ke istana kecil yang ternyata masih muat buat saya…saya mesti kasih liat mainan kuda-kudaan..perosotan..dan ya ampun,susah bikin dia percaya kalau semuanya menyenangkan. Tapi berkat kesabaran,akhirnya dia mau juga main perosotan sama anak lain,keluar masuk istana,dan main kuda-kudaan. Dan ujung-ujungnya malah nggak mau diajak pulang. Ah..saya puas!

….(meski dompet jebol)….

Berkeliling dari satu mall ke mall lainnya,bikin keponakan jadi nggak takut-takut lagi. Dari yang maunya digendong,udah bisa jalan sendiri. Dari yang nggak mau diajak naik eskalator,sekarang malah minta bolak balik…ada banyak hal yang dia pelajari rupanya.

Mohon maklum..ponakan saya memang udik..tapi saya jamin,sekarang sudah lumayan enggak lagi. Cuma butuh waktu dan…duit lebih (hihihi) buat bikin dia nggak malu-malu lagi untuk bersosialisasi.

Jangan sampai kayak pakdhe ya nak? :) )

Agenda selanjutnya : insya alloh tiap bulan ada tempat baru yg dikunjungin yakh? ;)

Published in: on January 22, 2012 at 11:10 pm  Comments (4)  
Tags:

Post #13-2012 Tukang Gerecok

Mama bilang sudah sejak kecil saya suka ngegrecokin dia kalo pas lagi makan. Makan apa aja,saya pasti pengin minta..biar kata secuil atau sesendok. Yang penting saya minta.

Kalau jaman dulu beliau pasti bilang : “biasa kiiii,ora bombong nek durung njaluk”

Katanya belum lega kalau belum minta…hihihi. Tapi sepanjang yang saya ingat saya memang selalu melakukannya. Kadang nggak cuma dikit juga sih,tapi ampe saya minta makanannya.

Dulu sih banyak komplain,tapi kalo sekarang beliaunya fine-fine aja….Malam ini makan mie,saya minta sesendok diem aja tuh…hehehe.

Ada yang punya kebiasaan sama kah dengan saya?

Published in: on January 21, 2012 at 9:13 pm  Comments (4)  
Tags:

Post #12-2012 What a Trip!

Bukan trip juga sebenarnya,dan masih kalah sama temen-temen saya yang kesana kemari ketika melakukan perjalan,entah itu buat business or pleasure. Tapi 3 hari ini saya bener-bener ngalamin bumping road lah..hahaha.

Sodara sekontrakan sakit,saya musti rewel ngurusin dia mulai dari makan,minum obat sampai jagain istirahatnya. Nganterin ke dokter,cek ke lab,bikin saya gedebag gedebug kesana kemari. Hahaha. Susah? Repot? Tidak juga. Senang malah,jadi tahu bagaimana rasanya ngurusin orang sakit.

Belum lagi kemudian ketika dia minta balik ke Pekalongan,mau tak mau saya harus nganterin dia pulang. Nggak mau juga kalo di jalan dia kenapa-napa. Tega bener sayanya kalo harus ngelepas dia sendirian. Akhirnya saya ke pekalongan..mampir bentar ke comal..pulang lagi ke semarang..dan sekarang saya sudah dalam perjalanan menuju kampung halaman. Sekali lagi…repot amat?

Kejadian ini berlangsung di akhir pekan,jadi ya pengaturannya memang begitu. Kenapa saya nggak nerus aja jumat sabtu ijin? Ah..enggak..nggak enak sama temen2 semua..saya masih punya tanggungan kerjaan yg kudu diselesaikan. Eh nggak sok pamer lho..tapi ternyata seru juga kalo bolak balik comal semarang buat kerja..kalo aja bujet transportnya cocok,mau tuh saya ngelaju comal semarang..hahahaha. Tapi pasti rontok dibadan dan saya berpotensi kena ambeien..karena duduk terus tiap hari…hahaha.

Tapi sungguh saya menikmati ini. Yang penting sodara sehat..keluarga juga bisa dikunjungi..kerjaan beres…

Alhamdulillah

Published in: on January 21, 2012 at 5:28 pm  Leave a Comment  
Tags:

Post #11 – 2012 Kangen Sama TV Jaman Dulu

Lihat news sticker soal promo film seri Friends tiba-tiba bikin saya kangen sama TV swasta jaman dulu.

Jaman sebelum sinetron jadi luar biasa lebay seperti sekarang,jaman saya kecil dan remaja dulu film seri dari luar negeri tuh ada banyak banget..

Friends…melrose place..beverly hills 90210…charmed…knight rider..the a team..mission impossible..moonlighting..friday the13…remington steele…dynasty…aaaargghh…masih banyak lagi!!

Kangen kangen kangen!!! Saya kangen sama momen momen nungguin filmnya maen….kangen sama suasananya..kangen semuanya…

Sekarang..TV isinya cuma sinetron lebay…

Published in: on January 20, 2012 at 6:48 am  Leave a Comment  
Tags:

Post #10 – 2012 It’s All In Mind and In Heart

Baru saja melakukan perbincangan dengan seorang teman…

sepanjang hari, dengan subjek yang sama

tentang pindahan..yang melelahkan..butuh energi dan menguras pikiran

…saya bertukar pengalaman..

saya mendapatkan bantuan untuk jiwa ..

dan ternyata memang betul

semuanya hanya ada di pikiran kita…dan mempengaruhi hati kita…

tak usahlah dibesarkan masalah yang kecil…

tak usahlah dijadikan masalah jika memang bukan masalah

tenang sebentar dan lihat apa yang bisa dilakukan setelah semuanya terkendali…

dan ternyata, hati dan pikiran itu memang harus selalu diselaraskan, jika tidak….

ah, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.

thanks to mami jeci

Published in: on January 10, 2012 at 11:42 pm  Comments (2)  
Tags:

Post #9 – 2012 Mungkin Saya Tak Akan Pernah Dewasa

Apa yang membedakan antara anak-anak dan orang dewasa? Selain deretan angka, pola pikir juga menentukan. Dan apakah saya sudah dewasa?

–belum sepenuhnya–

Saya tidak malu mengakui itu, meski ada beberapa yang bilang , dibeberapa hal, saya menunjukkan kualitas kedewasaan saya. Sementara di hal lainnya, saya masih kanak-kanak.

Salah satu yang masih jadi ukuran kanak-kanak saya adalah selalu membuat keputusan tanpa mampu berpikir panjang. Terkadang masih sering disisipi dengan alasan emosional. Masih belum mampu berpikir jangka panjang. Hasilnya, menyusahkan diri sendiri.

Ditambah saya ini orangnya pemikir. Keputusan yang salah bisa menghasilkan konsekuensi yang merugikan. Dan seringnya saya tidak pernah bisa menerima dan melupakan bahwa : “oke, saya ini sudah mengambil sebuah keputusan yang salah. Sudahlah, terima saja konsekuensinya. ” Tapi saya pasti akan berpikir lamaaaaaaa…dan sedikit sedih bahwa ternyata emosi saya masih menguasai.

Yakh…saya tidak berharap begini terus. Tapi saya ingin lebih mampu “berhenti” sejenak dan melihat untung rugi dari keputusan yang saya ambil. Jangan sampai menyesal dan menganggu banyak keinginan lain di masa depan.

sesuatu, dipertimbangkan, dilihat lagi, diputuskan dan tak perlu disesali, selama keputusan itu diambil dengan pertimbangan yang matang, bukan secara emosional..

Published in: on January 9, 2012 at 10:53 pm  Leave a Comment  
Tags:

Post #8 – 2012 A Lesson From Baking and Cooking

Hari ini saya pulang kampung…seperti biasa, memasak adalah salah satu kegiatan yang jarang saya lewatkan kalo sedang ada di rumah. Masalah pindahan kontrakan ini sungguh menyita perhatian saya….dan pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga sangat membantu saya mengalihkannya barang sejenak.

Malam ini saya bikin brownies Kismis…Niatan bikin kue ini muncul tiba-tiba tanpa rencana setelah melihat semua bahan brownies ada di lemari penyimpanan bahan makanan. Sekalian nyoba pinggan tahan panas baru. Kalau kemarin udah nyoba makaroni skotel pake pinggan ini dan berhasil, sekarang giliran brownies.

Hasilnya? Tidak seperti yang saya bayangkan..

Saya jarang sekali gagal ketika membuat brownies. Karena pada dasarnya, kue yang satu ini juga tercipta karena kesalahan. Jadi ya…salah-salah dikit sih masih bisa ditolerir dan hasilnya masih bisa dinikmati. Tapi malam ini semuanya tidak berjalan dengan lancar.

Prosesnya sendiri sih masih sama seperti biasanya. Hanya saja, proses memanggangnya yang mengalami sedikit masalah. Dan berimbas pada hasil jadi dari brownies kismis saya. Luar biasa bantat, kering dan gosong. Hampir separuh dari adonan tidak berhasil karena terlalu pahit. hanya separuh yang diatas yang bisa matang sempurna.

menyesal? Iya. Lebih kepada karena saya enggak suka buang-buang makanan. Tapi brownies yang terlalu gosong dan pahit juga tak ada yang doyan. Mau sedikit inprovisasi terus ya mau diapain? akhirnya cuma bisa dipisahin dan dibuang.

Tapi saya enggak nyesel sudah ngelakuin kesalahan diproses pembuatan brownies kali ini karena saya jadi tahu kalau :

  • Pinggan tahan panas ini emang kurang cocok buat bikin cake, olesan menteganya kudu tebel biar nggak lengket
  • Kalau ngeset kompor juga apinya nggak boleh gede, suhu pemanggangan harus pas, kalo enggak, matang diatas gosong dibawah

Terus terang malam itu saya memang rada ngasal. Ngolesin menteganya juga dikit, abis gitu ngeset apinya juga kegedean. Alhasil, setengah gagal.

Tapi gagal dalam masak memasak itu wajar. Enak atau nggak enak. Itu saja. Kalau nggak enak ya nggak ada yang makan, kalo enak ya pastinya bakal dibabat habis. Dan kalo udah begini nggak boleh nyerah..kudu cari tau trik dan tipsnya biar masaknya berhasil dan masakan berasa enak.

BTW, dari hasil brownies yang masih bisa diselamatkan, tetep dapet pujian kok…rasanya enak..manis gula..agak pahit di cokelat dan sedikit asem karena kismis..

what I learn is sometimes we failed, but we know that we made a mistake and next time, no need to make the same one. And maybe if we made it again, maybe we don’t obey the rule… :-D back to the right track!

Published in: on January 8, 2012 at 5:18 pm  Leave a Comment  
Tags:

Post #7 – 2012 It’s Like A Time Bomb

Yes it is…

Kalau banyak pikiran dan makin hari makin ruwet..bisa berbahaya. Ditambah lagi tak punya teman untuk bisa diajak bicara. Makin berbahaya. Habis baca twit kes-nya @blogdokter tentang “suicide” dan kemudian semacam “ngeri” karena diagnosa dan teori-teori soal bunuh diri itu hampir semuanya ada pada saya.

Nggak perlu saya jabarin satu-satu yakh? yang pasti saya mah jadi tiba-tiba mikir aja…masa iya? tapi mungkin emang ada benarnya juga. Secara nih ya, secara sadar terkadang saya merasa “sedikit” putus asa dan hampir menyerah. Tapi disisi lain saya ini sama sekali nggak siap dan merasa bahwa tindakan-tindakan menyakiti dan membahayakan diri sendiri itu adalah tindakan yang sia-sia, saya tidak bilang bodoh. However, saya selalu menghormati keputusan orang yang melakukan suicide.

Kenapa saya menghormati mereka?

Lepas dari segala ceramah tentang bahwa bunuh diri itu dosa, tapi sebagai manusia terkadang saya melihatnya sebagai sesuatu yang mungkin tidak bisa dielakkan. Orang sering memandang rendah masalah yang sedang dialami oleh orang lain, karena mereka sendiri tidak mengalami masalah yang sama.

Atau orang sering menganggap mudah semua masalah pasti berjalan keluar, padahal tidak semua hal terpikirkan. Ketahanan kita pada stress dan masalah, tidaklah sama. ada orang yang begitu easy going dan menjalani hidup ini dengan fun, tanpa beban apa-apa. Karena mungkin mereka berhenti memikirkan orang lain dan omongan mereka. Ada juga orang yang selalu memikirkan masalah yang dihadapinya, meski lambat laun ketemu jalan keluar, atau orang yang memikirkan, bertemu jalan keluar, tapi masih tak bisa keluar dari masalahnya, Kemudian menyerah. Lalu memilih jalan pintas.

Orang bisa saja mencela. Orang bisa saja menghakimi. Meski bunuh diri adalah cara yang mungkin saja dikutuk, tapi bagaimanpun itu adalah sebuah keputusan. Dan ketika menyangkut keputusan, kita berhak dan bisa apa? Kalau yang kita lakukan untuk mengintervensi keputusan itu saja sudah tak mampu.

kecenderungan itu ada pada saya…dan bisa jadi ini seperti bom waktu. Tapi saya tidak berharap untuk mengambil sebuah keputusan yang salah, dan mampu menemukan opsi-opsi lain yang lebih membahagiakan. :D

saya sih masih takut mati, karena hidup masih belum benar…

dan ketika sudah tak takut lagi, saya ingin mati dengan cara yang indah..tidak dengan memaksakan diri…

i just wanna die in my old age…peacefully :D

*topiknya ngeri sih emang, tapi semoga layak untuk jadi bahan perenungan..and oh yeah, i’m not intend to commit a suicide…i’m still love my life..*

Published in: on January 7, 2012 at 10:52 pm  Leave a Comment  
Tags: