Post #22 – 2014 Tumbuh Bersama Tulisan

Pernah nggak sih Anda perhatikan tulisan yang selama ini anda buat? Dari mulai yang jaman pake buku harian (kalau sudah selama itu Anda menulis) sampai sekarang jaman digital, dimana Anda bisa curhat, menuliskan apa yang sedang dipikirkan berdasar dari apa yang Anda lihat, sampai hanya sekedar iseng bikin puisi. Apakah anda melihat ada perubahan disana?

Pasti iya.

Masih belum yakin? Coba dilihat lagi. Bandingkan tulisan hasil buah pikir dan perasaan Anda, yang dulu dan sekarang. Apakah Anda sudah melihat perbedaannya sekarang?

Coba, ketawa nggak Anda? Paling tidak senyum lah ya?

Menganggap diri Anda sendiri konyol?

Tenang, anda tak sendirian. Karena saya pun juga begitu.

Seingat saya, saya sudah mulai suka menulis di buku harian sejak SMP. Saya lupa-lupa ingat bentuk diary pertama yang saya punya. Tapi saya tahu, dulu saya punya diary yang baunya wangi, dan kertasnya warna-warni. Dari yang mulai ukurannya kecil, sampai yang segede agenda kerja. Dan seingat saya, buku-buku tersebut masih tersimpan rapi di sebuah kardus yang ditumpuk dalam lemari di kamar kos saya.

Kebiasaan curhat dengan frasa awal “Dear Diary,” berlanjut sampai SMA. Lalu ketika masuk ke dunia kerja, medianya sudah berubah. Dulu, 3 tahun awal, masih belum kenal media sosial, karena saat itu memang belum terlalu populer. Waktu di pekalongan, saya masih belum punya akun media sosial kecuali satu akun email untuk urusan kerja. Dan 3 tahun itu kegiatan tulis menulis otomatis berhenti. Sudah malas mengisi diary.

Saat pindah ke Semarang, saya mulai kenal dengan Friendster. Ah, media sosial pertama yang bikin heboh! Sebelum Facebook, Friendster berjaya bersaing dengan banyak platform lain macam MySpace. Yang terakhir, saya tak terlalu tertarik. Ya lewat Friendster itu saya sempet eksis. Dan serunya, Friendster menyediakan fasilitas blogging. Waktu itu Blogger belum sepopuler sekarang. Apalagi wordpress, waduh, belum kenal!

Lewat friendster lah saya banyak menulis. Kebanyakan sih masih tentang curhat. Dan tahu nggak, saya masih punya hard copy semua tulisan saya di Friendster lho? Sebelum Friendster kehilangan popularitas, saya lebih dulu merasa bosan dan merasa harus menutup akun. Dan terkopilah semua tulisan di blog Friendster ke dalam folder, dan  diprintlah satu-satu sebagai kenangan. Jejak blognya di dunia maya mungkin masih ada.

Melihat kembali bagaimana tulisan-tulisan itu dibuat, saya merasa geli. Saya merasa begitu naïf saat banyak dari tulisan itu dibuat berdasarkan perasaan galau – begitu kita menyebutnya sekarang. Dulu saya nggak tahu, sebagai jenis perasaan apakah itu. Yang saya tahu, setiap saya sedih, saya pasti bisa menulis panjang lebar.

Walaupun masih bisa membuat geli dan malu, tapi saat melihat kembali, tulisan “galau” di buku harian dan di blog Friendster ini kok berbeda ya? Ada semacam transformasi yang kasat mata. Masih galau sih, kadang juga cengeng dan menye-menye. Tapi melihat bagaimana tulisan itu dibuat, dari pilihan kata dan cara merangkai kalimat, saya merasakan ada sebuah perbedaan. Sebuah perkembangan pola pikir dan kemampuan untuk menerjemahkan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Saya merasa sedikit lebih dewasa, dan berfantasi dengan lebih liar. Maksudnya begini, dulu, ketika jaman “Dear Diary,” saya pasti akan menuliskan apa adanya tentang perasaan saya. Yaaa, okelah, ada beberapa hal yang disembunyikan dengan jurus “Bukan Nama Sebenarnya”. Tapi saat menggunakan blog di Friendster, saya seakan mampu merubah perasaan menjadi sebuah cerita fiksi yang terasa nyata. Tentu saja, karena didasarkan pada pengalaman (hati) pribadi. Kalau lagi sedih, saya bisa bikin sebuah cerpen yang sampai-sampai seorang teman sempat bertanya “Ini beneran kejadian ya Mas?”. Secara, saya senang menggunakan kata ganti “AKU” sebagai penggambaran tokohnya. Hahaha.

Tapi itu dulu. Saat dimana beban hidup dan pekerjaan belum seberat sekarang. Boro-boro mikirin fiksi, menulis kisah nyata saja kadang malas. Apa yang ditulis sekarang kembali seperti apa yang dilakukan saat jaman “Dear Diary” dulu itu. Minus mellow yang berlebihan tentu saja.

Memerhatikan tulisan-tulisan saat ini, kembali terlihat sebuah perubahan. Saya sudah tidak lagi banyak menuliskan fiksi kisah cinta yang sedih ala sinetron atau harlequin, tapi tulisan-tulisan yang terasa lebih realistis, lebih rasional, walau kadang juga cukup absurd untuk diberi label “BERMUTU”. Saya yang sekarang, mengalami sebuah transformasi baru. Lagi-lagi, tentang bagaimana memilih kata dan merangkai sebuah kalimat, bisa dikatakan, memberikan sebuah gambaran kalau saya memang makin tua. Tidak lebih bijaksana dan tidak lebih pintar memang, tapi di beberapa bagian, seperti tidak ada rasa takut untuk menuangkan perasaan dan pikiran pribadi. Saya yakin, banyak yang tidak setuju dengan hal-hal yang dituliskan, tapi seakan tidak pernah berusaha untuk ambil pusing.

Anda masih akan menemukan “SISI PAHIT” dari tulisan-tulisan saya. Bukan tulisan yang menginspirasi, tetapi saya yakin beberapa diantaranya mewakili banyak kisah dari banyak jiwa, yang merasakan pengalaman yang sama seperti saya, hanya tidak tahu bagaimana menuangkannya dalam sejumlah rangkaian kata.

Beruntunglah Anda yang memulai perjalanan menulis ini sejak dini. Anda akan menemukan bahwa diri Anda berkembang seiring dengan tulisan-tulisan Anda. Bahkan penulis professional pun akan mengalami fase ini. Coba saja anda ikuti tulisan-tulisan mereka, niscaya hal tersebut akan anda temukan. Perubahan itu bisa Anda rasakan. Begitupun tulisan Anda.

Tulisan-tulisan ini menjadi sebuah catatan personal tentang bagaimana kita dulu dan sekarang. Pola pikir, sudut pandang , reaksi, dan semuanya. Bagaimana kita mengalami sebuah perubahan, pendewasaan, dan bagaimana kita bisa melihat bahwa kita memang berkembang. Kita menjumpai, memikirkan, dan bereaksi terhadap sesuatu, dan ketika semua hal tersebut kita tuangkan ke dalam tulisan, kita akan bisa melihat seperti apa diri kita.

Tulisan-tulisan ini, juga bisa menjadi sebuah media pembelajaran pribadi. Kita bisa mengambil sebuah contoh, saat kita marah, sedih, jengkel, atau tidak setuju pada sesuatu, kita menuliskannya. Dan ketika melihat kembali hasilnya entah di kemudian hari, kita mungkin akan merasa “seharusnya saya bisa bereaksi dengan lebih baik” atau “seharusnya saya  bisa melihat hal ini dari sudut pandang yang lain” atau mungkin “seharusnya saya bisa lebih baik dalam merangkai kata dan membuat kalimat” dan sebagainya, dan sebagainya. Namun diluar dari hal teknis tadi, secara tidak langsung kita akan melihat sebuah perubahan dalam diri kita. Bukankah ini merupakan sebuah manfaat dan pelajaran yang bisa dipetik dari tulisan kita sendiri?

Ada banyak hal yang mungkin tidak berubah dalam diri saya. Tapi menulis seperti sebuah self therapy. Saya merasa bahwa sebagai pribadi, diri ini bertumbuh. Dulu sempat berpikir bahwa saya ditakdirkan tidak untuk jadi orang pintar – dan sampai sekarang pun merasa bahwa saya tidak kunjung pintar. Saat kelas 3 SMP, butuh waktu sendiri dan suasana tenang untuk bisa membaca dan mencerna dengan baik isi buku Agatha Christie. Pun ketika sudah lulus SMA dan bekerja, kepala dibuat pusing oleh buku Supernova karya Dewi Lestari. Tapi sekarang, kedua jenis buku itu adalah bacaan yang ternyata tidak sesulit yang dulu saya duga! Kemudian saya percaya, bahwa neuron-neuron otak ini bekerja dengan cara yang berbeda dibanding saat masih muda dulu. Dan menurut saya, kemampuan otak ini pula yang memengaruhi beberapa jenis tingkah laku, memengaruhi cara bersikap, saat menimbang dan memutuskan sesuatu, semuanya menjadi berbeda dari sebelumnya.

Kita memang bukan penulis handal, yang mampu membuat essay berlembar-lembar yang dengan rujukan dari buku-buku terkenal, dimana kita mampu mengutip ini dan itu sebagai dasar supaya kita terlihat luar biasa pintar. Kita juga bukan penulis novel yang bukunya bisa terjual ribuan eksemplar dengan royalty yang bisa buat beli tanah atau rumah tipe sederhana. Kita mungkin hanya penulis sekelas “Dear Diary, hari ini saya begini…hari ini saya begitu.” Tapi apa peduli kita? Bukankah kita sama-sama melihat? Bukankah kita juga bisa merasa? Bukankah kita juga mampu berpikir? Kenapa kita juga tidak menulis?

Ya, kadang saya juga malas. Ada banyak hal yang sudah coba dituangkan, tapi selalu berakhir sebagai pikiran pribadi untuk kemudian menguap entah kemana. Bahkan seorang blogger pun mengalami hambatan. Tapi tak apalah, sepanjang tak berhenti total dari kegiatan ini, nikmati saja masa-masa “CUTI” itu.

Kata orang, tulisan itu seperti berlian – ABADI. Yang lebih ekstrem lagi “buatlah buku setidaknya satu kali saja, sebelum kamu meninggalkan dunia.” Tulisan menjadi sebuah warisan. Dan kalau kita bukan orang kaya, kita masih bisa meninggalkan sebuah jejak yang mungkin saja berguna. Lebih dari itu, kembali pada tema awal tulisan yang cukup panjang tapi kosong makna ini – bahwa tulisan yang kita buat saat ini menggambarkan sebuah perubahan dalam diri kita.

Kalau saya merasa, ada banyak hal yang tidak berubah dalam hidup, saya akan melihat kembali ke dalam tulisan ini dan akan mulai memercayai satu hal : ternyata saya bertumbuh.

Dan semuanya bisa terlihat melalui : TULISAN.

Post #21 – 2014 Time Machine

Ada banyak misteri besar dari dunia. Tapi menurut saya, hanya 3 hal yang matia-matian orang mencarinya dan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya.

Yang pertama : Bagaimana menguasai dunia.

Lalu yang kedua : Bagaimana hidup abadi. Adakah ramuan anti tua dan anti mati di dunia ini?

Dan yang ketiga adalah menciptakan sebuah mesin waktu, yang mampu membawa kita ke masa lalu dan menghapus sejarah kelam dalam hidup, dan menciptakan tatanan hidup yang lebih baik di masa kini dan untuk masa depan.

(tambahkan di komentar kalo ada yang menurut Anda kurang)

Jelas saya tak bisa melakukan yang pertama. Tuhan tidak menakdirkan saya untuk itu. Yang kedua pun sepertinya begitu. Saya menua dan sudah pasti mati. Meski saya tergoda untuk minum ramuan yang membuat saya abadi, jika ada. Hehehe. Dan yang ketiga, saya berharap orang bisa menciptakan mesin waktu. Supaya saya bisa menggunakannya sebentar. Karena entah kenapa, waktu begitu cepat berlalu. *sigh*

Lepas dari itu, ada banyak hal yang begitu ingin saya perbaiki. Apa saja ya? Hmm…let me think..

  • Hubungan saya dengan Ayah, sebelum beliau almarhum tentu saja.
  • Beberapa hal di sekolah saya dulu.

Apalagi ya?

Uhm..mungkin ini. Kalau boleh, saya ingin memperbaiki sesuatu. Saya berharap saya tidak pernah ketemu dan kenal dengan beberapa orang di masa lalu saya.

Ada yang bilang, apa yang terjadi di masa lalu, membentuk pribadi kita di masa sekarang. Dan apa yang saat ini kita jalani, sedikit banyak melukis bagaimana masa depan kita. Dan tentu saja, ada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi kalau saya boleh “mengedit” cerita hidup saya, saya pengen menghapus beberapa orang yang pernah hadir sebagai cameo di masa lalu.

Bukan, bukan karena peran mereka tidak penting. Tapi justru karena mereka ini sangat penting untuk disia-siakan, saya pengen mereka ini nggak kenal sama saya. Setelah dipikir-pikir, orang-orang ini, cuma dapat sakit hati dengan hadirnya saya dalam kehidupan mereka. Tidak ada lain selain air mata.

Padahal saya tidak pernah berniat begitu.

Tapi kalau mereka sedih dan menangis, dan itu konon kabarnya karena saya, ya saya bisa apa? Apa boleh dibuat dari situasi seperti ini?

Itulah kenapa, kalau boleh, saya pengen menghapus mereka dari Time Line hidup saya. Kalau boleh, saya lebih memilih untuk tidak pernah bertemu dan kenal dengan orang-orang itu. Supaya mereka tidak belajar rasa sakit dan patah hati karena saya. Biarkan orang lain yang melakukannya.  Yang penting bukan saya.

Nggak mungkin ya?

Iya, seenggak mungkin menguasai dunia dan hidup abadi. Memutar waktu jelas akan mengacaukan banyak hal. Dalam film-film digambarkan, orang yang mampu melompati waktu kesana-kemari dan berkuasa untuk merubah sejarah dihadapkan pada masalah moral yang sama. Apakah kita berhak merubah jalan hidup yang sudah dituliskan oleh Tuhan?

Dan pada akhirnya, cerita bermuara pada “biarlah hidup berjalan apa adanya”.

Ya. Tapi tetap saja, saya ingin melompati waktu dan menghapus beberapa bagian, dimana saya bertemu, kenal, dan kemudian dekat dengan orang-orang itu. Itu saja.

Anda pasti akan bilang, menghapus sejarah seperti keinginan saya jelas tidak mungkin. Karena kejadian yang sudah lewat adalah sebuah proses pembelajaran untuk saya dan orang-orang itu. Kami tidak akan pernah belajar arti kesedihan dan patah hati jika kami tidak bertemu. Kami tidak akan pernah menghargai hal-hal dalam hidup. Orang-orang ini, tidak akan pernah menghargai cinta dan perhatian kekasihnya yang sekarang, jika dulu tak pernah patah hati karena saya. Saya juga begitu. Orang-orang ini, mungkin tidak akan pernah tertawa sekeras saat ini, kalau dulu tak pernah menangis hingga ulu hati sakit, karena saya. Dan saya juga begitu. Jadi intinya, kami sama-sama saling belajar.

Tapi sungguh, saya tidak peduli. Biarkan mereka belajar arti cinta dari patah hati bersama dengan orang lain, bukan saya.

Biarkan mereka belajar apa arti tawa saat ini, dari tangis karena orang lain, bukan saya.

Saya ingin begitu. Bukan saya. Bukan karena saya.

Saya tidak ingin belajar sesuatu dari hal-hal seperti itu. Saya tidak ingin belajar sesuatu dari saya yang menyakiti hati orang lain.

Ah, ini seperti kisah Eternal Sunshine For A Spotless Mind.

Saya ingin menghapus kenangan tentang saya di otak beberapa orang. Saya ingin mereka tidak mengenal saya.

Itu saja.

Sudahlah, berikan saja saya mesin waktu.

Post #20 – 2014 Berani?

Banyak undangan nikah bulan ini, bulan depan, dan bulan depannya lagi.

Sebuah cerita tentang kisah mantan pengacara yang putar haluan jadi fashion editor.

Seorang teman yang memutuskan untuk tidak bekerja tetap di sebuah perusahaan dan lebih mengikuti hobinya, yang menghasilkan tentu saja.

Dan masih banyak lagi cerita tentang keberanian seseorang untuk mengambil keputusan.

Memutuskan untuk menikah bukan perkara gampang. Mengubah kehidupan single ke permanent relationship sama saja dengan merubah hidup secara keseluruhan. Ketika banyak orang khawatir dan takut akan kehilangan kebebasan setelah menikah, dan terbayang kerepotan mengurus keluarga, keputusan untuk menikah menjadi sebuah “huge step” bagi orang yang menjalaninya.

Bergaji besar di sebuah firma hukum dan merasa tempat itu bukanlah tempat sebenarnya yang bisa memberikan kebahagiaan, membuat seorang pengacara korporat keluar dan memilih bekerja sebagai fashion editor di majalah Vogue. Ketertarikannya pada dunia fashion membuatnya mengambil keputusan besar untuk resign dan berkonsentrasi pada hal yang disukainya.

Teman saja juga begitu. Keluar dari kerjaannya tanpa bingung dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dia suka. Menulis. Travelling. Ikut event sana sini. Selain mengisi sebuah tempat yang selama ini kosong, dia mulai memuaskan hobinya, dan tetap bisa mendapatkan sesuatu untuk hidup. Bahkan mungkin lebih dari apa yang dia terima dulu.

Masih banyak contoh yang saya sendiri tidak bisa menuliskannya satu persatu disini. Bahkan dibanyak kisah, saya tidak terlalu tahu detailnya. Tapi intinya sama : Keberanian mengambil keputusan.

Dalam banyak kesempatan, saya sendiri tidak berani mengambil keputusan dalam hidup. Sebagai pribadi yang terlalu banyak mikir, ada banyak langkah yang terhenti sebelum dimulai. Ada banyak angan-angan yang hanya sekedar jadi angan-angan. Mimpi yang indah tanpa punya kesempatan untuk diwujudkan. Karena terlalu banyak mikir. Karena terlalu takut untuk melakukan sesuatu.

Saya sendiri punya banyak mimpi. Mungkin orang juga sudah bosan mendengar tentang mimpi-mimpi saya. Karena tak pernah kunjung terealisasi. Sementara saya sudah semakin tua dan kesempatan hidup juga makin berkurang. Tapi saya masih terlalu takut untuk mengambil banyak keputusan besar dalam hidup saya.

Barangkali itulah kenapa saya masih disini-sini saja. Tak bergerak kemana-mana. Bukan, bukan masalah saya tetap tinggal di tempat ini dan melakukan sesuatu yang sama setiap hari. Bukan, bukan masalah itu. Tapi secara keseluruhan, saya melihat hidup saya yang cuma sekedar hitam, putih, dan abu-abu. Padahal banyak warna di luar sana yang seharusnya bisa saya nikmati. Seandainya keberanian itu ada.

Saya bahkan bertanya-tanya, kapan kiranya keberanian itu ada? Kapan kiranya saya tak terlalu banyak mikir, memutuskan apa yang mau saya lakukan, tidak peduli seberapa ruginya. Kalau saya ingin pergi, pergi saja. Kalau saya ingin begini dan begitu, begini dan begitulah yang akan saya lakukan. Seberapa jauh yang ingin saya tempuh, sejauh itu pula saya pergi. Seberapa banyak saya harus kehilangan, sebanyak itulah yang rela saya lepaskan. Ingin seperti itu. Tapi kenapa tidak bisa ya?

Pada titik ini mungkin saya dengan senang hati menyalahkan banyak orang yang turut andil dalam menghancurkan mimpi saya dulu. Tapi sudahlah, saya sudah pernah melakukannya. Dan walaupun untuk beberapa alasan ada benarnya, tapi saya sudah tidak merubah keadaan. Yang sudah lewat ya sudah. Yang terjadi, ya itulah yang terjadi. Memang jalannya sudah begitu. Tugas sekarang adalah, apakah bisa saya mengumpulkan keberanian itu dan mengambil keputusan pada suatu masa dalam hidup saya sebelum saya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi?

Apakah saya sudah siap kehilangan banyak hal setelah saya dengan berani mengambil keputusan?

Apakah orang-orang di sekitar saya juga sudah siap?

Jika iya, saat itulah saya siap.

Saat itulah saya berani.