Post #21 – 2012 Hello Hello

February 20, 2012 - 2 Responses

#melongok ke dalam rumah…sepi amat…Rumah amat aja belum tentu sepi begini euy… sudah lama saya “kering” selama febuari ini. Hihihihi…emang rada hilang kekuatan untuk merubah sesuatu menjadi cerita. Sibuk ceritanya…sibuk ngurusin badan yang sedang terasa tidak enak. Bukan kurang bumbu atau kurang kecap, tapi memang sedang tidak begitu fit. Rasanya lemas sekujur badan dan malasnya sampai ke pikiran.

Eh, tapi ada apa gerangan terjadi selama beberapa waktu ini ya? semuanya serasa lewat begitu saja. Adakah cerita yang layak dibagi?

Saya makin sering bolak balik Semarang – Comal secara sekarang saya punya hari libur yang panjang. Dari jumat malam saya sudah bisa seperti orang-orang di kota besar yang selalu menikmati weekend lebih awal dari yang lain. Jumat malam adalah weekend dan sekarang giliran saya merasakannya.

Seringnya bolak-balik ini karena di Comal ada keponakan saya yang masih lucu-lucunya. Sering bikin kangen dengan ulahnya. senang bisa ngajakin dia jalan-jalan dan mencoba banyak hal baru. Oh ya, di postingan saya sebelumnya saya cerita soal ke “kamso” an keponakan yang takut ngelihat mall dan keramaian. Sekarang malah enggak lho? kalo diajakin ke tempat-tempat ramai udah menikmati. Malah sekarang saya yang susah kalo mau ngajakin pulang. Maunya maiiiiin terus. Nggak papa lah…hehehehe.

Dan karena sering bolak-balik ini juga badan rasanya agak remuk. Maklum sudah tua. Dengan banyak beban pekerjaan dan masih ditambah “nyawer” sana-sini (sok sibuk padahal cuma “mocok”) saya benar-benar mulai ngerasa kewalahan. Saya berharap nggak sampe ambruk. Bukan apa-apa. Saya nggak suka sakit. Apalagi yang sampai bed rest. Karena pastinya saya nggak bisa ngelakuin apa-apa. Bawaan pasti lemes dan males. So i just dont enjoy it

Dan bulan febuari ini saya dapet kabar kalo salah satu cerita pendek saya lolos seleksi dari kumpulan cerpen yang diadain sama @NBCSMG – Nulis Buku Semarang. Itu adalah sebuah komunitas menulis yang sering ngadain project. Nah, project yang kemarin diadakan adalah nulis dengan tema “First Meet’. Eh, saya iseng ikut ngirim satu dan lolos..hihihihi

Nantinya kumpulan cerita itu akan dibukukan dan dipublish secara independen. Kalo ada yang mau beli tinggal pesen nanti bisa dicetakin. Jadi penulis dan nerbitin buku sekarang lebih mudah! Saya malah jadi terpacu untuk menulis lebih panjang lagi dan menerbitkan sebuah buku. Wish Me Luck #CrossFinger

Ya sudah.. i just want to meet you now..kita lanjut lagi next time.. i still have so many things to write…

catch ya’ll later!

Post #20 -2012 (Bukan) Thumbelina

January 26, 2012 - 2 Responses

Kamu tahu siapa itu Thumbelina? Dia adalah gadis kecil yang hidup diantara bunga-bunga. Tubuhnya kecil seukuran ibu jari. Dia lahir karena keinginan seorang ibu yang ingin memiliki putri dan sang peri pun berbaik hati, memberinya seorang gadis cantik yang keluar dari kelopak. Kupu-kupu menyayanginya, bunga-bunga bermain bersamanya, dan kumbang pun mengerubunginya. Dialah Thumbelina. Sama seperti aku, yang tak pernah tahu siapa ibu kandungku.

Atau…pernahkah kamu mendengar cerita tentang momotaro? Pangeran kecil nan sakti yang lahir dari belahan buah persik? Dia ada karena harapan sepasang tetua. Sang petualang kecil yang mampu membalas budi pada orang tuanya dengan berperang melawan raksasa. Dialah momotaro. Yang sama seperti aku, yang tak pernah tahu siapa orang tua kandungnya.

Ibu menemukanku ditepian sungai. Tanpa bunga dan buah persik. Hanya rumput liar dan tumpukan sampah. Ibu bilang aku tak menangis karena terlalu lelah melapar. Bibir biru karena terlalu kedinginan dan kelu. Sementara semut dan nyamuk berebut mengerubungiku. Aku hampir mati jika ibu tak menemukanku disana. Alih-alih melaporkannya pada kepala desa atau membawaku ke kantor polisi, ibu membawaku ke rumah. Menyimpanku untuk dirinya sendiri.

Dia bukan ibu kandungku. Tapi dia memberikanku susu, dia memberikanku hidup. Meski darahnya tak ada dalam darahku, tapi dia benar-benar sayang padaku.

Tidak begitu pada Bapak. Dahulu dia tak menginginkanku. Beberapa kali dia menyebutku sebagai anak sampah. Karena memang aku ditemukan disekitar sampah. Dia tak pernah peduli. Bahkan tak pernah sekalipun aku digendongnya. Dia benar-benar tak menyentuhku. Aku sedih, tapi tak mengapa buatku karena dia bukan bapak kandungku. Buatku, ibu saja sudah cukup.

Ibu bilang, kehadiranku adalah anugerah. Entah sudah berapa kali dia meminta, tapi Tuhan masih belum percaya. Tak pernah seorokpun keluar dari rahimnya sendiri. Dan bapak mengumbar ancaman kesana kemari. Dia akan menceraikan ibu jika dia tak diberi bayi. Tapi nyatanya kesabaran ibu membuat Bapak tak pernah pindah kelain hati. Memang ada gosip kalau bapak beristri lagi di desa sebelah, tapi hal-hal seperti itu tak pernah terjadi. Bapak bilang, bapak lebih suka mabuk dan berjudi daripada main perempuan. Ah bapak, itu semua tak ada bedanya. Semuanya sama. Sama menyakitkan untuk hati ibu.

Ibu berharap banyak dariku. Dia bilang siapa tahu aku bisa jadi anak pancingan. Aku bertanya apa itu pancingan. Dia menjelaskan, Tuhan akan membalas semua kebaikannya saat merawatku. Saat itu Tuhan tahu bahwa ibu sudah siap untuk mengemban amanat. Dan dia akan memberinya bayi yang lahir dari rahimnya sendiri. Dan Tuhan memang Maha Baik. Dia memberikanku adik lelaki.

Sejak itu bapak berubah. Dia jadi lelaki yang baik. Tak pernah lagi mabuk dan berjudi. Waktunya dihabiskan untuk bekerja dan menimang adikku. Dibanggakannya ia. Diberitahunya para tetangga bahwa desas-desus soal mandul itu tidak benar. Sama sekali tidak benar.

Oh ya…bapak juga berubah sayang padaku. Dia tak pernah lagi menyebutku sebagai anak sampah. Dia mulai membelai rambutku. Dia mulai menggendongku ketika adikku tidur disusuan ibu. Dia bilang aku cantik.

Dan aku memang tumbuh cantik. Yang paling cantik sekampung malah. Banyak pemudi yang iri padaku sementara para pemuda dari desaku dan desa sebelah menaksir aku. Aku jadi merasa seperti Thumbelina yang dikelilingi kumbang, bukan lagi semut dan nyamuk yang berebut.

Tapi bapak melarangku berdekatan dengan mereka. Bapak melindungiku. Dia melarang para pemuda itu mendekat. Dia mengancam dengan gobang. Dia bilang belum saatnya aku berpikir soal cinta.

Aku makin besar. Adikku juga bertumbuh. Ibu semakin tua dan bapak berubah lagi ke kebiasaannya yang dulu. Kehilangan pekerjaan membuatnya kehilangan arah. Tiap hari marah-marah. Ibu dijadikannya sasaran. Bahkan kehadiran adikku tak mampu meredam semua amarahnya. Sering bapak pulang dalam keadaan mabuk. Dan akupun harus rela mengurusnya. Dan bapak menyukainya.

Tahukan kamu siapa itu Thumbelina? Tahukah kamu siapa itu momotaro? Mereka adalah anak yang lahir dari bunga dan buah persik. Mereka tak pernah tahu siapa ibu kandungnya. Mereka tak pernah tahu siapa ayahnya.

Sama seperti aku. Aku bukan anak mereka. Aku bukan anak ibu. Tak ada darah ibu didarahku. Yang ada hanya air susu…dan itupun tak membuatku jadi anak kandungnya.

Dan aku juga bukan anak bapak. Bukan anak kandungnya. Tak ada darah bapak dalam darahku…

..

..

..

Tapi apakah karena itu, bapak boleh meniduriku?

Post #19 – 2012 Jealousy

January 26, 2012 - Leave a Response

Melihatmu dari kejauhan membuatku merasa selayaknya aku adalah penguntit. Yang mengikuti kemanapun kau pergi dan mencuri-curi waktu untuk sekedar tahu sedang apa dirimu, bersama siapa saat itu, dan apa yang kalian bicarakan. Dari sini, dari jauh. Aku  mengamatimu.

Aku kira aku sudah gila. Aku pikir aku terobsesi. Tapi apa mau dikata ini adalah sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Semuanya terjadi begitu saja. Orang bilang, cinta pada pandangan pertama.

Kamu tahu, waktu itu, ketika kau masuk ke dalam lift, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang lain. Aku melihatmu dari deretan paling belakang. Ah ya, darisana. Aku mengintipmu melalui bahu seseorang yang ada di depanku. Dan setelah itu, aku hanya mendapati punggungmu. Rambutmu yang hitam panjang itu menggodaku. Kamu memang bidadari.

Dan sejak itu aku melihatmu beberapa kali. Tempat kerja kita berada pada satu gedung. Itulah kenapa aku hampir bisa melihatmu setiap hari. Dan momen menunggu kau datang adalah momen yang mendebarkan. Sering aku bertanya-tanya, apakah aku akan satu lift lagi denganmu atau tidak? Atau aku hanya bisa melihatmu dari jauh karena aku sedang sial hari itu? Entahlah.

Yang pasti sejak saat itu aku tergila-gila padamu. Ya! Aku Gila! Aku betul-betul menginginkanmu. Entah bagaimanapun caranya, aku hanya ingin kamu!

Tapi…sayang, aku tak seberani itu. Lagi-lagi, aku hanya bisa melihatmu dari jauh..

Oh ya…kalau saja kamu mau berkunjung ke tempatku, akan kuberitahu bahwa di setiap sudut dinding kamarku, ada fotomu disana. Hahaha. Kau mungkin akan bertanya-tanya darimana aku mendapatkannya? Jaman sekarang..apa saja mudah. Kau mungkin tak pernah sadar bahwa setiap aku mengikutimu, akupun menangkap bayanganmu untukku. Hanya untukku. Dan bayangan-bayangan itu yang sekarang ada di dalam kamarku. Menemaniku setiap malam menjelang tidur. Meski hanya sekedar gambar, tapi aku merasa jiwamu ada disini.

Nahkan? Aku sudah gila…karenamu.

Dan aku lebih gila ketika melihatmu berjalan bersama pria itu. Siapa dia? Kekasihmu? Atau hanya teman biasa? Ah, siapapun dia, ingin rasanya aku membunuhnya! Dia tak baik untukmu. Dia hanya….akan menyakitimu. Itu saja. Dia akan membuatmu menangis. Sungguh, dia akan seperti itu. Dia akan membuatmu terluka. Dia akan membuatmu sengsara dengan apa yang dia sebut cinta. Cinta palsu. Tidak seperti milikku. Cintaku asli dan tulus buatmu. Itu juga  kalau kamu menginginkannya. Tapi sepertinya tidak.

Sama seperti siang ini. Kamu tertawa-tawa dengannya dan juga teman-temanmu. Entah apa yang kalian bicarakan. Aku tidak bisa melihatnya. Kau bahagia. Aku senang kau tertawa. Tapi tidak dengan mereka. Aku ingin kau tertawa bersamaku. Hanya denganku. Tidak dengan yang lain.

Apa kamu tahu aku cemburu? Tidak kau tak pernah tahu. Tidak jika aku hanya diam. Bagaimana jika aku kesana sekarang dan mengatakan apa yang ingin ku katakan selama ini? Bagaimana kamu tahu kalau aku hanya duduk diam disini dan termangu?

Kamu harus tahu…

Dengan langkah mantap aku mendatangimu yang duduk di seberangsana. Makin dekat..dan makin dekat. Aku sudah hampir sampai ketika tanpa sadar kau menjatuhkan sesuatu dari meja dan terserak jauh hingga ketempatku berdiri. Sesuatu yang bergambar dirimu dan pria itu.

Itu…undangan pernikahanmu.

Kamu mengambilnya…dan aku juga. Kita bertemu. Baru kali ini benar-benar dekat dan bertemu.

“terima kasih Mbak,maaf merepotkan” ucapmu sambil senyum.

“Ah, tidak apa-apa..” ucapku singkat.

Dan setelah itu aku menjauh.

Ah…Kamu memang selayaknya bersama pria itu, bukan denganku.

Inspired By Jealousy – Will Young

Post #18 – 2012 One Plus One

January 25, 2012 - 3 Responses

Inilah harinya, saat penentuan. Dimana aku akan berjalan menuju altar dan mengikat sumpah denganmu. Setelah sekian lama dan sekian perjuangan, akhirnya aku menemukanmu. Ah, terbalik. Bukan aku yang menemukanmu, tapi kamu yang menemukan aku. “aku melihatmu,” begitu katamu waktu itu.

“apa yang kau lihat? Tidakkah kau melihatku dari ujung rambut hingga ujung kaki?” tanyaku. Kamu tertawa. Lalu memandangku. Sama seperti di film-film romantis itu, kamu terdiam sejenak sebelum berkata “Aku melihatmu utuh. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak ada yang hilang sedikitpun. Dan aku melihat yang ada disini..” kau menunjuk dadamu. “Dan disini,” lalu kau menunjuk pelipismu.

Aku tahu maksudmu meski aku tak sepenuhnya percaya. Mulut bisa saja manis, lidah memang tak bertulang, sama seperti orang-orang bilang. Arahnya bisa kemana saja. Dan meski berbunga-bunga, tapi aku tak ingin sepenuhnya percaya. Bagaimana orang sepertimu bisa jatuh cinta padaku dan memintaku jadi istrimu? Ini hanya perasaan sesaat. Kamu hanya ingin menciptakan sensasi demi kepentingan dirimu sendiri.

Lelaki sepertimu. Hanya ada di dongeng-dongeng pengantar tidur. Yang jatuh cinta dengan seorang gadis berparas jelek yang meski tak berupa, diakhir cerita pastilah menjelma menjadi seorang yang cantik jelita. Sedangkan aku? Aku terlahir seperti ini. Yang meski kau menciumku sejuta kali, masih akan terus seperti ini. Tak akan berubah jadi Cinderella atau putri salju. Aku masih akan jadi aku.

Dan ketika pinangan itu datang, aku hampir melihatnya sebagai lelucon dan guyonan meskipun sebagian dari hatiku bertanya “benarkah?” Aku tersipu sekaligus sedih. Dan kemudian aku berharap kau berbalik niat dan pergi meninggalkanku sebelum hatiku tersayat jauh lebih dalam.

Tapi nyatanya, kau bahkan tidak melukaiku sama sekali. Aku tidak melihat sayatan dihatiku ketika kau mengutarakan niatmu pada ayah dan ibu. Sungguhpun perasaan mereka jauh lebih tidak percaya dengan niatmu dibandingkan aku. Kau orang pertama, begitu yang mereka bilang. Dan kau bilang akan jadi yang terakhir. Dan hari itu bukan luka yang kau torehkan. Tapi selembar satin yang kau balutkan pada hatiku. Hangat.

Dan di depan cermin ini aku mengenakan cadar pengantinku. Bersiap untuk menemuimu. Perlu waktu untuk menenangkan diri bahkan hingga disaat-saat terakhir seperti ini. Berbagai pertanyaan kemudian muncul. Apakah keputusan ini tepat? Apakah kelak kau akan setia? Bagaimana kemudian jika kau meninggalkanku? Bagaimana jika janji tinggallah janji? Lalu bagaimana aku harus menuntutmu? Sejenak aku takut. Andai saja aku berlari dan meninggalkanmu saat ini karena ketakutan yang muncul tiba-tiba itu, aku pasti akan melakukannya. Tapi sayang sekali aku tidak bisa.

Kemudian Ayah dan ibu masuk ke kamar ini…

“Kau sudah siap?” tanya Ayah. Aku hanya terdiam. Lalu dia bilang aku cantik sekali dan kemudian menyeka kedua sudut matanya yang mulai banjir dengan air mata. Akupun ingin menangis tapi ibu melarangku. Lalu dia membantuku mengenakan kerudung pengantin itu. “ibu bahagia,” ucapnya lirih. Kami berpelukan.

Di luar kau sudah menungguku. Berdiri gagah seperti raja di depan pendeta. Dengan baju rapi dan dasi kupu-kupu, aku hampir tak mengenalimu. Kau bukan orang yang akan menikahiku. Kau bahkan terlihat lebih tampan dari saat meminangku dulu. Disana kau berdiri dan melihatku sembari tersenyum. Seperti tak sabar kamu terlihat gugup. Apakah kau baik-baik saja?

Dan para tamu memandangku dengan wajah bahagia. Mereka mungkin tak akan percaya bahwa hari ini kita akan mengikat janji. Mereka pasti berpikir aku sangat beruntung bisa kau nikahi. Ah, aku lebih dari beruntung. Bahkan aku merasa, aku sudah mencapai surga. Setidaknya biarkan saja seperti itu. Biarkan aku menganggap aku berada di surga dan menikahi salah satu malaikat Tuhan, yaitu kau.

Kau sudah tak sabar cinta…kau terlihat seperti itu…Tapi tunggulah aku sayang, Ayah sudah menua untuk mendorong kursi rodaku ini hingga depan altar.

Sabarlah menungguku…

..

..

inspired By Beyonce’s One Plus One