Post #75 – 2014 Orang-Orang Kita Ini…

gradeTergelitik oleh sebuah status BBM sepupu saya beberapa hari lalu, saya akhirnya memutuskan untuk sedikit menuliskan apa yang ada di pikiran saya.

Sebuah kalimat “Apa? Menteri lulusan SMP? Merokok dan tatoan pula? Mau jadi macam apa Negara ini? Makin liar aja kayaknya Indonesia”

~ kurang lebihnya begitu. Saya cuma mikir, hampir persis sama saya, emosional, dan suka nyeplos apa adanya tanpa tahu latar belakang masalahnya. Tapi bedanya, karena saya sudah semakin tua, sudah agak berkurang kadar emosionalnya untuk urusan yang begituan. Kecuali kalo sepeda saya disenggol mobil, baru saya mencak-mencak! Hehehe.

Saya paham siapa yang dimaksud sama sepupu saya ini. Tak lain dan tak bukan pasti soal Susi Pudjiastuti, Menteri kelautan dan Perikanan yang dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat selama 5 tahun ke depan. Sosoknya memang sedang jadi bahan perbincangan. Ya tentu saja karena latar belakangnya yang nggak biasa. Mantan pengepul ikan di Pangandaran sampai kemudian sukses menjadi pengusaha dan pemimpin perusahaan besar di bidang perikanan dan aviasi ini dikabarkan cuma lulusan SMP. Nggak hanya itu, sosoknya yang nyentrik juga jadi perhatian banyak orang. Katanya dia punya tato dan merokok. Salah satu berita yang sempet beredar adalah ketahuan saat merokok di lingkungan istana. Emang jadi bikin geleng-geleng kepala sih.

Tapi mungkin memang begitulah Susi Pudjiastuti. Agak susah meubah kebiasaan yang bersangkutan, itu bisa dipahami sebenarnya. Kita tak bisa meminta dia meninggalkan kebiasan merokoknya dalam sekejap mata hanya karena dia sudah jadi menteri. Kita tak bisa memintanya untuk menghapus tato yang ada di tubuhnya hanya karena kemudian dia jadi menteri. Memangnya kenapa kalo menteri merokok dan bertato? Memangnya harus selalu yang berbadan bersih dan tak merokok?

Saya bukan perokok, tapi mendapati fakta bahwa ini jadi masalah, kok rasanya agak gimanaaa gitu ya? Ya sudah sih, wong merokok itu kan pilihan, meskipun saya sendiri akan lebih bahagia kalau akhirnya Bu Susi bisa mengurangi konsumsi rokoknya. Demi kesehatan, katanya sih begitu. Tapi siapa menjamin kalo tanpa rokok kerjanya bisa maksimal? Siapa tahu malah sebaliknya?

Yang agak mengganggu juga adalah ketika ada orang yang membicarakan soal tingkat pendidikan yang bersangkutan. Memangnya kenapa kalau cuma lulusan SMP? Di dunia ini, banyak orang sukses yang malah nggak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Mereka yang tak pernah belajar banyak teori, tapi langsung terjun dengan banyak aplikasi kerja yang efektif sampai kemudian sukses seperti sekarang. Bahkan seorang Bob Sadino saja konon cuma lulus SD. Memangnya ada jaminan kalo lulusan Sarjana bisa jadi orang sukses yang mampu bekerja demi kemaslahatan orang banyak? Belum tentu, meskipun Bob Sadino, Susi Pudjiastuti, atau siapapun orang sukses di dunia yang nggak pernah jadi sarjana setuju bahwa pendidikan bagaimanapun adalah sesuatu yang penting untuk didapatkan setiap orang. Dan saya yakin mereka akan mendorong orang-orang untuk mendapat pendidikan setinggi-tingginya.

Banyak dari kita yang masih melihat seseorang berdasar dari selembar ijasah yang dipunya. Tak pernah ada kesempatan diberikan untuk mereka yang punya kemampuan, tapi tak cukup beruntung untuk merasakan bagaimana bersekolah atau kegiatan perkuliahan. Lihat saja, mereka-mereka yang “cuma” lulusan SMA kadang merasa jatuh percaya diri ketika harus bersaing dengan lulusan sarjana, meskipun secara pengalaman mungkin lebih dibandingkan yang kuliah. Ya gimana enggak, pengalaman kerja pasti lebih banyak wong begitu lulus sekolah langsung cari duit demi keluarga, sementara yang lain masih jadi mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang, duit abis nodong lagi sama orang tua, lulus berlama-lama karena terlalu banyak kegiatan, dan macem-macemnya. Begitu lulus, susah cari kerja juga. Lha gimana mau dapet pengalaman kerja?

Menuntut ilmu setinggi-tingginya tak pernah memberikan kerugian apa-apa. Ada banyak hal yang dipelajari dan didapat dari bangku kuliah. Mungkin tentang organisasi? Mungkin tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin? Tapi bukan berarti yang nggak kuliah nggak dapet ilmu seperti itu kan? Bahkan saya rasa, lewat praktik langsung di dunia nyata, semua ilmu itu malah lebih oke dibanding hanya yang sekedar teori.

Tapi marilah kita mengesampingkan perdebatan semacam itu. Jika memang seorang Susi Pudjiastuti jadi menteri karena Jokowi percaya dia punya kemampuan, kenapa tidak? Kenapa harus ada keraguan hanya karena dia nggak lulus SMP, Bertato, dan merokok? Picik sekali.

Terus terang, saya tidak membela siapa-siapa. Saya tidak berada dalam kubu manapun. Tidak KMP, tidak pula KIH. Saya abstain dalam pemilu kemarin. Malu? Tidak. Saya tetap akan jadi warga Negara yang baik. Bayar pajak, taat hukum, tak berusaha jadi kriminil, dan lain sebagainya. Dan saya juga cukup sadar, karena saya abstain, hak protes saya pada Negara otomatis dihapuskan. Saya tak berhak koar-koar mencela atau mencak-mencak ketika tidak setuju dengan keputusan para penyelenggara Negara. Paling juga ngomel sendiri kalo ngeliat kelakuan para anggota dewan yang suka nggambus. Tidur di ruang rapat, jalan-jalan karena alasan studi banding dan lain sebagainya.

Sekali lagi yang perlu dipikirkan adalah yang terjadi sekarang adalah salah satu yang mungkin terbaik. Mana bisa kita maju kalo ada yang mau ngajak kita lari aja udah dijegal? Mana bisa kita maju bareng-bareng kalo yang itu mau lari tapi kita lebih milih duduk hanya karena nggak suka sama si pemimpin marathon? Kenapa kita nggak lantas sehat bareng-bareng?

Ya yang penting kita lihat kerjanya dulu. Nggak usah ribut soal hal-hal remeh yang nggak relevan sama kerjaan. Baru nanti kalau ada yang salah, kita peringatkan. Mau protes silakan, mencak-mencak ya monggo aja, silakan nggak akan ada yang keberatan. Gitu kan?

 Eh btw, saya kan abstain? Mana boleh ya ngomong beginian?

Post #75 – 2014 Orang-Orang Kita Ini…

Post #74 – 2014 Caution : Backstabber Everywhere

cutionSeorang teman mengirim sms kemarin siang. Intinya dia cerita kalau salah seorang koleganya mengadu pada HRD dan owner tempat dia kerja, kalau teman saya ini sering keluar jalan-jalan pada saat jam kerja. Mungkin masih ada lagi bumbu cerita yang lain, secara kalau pengaduan semacam itu pasti tak cuma terima manis dan asin saja, tapi lengkap dengan bumbu komplit termasuk yang pedes-pedes. Pada kenyataannya – menurut teman saya ini, kegiatannya di luar kantor itu telah disepakati terkait dengan jadwal kuliah yang bersangkutan. Awalnya sih tidak bermasalah, namun kemudian hal seperti ini diungkit-ungkit sampai akhirnya keluar memo kalau pegawai yang berkuliah tidak diperkenankan bekerja disana lagi.

Dipecat bagi teman saya ini mungkin sakitnya tak seberapa dibandingkan menemukan fakta bahwa rekan sekerja yang (katanya) punya tingkat ignorance tinggi pada perusahaan, hampir tak pernah becus bekerja, dan selalu cari aman malah tega mengadukan teman saya ini pada HRD, bahkan sampai ke owner. Saya bisa mengerti.

Ini bukan curhatan pertama kali dari teman saya ini terkait rekan kerjanya. Makanya saya nggak kaget dan cuma bisa bilang, “Nah kaaan, udah dibilangin kok..”

Mungkin inilah yang membuat saya kemudian berpikir. Mungkin saya atau teman saya ini selalu jadi pekerja “mediocre” yang tak akan pernah sukses karena tak pernah bisa “makan teman” dan menjilat sana-sini demi posisi aman di tempat kerja. Kami tak pernah bisa kejam pada siapapun, tak tegaan, selalu berusaha melindungi, meski kemudian dikhianati. Dan pada akhirnya orang-orang seperti teman saya ini yang selalu tersingkir. Bisa jadi.

Bicara soal “makan teman”, saya pernah kesandung masalah dengan salah satu rekan kerja disini. Suatu kali si teman saya ini – yang seorang ibu menyusui, keluar kantor saat jam istirahat demi menunaikan kewajibannya. Saya tidak melihat sesuatu yang salah dari kegiatan ini. Memangnya kenapa? Wong saat itu jam istirahat kok, kan itu hak dia untuk melakukan apa saja? Tidak harus stay di kantor dan melakukan apapun disana kan?

Nah, suatu hari salah seorang staff HRD nanya sama saya – yang waktu itu masih jadi koordinator, “Si Mbak kemana?” ya saya jawab saja “Pulang, nyusuin anak” Sekali lagi, saya tidak punya alasan untuk menjawab dengan jawaban yang lain karena saya masih tidak bisa melihat apa salahnya dari keluar kantor saat jam istirahat dan menyusui anak barang 20-30 menit. Tapi ternyata, hal ini dipermasalahkan oleh pihak perusahaan. Saya pun bingung, ditambah si Mbak agak kecewa dengan jawaban saya. Kenapa saya nggak menjawab dengan jawaban lain saja? Kenapa saya nggak bisa melindungi dia yang notabene adalah rekan kerja saya di tim yang sama?

Waktu itu saya bingung dan merasa bersalah. Kenapa saya harus memberikan jawaban yang lain? Hemat saya, dengan jawaban itu kantor juga harus tahu bahwa apa yang dilakukan si Mbak ini sama sekali tidak melanggar aturan. Tidak ada aturan tertulis yang menyebutkan dilarang keluar kantor untuk berkegiatan selama jam istirahat. Tidak ada aturan tentang dilarang pulang dan menyusui anak saat jam istirahat. Malah kalau memang ini dipermasalahkan, saya akan jadi orang pertama yang berdiri di depan untuk melakukan protes. Saya siap jadi tameng kalau memang teman saya ini kena masalah.

Tapi seperti yang sudah-sudah, hal-hal semacam ini selalu dibahas diam-diam antar personil dan saya tak bisa melakukan apa-apa, karena toh si Mbak juga sudah kecewa. Satu hal yang jadi pelajaran saya adalah, saya harus berhati-hati untuk berbicara mengenai rekan sekerja saya, terutama kepada atasan. Saya harus berpikir 2 kali jika ada informasi yang dibutuhkan oleh mereka mengenai yang bersangkutan. Meskipun selama ini saya selalu berusaha untuk tidak mengatakan apa-apa yang buruk tentang teman sejawat di hadapan bos. Buat saya, cacat rekan sejawat adalah “racun yang hanya perlu ditelan sendiri”. Tidak ada alasan untuk menjelek-jelekkan mereka hanya demi keuntungan pribadi. Saya bukan tipe seperti itu. Karena saya sadar diri, saya tidak sesempurna itu sebagai pegawai. Tapi kalau ada yang merasa saya pengadu, ya saya mohon maaf. Tidak pernah bermaksud.

Kembali pada teman saya yang baru diadukan oleh rekan sejawatnya itu, sekarang dia dituntut untuk resign dari tempat kerjanya. Saya bilang sih kalau dia tak perlu menunda-nunda untuk membuat surat yang dimaksud. Tidak perlu ada kekawatiran dan ketakutan berlebih karena akan menjadi pengangguran (semoga untuk sementara waktu). Karena insya Alloh masih ada peluang di tempat lain, meskipun nanti ketemunya juga orang-orang macam si teman sejawat yang suka mengadu dan tak pernah bisa bekerja sama.

Kalau buat saya sih, situ pecat saya, situ yang rugi. Habis perkara. Setel percaya diri saja kalau kemampuan kita mungkin lebih dibandingkan yang lain. Kalaupun kemampuan sama, setidaknya attitude kita lebih dibandingkan yang lain. Selalu saja nilai plus yang bisa dijadikan pegangan untuk jadi seseorang yang lebih dibandingkan orang lain, tanpa harus menyombongkan diri tentunya. Apalagi saya tahu kalau etos kerja si teman saya ini memang cukup baik, meskipun kadang orangnya kaku sebagai pemimpin. Tapi dibandingkan dengan teman yang suka mengadu, si teman saya ini jauh di depan lah.

Saya tak pernah bisa mengerti kenapa ada orang yang tega untuk menjerumuskan temannya sendiri hanya untuk mengamankan posisi pribadi. Tapi kalau mau dilihat-lihat lagi, jaman sekarang, jaman cari kerja susah, semua cara bisa saja dihalalkan. Ketidakamanan diri menjadi pemicunya sampai kemudian sikut sana sikut sini. Saya sih yakin, orang-orang seperti ini tinggal tunggu waktunya aja “kecentok” sama masalahnya sampai kemudian si Owner tahu bagian mana yang benar dan salah. Dengan cara inilah saya membesarkan hati teman saya ini.

So the moral of the story is tak pernah ada ketenangan hidup dari sebuah kesuksesan yang didapat dengan mengorbankan jiwa orang lain, terutama teman sendiri. Meskipun pada akhirnya, skala kesuksesan memang tak pernah ada ukurannya, tapi setidaknya pencapaian pada sesuatu tanpa melukai pihak lain adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dirayakan. Bukankah begitu?

Post #74 – 2014 Caution : Backstabber Everywhere

Post #73 – 2014 John Grisham’s The Associate

"koleksi pribadi"
“koleksi pribadi”

Kyle McAvoy adalah seorang mahasiswa Hukum tingkat akhir yang menunggu kelulusan. Sebagai salah satu mahasiswa penuh prestasi, Kyle bercita-cita ingin mengabdikan diri sebagai pengacara Pro Bono dan membela hak imigran yang terjerat kasus hukum. Tawaran dari firma hukum di New York tak membuatnya tertarik. Namun menjelang wisuda, sebuah kejadian membuatnya harus memikirkan ulang prioritas kerjanya. Terjebak dalam sebuah dilema ketika orang-orang yang mengaku sebagai FBI menggiringnya ke dalam sebuah masalah. Video berisi rekaman kegiatan di sebuah pesta yang menjadi liar menjadi bahan untuk menjebak Kyle.

Meskipun tak terlibat dalam adegan yang diklaim sebagai tindak perkosaan, Kyle mau tak mau harus menuruti skenario yang sudah diatur oleh orang-orang yang mendatanginya. Karena tak mau video itu menyebar luas dan mengancam masa depannya, Kyle merubah semua rencananya. Masuk ke dalam sebuah firma hukum besar hanya demi menjadi mata-mata dan mencuri banyak dokumen penting terkait dengan sebuah kasus besar yang ditangani.

Dokumen-dokumen ini rencananya akan diserahkan kepada para pemeras sebagai bahan kajian oleh firma hukum lawan demi memenangkan pertarungan di pengadilan. Dalam perjalanannya, Kyle merasa harus melakukan perlawanan. Dengan bantuan beberapa teman dan ayahnya, Kyle mulai merubah skenario yang sudah dirancang oleh si pemeras. Berhasilkah usahanya?

The Associate adalah buku kesekian karya John Grisham yang saya baca. Saya minta dari seorang teman yang sudah lama membelinya, tapi tak pernah rampung membacanya. The Associate masih menyajikan konflik seputar hukum yang dibumbui oleh Thriller khas John Grisham. Mafia dan bagaimana kerja sebuah firma hukum masih menjadi salah satu unsur utama dalam buku karya John. Tentang penagihan jam kerja dan betapa gilanya para pengacara yang rela melakukan apa saja demi kemenangan di meja hijau.

As always, membaca novel John Grisham seperti menonton sebuah film jaman 90-an. Tidak ada sesuatu yang baru. Cukup menyenangkan sebenarnya, kalau tak bisa dibilang membosankan.

Tapi lumayanlah untuk sebuah buku bacaan.

Post #73 – 2014 John Grisham’s The Associate