Aku masih ingat saat pertama kali ketemu kamu. Kamu masihlah kecil. Masih anak-anak. Kamu memandangiku dari jauh dengan takut-takut lalu bersembunyi di balik punggung ibumu. Justru dia kemudian meninggalkanmu sendiri dengan mendatangiku. Kami cepat sekali akrab. Ibumu tak pemalu seperti dirimu. Sementara kami berakrab-akrab, kamu memilih untuk menjaga jarak. Tak apa, suatu saat kau pasti jadi milikku, pikirku saat itu.
Butuh waktu untuk membuatmu takluk. Kamu sering menolakku. Pergi menjauh dan tak peduli, atau hanya memandangiku sekilas ketika namamu kupanggil. Sekali lagi tak apa, suatu saat kamu pasti jadi milikku.
Dan benar pun, kemudian kamu sendiri yang mendekat dan berakrab-akrab denganku hanya untuk mencoba menarik perhatian. Aku sebal. Dulu kamu tidak mengacuhkanku dan sekarang kamu merasa bahwa aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Sekarang giliranku untuk jual mahal, meski sebenarnya aku tak tega.
Mungkin kamu belajar dariku tentang arti dari sikap tak mudah menyerah. Usahamu kuakui luar biasa. Dengan kedua bola mata itu kamu memandangku dan seolah mengatakan “Ayolah, kamu tak akan bisa menolak pesonaku. Aku terlalu berharga untuk diacuhkan begitu saja,” Dan nyatanya aku memang tak bisa berlama-lama abai akan keberadaanmu.
Siang itu setelah sekian lama, akhirnya kita duduk berdua.
“Kamu sudah makan?” tanyaku. Dan kamu pun diam. Tapi aku tahu kamu belum makan. Kamu tak perlu malu, kedua bola mata itu mengatakannya padaku. Urusan perut, tabu jika malu-malu. Kamu bisa mati kalau selalu ngurusin gengsi. Bilang saja kamu lapar dan masalah pasti selesai.
Lalu kita berdua makan siang. Tentu saja dengan menu yang berbeda. Aku tak ingin memanjakanmu disaat-saat ini. Aku masih sebal. Tapi aku senang kamu makan dengan lahap. Kamu bahkan tak peduli dengan beberapa pertanyaanku tentang ibumu, dimana dia, dan apa yang dia lakukan sekarang. Sepertinya yang kamu pedulikan hanya makanan di depanmu, tidak ada yang lain. Dan aku hanya angkat bahu.
Dan sejak saat itu kita jadi sering bertemu. Hanya sekedar duduk-duduk dan tidak melakukan apa-apa, lalu aku akan bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Dan karena kamu masih kecil, kamu hanya diam saja, seperti biasa, sibuk dengan dirimu sendiri. Lalu tertidur lelap di dekatku. Lalu aku akan mengangkatmu ke tempat tidurku. Dan kita akan terlelap bersama disana. Dan ketika aku terbangun, kamu sudah tak ada disana, pergi entah kemana.
Ada masa dimana aku merindukanmu ketika kita tak bertemu. Aku bertanya-tanya kemana kamu hari ini. Kenapa tidak menungguku pulang seperti biasa? Tapi aku tidak berusaha mencarimu. Kalau kamu sama rindunya denganku, kamu pasti akan datang.
Buatku, tidak mudah mencari teman. Pengalaman mengajarkanku untuk selalu waspada dengan manusia. Mereka makhluk yang luar biasa. Terlihat manis di hadapan mata, tapi kejam luar biasa ketika kau berbalik memunggunginya. Mengaku teman, tapi tak pernah bisa bertingkah selayaknya teman. Pun dengan apa yang mereka sebut cinta. Tak mudah mencarinya, sungguh. Kau bisa kesana kemari mencari, tapi lalu bertemu dengan mereka yang hanya menyakitimu dan membuatmu takut. Menyakitimu luar dalam dengan pengkhianatan dan akhirnya meninggalkan dirimu sendirian tanpa ada sisa rasa percaya. Dan sejak saat itu aku hidup dalam duniaku sendiri, dengan dinding yang kubangun perlahan-lahan.
Dan kamu, kamu datang dengan segala rupa tak bersalahmu. Meski menjengkelkan tapi aku tahu aku jatuh cinta. Dan sekarang kita melewati masa-masa ini bersama. Kamu semakin besar dan menua. Mungkin kalau dihitung-hitung usia kita hampir sama tuanya. Ah, betapa waktu begitu cepat berlalu…
……
Seorang dokter keluar dari ruangan kecil itu..wajahnya terlihat cemas, tapi setelah itu dia tersenyum padaku.
“sudah saatnya,” dia bilang. Dan akupun masuk keruangan serba putih itu. Kamu terbaring disana. Nafasmu tersengal-sengal lemah. Kamu mengangkat kepalamu ketika aku datang seakan mengatakan bahwa kamu ingin pulang.
“Nanti kita pulang…” ucapku lirih sambil menahan air mataku jatuh. Aku berlutut dihadapanmu. Kepalamu miring, matamu terbuka sayu dan memandangku dengan tatapan letih. Bukan lagi dua bola mata yang lucu itu, tapi kamu menua sayu. Aku tidak ingin kamu melihatku menangis. Tapi aku tidak bisa. Setitik air mataku jatuh saat aku membelai kepalamu yang tergolek miring.
“Maafkan aku…” kembali aku berbisik padamu. Dokter Ayu memegang pundakku lembut dan mengatakan bahwa sekaranglah saatnya. Dan aku bilang “sebentar,” lalu menciummu lembut. Dan memeluk tubuhmu erat. Dan aku bisa merasakan perutmu naik turun. Kamu masih bernafas, tapi lemah. Dan tak lama kemudian hilang..dan makin hilang, seiring dengan jarum yang disuntikkan dokter Ayu ke tubuhmu.
Lalu kau pergi dengan cepat..dalam damai. Aku terisak tertahan. Menangisimu yang telah menjadi temanku selama bertahun-tahun ini. Aku menangisimu yang meninggalkan aku dalam sepi lagi.
PS : Cerpen ini saya buat dalam rangka ikut berpartisipasi di Project Nulis Buku [dot] Com Semarang


