Post #41 – 2014 Setelah 3 Tahun

Horeeee…

Akhirnya, setelah 3 tahun (kurang 2 bulan :D ) saya menyelesaikan masa tugas sebagai Koordinator Tim Siar. Sebenarnya sih masih akhir September nanti, tapi saya minta dipercepat untuk menyelesaikan masa tugas saya. Kebetulan disetujui dan sampai dengan beberapa periode ke depan jabatan ini akan dipegang oleh rekan saya yang lain.

Selama kurang dari 3 tahun ini saya sadar banyak hal yang masih tak bisa saya lakukan. Masih banyak kekurangan disana-sini yang harus saya pelajari lagi. Tapi selama 3 tahun banyak suka duka menempati posisi ini. Sukanya? Gaji naik. Hahaha. Tapi nggak cuma itu sih, sedikit banyak jadi belajar memimpin, walau nggak sempurna. Masih sering kalah sama anak buah, hahaha.

Dukanya? Uhm, lebih ke jadi kayak nggak punya waktu buat “nggak mikir” kerjaan sih. Kalau pas libur adaaaa aja masalahnya. Penyiar yang nggak datang siaran lah, atau tiba-tiba ada yang ijin nggak bisa siaran secara mendadak. Kadang ga enak kalo minta yang lain gantiin, untungnya sih semuanya kooperatif ya? Kalo pas nggak ada yang bisa, akhirnya mau nggak mau saya yang maju.

Tapi sejauh ini sih saya baik-baik saja. Meskipun dalam 3 tahun sudah 2 kali tipes ~ hahahaha ga ada hubungan sebenarnya, tapi alhamdulillah waktu menghantarkan saya ke penghujung masa tugas saya. Saya salut sama pemimpin yang berani terima tanggung jawab. Luar biasa! Karena mengatur 30 orang saja saya cukup kewalahan, walaupun pada akhirnya berjalan dengan cukup baik.

Saatnya istirahat dari mikir banyak hal. Mau kembali nyari inspirasi buat bikin tulisan. Berkutat kembali dengan CD2 sample dan materi-materi lagu.

Terima kasih buat semua yang sudah bekerja sama!

Jangan nakal sama Koordinator yang baru nantinya…

:p

Post #40 – 2014 Ibu

Ibu.

Dimana ibu?

Aku mengerjapkan kedua mataku dan tak menemukan ibuku. Dia tidak ada disana. Dimana ibu?

Aku mulai memanggilnya berulang kali.
“Ibu! Ibu! Dimana kau?”

Aku berteriak sekeras mungkin tapi sepertinya Ibu tak mendengar suaraku.
Sepertinya semua usahaku sia-sia. Ibu tak ada disana, dan aku tak tahu dimana dia.
Suaraku hampir parau, dan aku sudah mulai lelah. Aku mencari kesana kemari, bertanya pada para tetangga, tapi mereka bilang mereka tak melihatnya. Bahkan ada yang hanya diam sambil tertunduk lesu seperti tak peduli.

Ibu. Dimana engkau.

Aku mulai khawatir. Jika ibu tak ada, bagaimana nasibku.

Aku paling dekat dengan ibu dibanding saudaraku yang lain. Sejak kecil aku memang berbeda dibandingkan ketiga saudaraku. Meskipun kami sama-sama mencintai ibuku, tapi mereka lebih mandiri daripada aku.

Ketika masih sama-sama kecil, kami suka mengikuti ibu kemana kami pergi. Kami tak pernah jauh darinya. Ibu adalah sosok paling protektif, terutama padaku, si bungsu. Aku merasa ibu paling sayang padaku. Bahkan saudara-saudarakupun pernah bilang bahwa ibu pilih kasih. Meski ibu menyangkal dan mengatakan bahwa cintanya untuj kami berempat, nyatanya mereka tak percaya. Dan ketika beranjak remaja, mereka lebih memilih berpisah dan menikmati hidup mereka tanpa ibu.

Sedangkan aku, masih setia menemani ibuku yang semakin menua.

Dan sekarang, kemana ibuku? Apakah dia tak tahu kalau saat ini aku sangat takut? Apakah dia tidak sadar bahwa aku sangat mengkhawatirkannya?

Sebentar, sepertinya aku mendengar suara ibuku.

Aku menghambur keluar dan bersiap menyambut ibuku. Ingin aku berteriak padanya dan menuntut penjelasan darimana saja dia?

Tapi aku kecewa, suaraku tertahan ketika yang kulihat bukan sosok ibuku. Tapi entah ibu siapa. Dia bertanya apakah kau baik-baik saja? Aku hanya diam dan malu. Dan aku kembali pada kesedihanku.

Ibu, kau dimana?

Aku mulai berpikir bahwa sebenarnya ibu tak pernah menyayangiku. Cintanya hanya cinta palsu. Selama ini dia hanya membohongi kami, keempat anaknya. Mungkin saudaraku benar, ibu memang pilih kasih. Dan entah untuk siapa kasih sayangnya sekarang.

Aku berdiri di sudut rumahku. Air mataku mulai berjatuhan. Aku sedih sekaligus marah memikirkan perkataan saudaraku bahwa ibu memang tak pernah mencintai kami, terlebih dia tak pernah peduli padaku.

Aku mulai mendengar kasak-kusuk dari para tetangga. Ada yang sampai mengasihaniku. Dia bilang, sudah lupakan saja. Aku bukan satu-satunya anak di kampung itu yang kehilangan ibu. Banyak anak dikampung ini yang sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Kami terbangun dari tidur dan tak bisa menemukan ibu kami. Bahkan beberapa dari kami juga kehilangan ayah sekaligus. Kami tak pernah mengerti, kemana para ibu itu pergi? Kemana ibuku.

Kemudian para tetangga sudah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Berseliweran kesana kemari, entah apa yang mereka cari. Ingin aku mengikuti jejak mereka, bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu. Tapi aku tak mampu. Aku masih memikirkan ibu.

Ibu. Dimana kau?

Para tetangga riuh ketika sesosok raksasa melangkah ke kampung kami. Suara langkah kakinya berdentam-dentam. Para tetangga berteriak dan berhamburan kesana kemari.

“Ada apa ini?” tanyaku.

Mereka tak mendengarnya. Sibuk menyelamatkan diri.

“Tolong! Jangan aku! Jangan anakku!” begitu suara yang kudengar dari mulut seorang wanita tua yang tak jauh dariku.
Sementara di tempat lain, seorang anak kecil menangis kencang bersahutan dengan anak lainnya.

Sepertinya aku pernah bertemu dengan sosok raksasa ini. Tapi aku lupa kapan dan dimana.

Raksasa itu semakin dekat. Dia menenteng sesuatu. Aku mengenalinya. Jantungku serasa berhenti ketika aku melihat sosok ibuku tergolek lemas seperti tak bernyawa. Darah segar mengucur dari lehernya. Apa yang terjadi? Apa yang raksasa itu lakukan?
Dan sepertinya dia tak sendirian, ada raksasa lain di belakangnya. Seorang raksasa wanita.

Dan raksasa pria itu mendekatiku. Dia mengarahkan pandangannya padaku. Mulutnya menyeringai aneh. Dia mengatakan sesuatu tentang aku. Dia bilang, “sepertinya yang ini saja”

Tapi aku tidak pasti…

Tangan raksasa itu mencengkeramku. Aku terpaku dan hanya bisa berteriak lemah ketika raksasa wanita itu menghampiri pasangannya.

“Jangan yang itu, dagingnya masih sedikit, pilih yang lain saja. Yang agak gedean dikit.”

Raksasa itu melepaskanku. Aku beringsut menjauh.

“Nah, yang itu.” si raksasa wanita menunjuk pada seorang anak remaja yang lebih gemuk dari aku. Dalam sekejap dia sudah berada dalam genggaman si raksasa lelaki. Dia berteriak, tapi tak ada yang bisa menolong.

“Memangnya butuh berapa?” tanya si raksasa pria.

“Dua cukup,” jawab pasangannya.

“Mau dimasak apa?”

“Ibu suka ayamnya dibacem saja, pake sambel tomat katanya.”

Lalu mereka berdua tersenyum dan menjauh.
Mereka pergi. Dan aku terpana. Mereka membawa remaja itu, dan ibuku.

Ibu…

Dan kemudian ada salah satu tetanggaku yang menghampiri sambil berkata, “mereka itu manusia, makhluk paling kejam yang pernah ada di muka bumi.”

Manusia.

Manusia itu membawa ibuku.

Mereka memakannya.

Post #39 – 2014 Hasilnya adalah…

Sebenernya agak males ikut Inhouse Training kali ini. Abisnya diadain pas puasa, takut ngantuk. Tapi ternyata ya nggak juga kok. Angop sih iya, tapi nggak sampe yang mati-matian berjuang supaya nggak ndelosorin kepala di atas meja.

Jadi ceritanya, 2 orang nara sumber dipanggil sama Kantor buat ngasih materi soal Menemukan Passion dalam bekerja dan sharing pengalaman soal Radio. 1 dari Dharmawangsa Enterprise, satunya lagi dari Radio Ardan Bandung.

2 hari materinya sih sama. Jadi sesinya dibikin seru-seruan aja. Sharing sambil belajar sesuatu. Selama acara berlangsung kami diminta untuk melihat kembali ke dalam diri kita, siapakah kita, mau jadi apa kita, apa yang sudah kita lakukan, apakah sudah menemukan passion sejati dalam pekerjaan yang saat ini jadi mata pencaharian utama kita, and bla bla bla.

Lalu pertanyaan lain pun muncul di benak saya.

Untuk apa saya hidup?

Apa tujuan Tuhan membiarkan saya lahir ke dunia?

Buat apa saya bekerja, untuk siapa saya melakukannya?

Apa usaha mu untuk membuat hidupmu berarti?

Terus terang, Mas Aji dari Dharmawangsa ini mungkin terlalu cepet ngomongnya (sampai back and forth dan kadang susah dipahami) tapi seenggaknya ada hal-hal yang bisa dimengerti.

Ketika ditanya apa 5 pekerjaan yang Anda lakukan dengan senang hati?

4 dari 5 jawaban adalah pekerjaan yang berhubungan dengan menulis. Bikin cerpen lah, ngeblog lah, intinya ya gitu. Siaran malah ada di urutan nomer 4.

Sebenernya sih, saya nulisnya random walaupun diurutin dari nomer 1. Tapi bukan berarti yang ada diurutan nomer 1 adalah yang paling prioritas.

Siaran di nomer berapa? 4! Hahaha.

Bukan-bukan, bukan berarti Siaran bukan passion saya. Terus terang saya sudah jatuh cinta dengan kerjaan ini. Sekarang malah lagi kangen siaran gegara pemaparan Mas Indra Aji dari Ardan kemarin soal siaran. Tapi seiring waktu, ada ketertarikan di bidang lain yang mungkin juga jadi salah satu hal yang menyenangkan untuk dikerjakan.

Kalau kata Mas Aji dari Dharmawangsa, Passion itu adalah pekerjaan yang kalau kita lakukan dengan senang hati dan tanpa perasaan terpaksa, mampu membuat kita bahagia dengan apapun hasilnya, itulah dia. Pekerjaan yang sesuai dengan passion kita.

Bukan jenis pekerjaan yang kita lakukan karena memang tidak punya kesempatan di bidang lain. Kalau itu sih terpaksa. Witing trisno jalaran ora ono sing liyo.

Kalau sudah passion apa tidak boleh bosan?

Kalau menurut saya sih boleh banget. Ada kalanya kita bosan pada pekerjaan kita. Meskipun kita boleh bilang kalau kerjaan ini adalah passion saya, tapi pengaruh dari banyak hal, bisa kok bikin bosan. Boleh banget bosan karena terlalu lelah. Tidak ada yang bisa mengukur mood seseorang. Bahkan ketika sebuah pekerjaan yang disenangi pun kemudian jadi pekerjaan yang membosankan.

Bedanya, jika pekerjaan itu adalah sebuah passion, seseorang pasti akan punya cara untuk bounce back lebih cepat daripada orang yang tidak punya passion di pekerjaan itu.

Ya intinya gitulah. Menemukan dan memastikan passion memang tidak mudah. Ada kalanya, terutama untuk orang yang bosenan seperti saya ini, mencari apa sebenarnya passion saya, adalah pekerjaan yang butuh waktu lama, bertahun-tahun, bahkan pakai acara jatuh dan bangun. *halah!

Ketika saya sudah belasan tahun bekerja di radio, saya pastikan bahwa inilah (salah satu) passion saya. Saya menikmati proses siaran dan mencoba untuk terus bertanggung jawab pada pekerjaan saya, susah senangnya, berhasil atau tidaknya, itu urusan nanti. Yang paling penting adalah persiapan dan prosesnya.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya juga punya kegiatan lain yang membuat saya bahagia. Menulis dan meramu bahan masakan di dapur. Hehehe. Mungkin masih belum disebut sebagai passion, masih sebatas hobi, karena saya belum melakukan yang seharusnya dilakukan kalau memang itu adalah salah satu passion saya. Masih belum berhasil mendapatkan sesuatu, meskipun bukan itu ukurannya. Maksudnya, saya belum nyemplung secara pro dikedua bidang itu. Masih sebatas kegiatan untuk mengisi waktu luang. Tapi saya menyukainya. :)

Kebetulan, salah satu hal yang saya cermati dan menarik perhatian saya adalah saran dari Mas Aji untuk menuliskan apa yang jadi keinginan kita, selain sebagai dokumentasi dari visi masa depan, saya sih melihatnya juga sebagai sesi terapi #selftalk.

Saya setuju bahwa menulis itu therapeutic. Dan sepertinya saya akan lebih sering menggunakan itu mulai dari saat ini.

Inti dari hasil kegiatan kemarin adalah :

Saya sudah tahu apa passion saya, dan saya menemukan bahwa saya punya hobi lain yang bisa jadi menghasilkan untuk dikerjakan.

Saya tahu saya cinta siaran.

Saya masih harus belajar banyak hal.

:)