Post #77 – 2014 Dapur Darurat Episode 2

Setelah lebih dari 10 hari memasak sendiri untuk makan sehari-hari, bagaimana kesan pesannya?

Uhm..menyenangkan sih. Akhirnya bisa ngerasain gimana masak tiap hari di kosan. Memang agak ribet, dan nggak enak sama penghuni kos sebelah. Takut menganggu. Tapi saya berusaha untuk meminimalisir gangguan dalam bentuk bau dan kotoran2. Sebisa mungkin sih tempat memasak langsung dibersihin, dan buang sampah di tempat sampah depan biar nggak dikerubutin semut atau diobrak-abrik kucing lewat.

Memangnya jadi lebih hemat seperti dugaan sebelumnya?

Percaya nggak percaya, iya lho? belanja harian sebenernya lebih hemat dibandingin kalo jajan. Contohnya hari ini saja, cuma habis 15 ribu bisa untuk makan 3x. Tapi memang sih, keinginan untuk jajan masih ada. Tapi saya berusaha seminim mungkin untuk menekan pengeluaran. Memang tidak setiap hari habisnya 15 ribu. Kadang juga lebih, tapi itupun bujet untuk beli beras, telur, dan beberapa keperluan yang nggak habis harian. Dengan kata lain, nyetok. Bulan ini masih agak “nggrambyang” soal anggaran. Tapi bulan depan, atau secepatnya akan diatur kembali.

Sudah masak apa aja?

Hanya menu harian. Tidak ada yang spesial. Menu-menu yang dicontek dari berbagai sumber. Tapi tentu saja dengan modifikasi disana-sini. Ini contohnya

WP_20141208_366

ini adalah mie telur dengan orak arik telur dan suwir ayam. Bumbunya standar sih, bawang putih dan merah sama kemiri. Sayurnya paling kubis dan caisim. Tambahin kecap, katanya enak. Hehehe.

6tag_071214-093426

Yang ini adalah bandeng bumbu kuning. Tanpa santan dengan bandeng yang digoreng setengah matang jadinya daging nggak keras dan pahit. Soal amis, lumuri dulu bandeng yang udah dicuci bersih dan dibuang isi perutnya dengan ketumbar tumbuk dan air jeruk nipis, diamkan kurang lebih 30 menit sebelum digoreng. Kata temen yang ikut makan sih rasa bumbunya kerasa dan ringan karena nggak pake santan. Walopun ada yang bilang kalo tastenya kurang manis. Tapi rasa2nya kalo taste manis untuk jenis masakan ini agak kurang pas…hehehe.

6tag_071214-175213

Ini terong balado. Nggak tahu kenapa pengen ngerepro resep mama jaman saya kecil. Tapi jadinya kok agak lain dari yang pernah saya ingat. Malahan, ini lebih enak. Hahaha. Ya iyalah, masak sendiri bilang enak sendiri. Tapi kata temen yang udah makan sih, SUMPAH ENAK! katanya gitu…hehehe. Terongnya digoreng bentar sampai empuk. Yang penting jangan terlalu lama biar ga gosong dan bikin tampilannya jadi jelek. Bumbunya juga standar, paling cabe bawang merah dan putih. Pakai kemiri biar lebih gurih.

Sebelum kamu lanjut, kok pake #DapoerNjonja ? memangnya siapa itu Njonja?

Hehehe…Njonja itu…panjang ceritanya. Tapi singkatnya, itu adalah panggilan dari junior2 di kantor karena kata mereka saya cerewet seperti Mak-mak. Mereka memanggil saya Nyonya besar. Dan Dapoer Njonja adalah pemberian mereka juga. Awalnya saya nggak mau pake Hashtag, tapi mereka bilang kudu pake biar ada signaturenya. Mungkin diluar sana udah ada yang pake, jadi maaf, bukan bermaksud meniru. Tapi ini adalah murni hashtag iseng dan seneng-seneng.

Oke, lanjut lagi, masakan apa lagi?

WP_20141206_3897

Ini orak arik telur dengan sosis ayam. Bumbunya…nggak usah disebutin ya? paling juga sama aja. Hahaha. Cabe bawang merah dan putih. Simple dan ga ribet kok.

WP_20141206_5401

Ini kerang darah bumbu kecap. Pedas manis sih. Yang ini masaknya nggak begitu ribet kok, tinggal masuk-masukin bahannya, lalu dimasak sampai matang. Jangan lupa cuci bersih kerangnya biar serpihan kulit dan pasir-pasirnya hilang. Saya aja sampai habis seember gede ngebersihin kerangnya. Dimakan sama nasi panas dan kerupuk…Yummy!

WP_20141206_7902kalo beberapa hari lalu saya sempet bikin bakwan sayur, ternyata bentuknya sama sekali belum oke. Nah, yang ini, oke banget (menurut saya). Temen saya bilang bakwannya cantik! Rasanya juga enak! Sekarang saya tahu gimana caranya bikin bakwan cantik yang enak. Hahahaha.

WP_20141206_1451

Tahulah apa ini? Tempe goreng tepung lah pastinya :)) nggak usah dijelaskan lah ya?

Setelah ini masih mau masak-masak lagi?

Ya iyalah! Masih banyak resep yang belum dieksplorasi. Kerjaan saya sekarang nambah jadi satu, suka ngulik2 resep di internet. Hahaha. Etapi tahu nggak sih, selama saya masak-masak, berat badan saya malah turun lhO?

Kok bisa?

Iya, soalnya pola hidup saya agak berubah sekarang. Tiap pagi abis subuh, nggak tidur lagi, tapi langsung ke pasar, jalan kaki, dan mulai masak buat sarapan. Nanti malemnya juga masih uplek ngangetin lauk. Dan karena paginya nggak tidur, dan siangnya kerja, tidur malam jadi lebih enak. Saya pikir, kalo tiap hari kayak gini terus, bukan nggak mungkin berat badan saya bisa turun cukup banyak dalam setahun. Hahaha.

Baiklah, sukses ya buat kegiatannya, siapa tahu bisa dikaryakan dan jadi duit.

Iya, pengennya sih begitu. Tapi bentar dulu lah, mantepin rasanya dulu, baru bisa berani mulai berbisnis dibidang ini. Siapa tahu bisa terima pesenan? Nyediain sarapan atau makan siang, atau makan malam orang, ya kan?

Post #77 – 2014 Dapur Darurat Episode 2

Post #76 – 2014 Dapur Darurat

Rencananya sih udah lama, tapi ragu mau minta ijin sama Mbak Kos. Takut nggak diijinin. Tapi pas lagi ngobrol soal hemat menghemat, diomongin aja sekalian. Niat pengen berhemat dengan masak sendiri. Tujuannya sih biar nggak kebanyakan jajan di luar. Eh ternyata diperbolehkan untuk masak di kosan.

Akhirnya gerak cepat nyari keperluan buat masak. Mulai dari wajan sampai serok. Dari dandang sampai ulekan. Peralatan basic buat masak sih sebenernya. Karena emang nggak mau yang macem2 dulu. Cukup buat masak lauk. Kebetulan udah punya magic com mini buat nanak nasi, tinggal masak lauknya aja.

Untuk kompor saya memilih Blue Gaz. Kebetulan di rumah juga pake. Alasannya sih karena relatif lebih aman ya? walaupun secara harga lebih mahal dibandingin elpiji Pertamina. Starter Pack nya aja 640 ribu. Ini adalah paket paling murah, yang isinya tabung 5,5 dan kompor tangkring.

Path_20141201015809694begitu tuh penampakannya….Tadinya sih pengen pake kompor yang pake selang aja, tapi agennya bilang nggak bisa kalo cuma beli tabung aja, soalnya udah sepaket. Ya udah, mau nggak mau. Tapi bisa diganti pake kompor gas lain kok, cuma ya harus pake selang dan regulator dari Blue Gaz, soalnya tabung blue gaz ini emang beda dengan tabung gas dari pertamina. Bentuknya ulir, bukan tekan. Sehingga bisa meminimalisir kebocoran gas akibat pemasangan regulator yang kurang benar.

Masih berhitung berapa lama gas 5,5 habis kalo untuk masak (hampir) tiap hari. Kalau kata Mami di rumah – yang juga hidup sendiri, gas setabung bisa sebulan lebih. Malah pernah 2 bulan karena cuma buat masak air. Tapi nggak tahu juga sih ya? Sementara masih dipantau. Semoga bisa irit lah ya?

Selama beberapa hari masak di kosan, sudah beberapa masakan dihasilkan. Memang bukan jenis masakan yang susah dibuat. Masakan praktis khas anak kos.

6tag-31442587-864262188035502172_31442587

yang ini capcay ati ayam

6tag-31442587-864275106626040604_31442587

yang ini bakwan sayur

6tag-31442587-865104712056730522_31442587

nah kalo yang ini semur tahu telor kentang

gampang kan ya?

Namanya juga anak kos, ya masaknya juga nggak mau yang riweuh.

Etapi ada yang bilang, kenapa nggak beli mateng aja sih? repot2 masak sendiri?

Iya sih, tapi goalnya emang pengen tahu, kalo masak sendiri itu lebih ngabisin banyak uang atau bisa lebih ngirit dibanding makan di luar?

Bisa jadi relatif sih? Tergantung apa yang dimasak, tergantung apa jajannya. Tapi lebih dari perhitungan soal duit, kepuasan bisa masak sendiri dan dimakan sendiri untuk makan pagi siang dan malam emang nggak bisa dituker sama apapun. Hihihi.

Dan sekarang kamar kos isinya bumbu2 dapur. Sama sekali nggak menarik, apalagi romantis. Tapi nggak apa-apa lah, selama hobi masih bisa disalurkan.

Post #76 – 2014 Dapur Darurat

Post #75 – 2014 Orang-Orang Kita Ini…

gradeTergelitik oleh sebuah status BBM sepupu saya beberapa hari lalu, saya akhirnya memutuskan untuk sedikit menuliskan apa yang ada di pikiran saya.

Sebuah kalimat “Apa? Menteri lulusan SMP? Merokok dan tatoan pula? Mau jadi macam apa Negara ini? Makin liar aja kayaknya Indonesia”

~ kurang lebihnya begitu. Saya cuma mikir, hampir persis sama saya, emosional, dan suka nyeplos apa adanya tanpa tahu latar belakang masalahnya. Tapi bedanya, karena saya sudah semakin tua, sudah agak berkurang kadar emosionalnya untuk urusan yang begituan. Kecuali kalo sepeda saya disenggol mobil, baru saya mencak-mencak! Hehehe.

Saya paham siapa yang dimaksud sama sepupu saya ini. Tak lain dan tak bukan pasti soal Susi Pudjiastuti, Menteri kelautan dan Perikanan yang dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat selama 5 tahun ke depan. Sosoknya memang sedang jadi bahan perbincangan. Ya tentu saja karena latar belakangnya yang nggak biasa. Mantan pengepul ikan di Pangandaran sampai kemudian sukses menjadi pengusaha dan pemimpin perusahaan besar di bidang perikanan dan aviasi ini dikabarkan cuma lulusan SMP. Nggak hanya itu, sosoknya yang nyentrik juga jadi perhatian banyak orang. Katanya dia punya tato dan merokok. Salah satu berita yang sempet beredar adalah ketahuan saat merokok di lingkungan istana. Emang jadi bikin geleng-geleng kepala sih.

Tapi mungkin memang begitulah Susi Pudjiastuti. Agak susah meubah kebiasaan yang bersangkutan, itu bisa dipahami sebenarnya. Kita tak bisa meminta dia meninggalkan kebiasan merokoknya dalam sekejap mata hanya karena dia sudah jadi menteri. Kita tak bisa memintanya untuk menghapus tato yang ada di tubuhnya hanya karena kemudian dia jadi menteri. Memangnya kenapa kalo menteri merokok dan bertato? Memangnya harus selalu yang berbadan bersih dan tak merokok?

Saya bukan perokok, tapi mendapati fakta bahwa ini jadi masalah, kok rasanya agak gimanaaa gitu ya? Ya sudah sih, wong merokok itu kan pilihan, meskipun saya sendiri akan lebih bahagia kalau akhirnya Bu Susi bisa mengurangi konsumsi rokoknya. Demi kesehatan, katanya sih begitu. Tapi siapa menjamin kalo tanpa rokok kerjanya bisa maksimal? Siapa tahu malah sebaliknya?

Yang agak mengganggu juga adalah ketika ada orang yang membicarakan soal tingkat pendidikan yang bersangkutan. Memangnya kenapa kalau cuma lulusan SMP? Di dunia ini, banyak orang sukses yang malah nggak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Mereka yang tak pernah belajar banyak teori, tapi langsung terjun dengan banyak aplikasi kerja yang efektif sampai kemudian sukses seperti sekarang. Bahkan seorang Bob Sadino saja konon cuma lulus SD. Memangnya ada jaminan kalo lulusan Sarjana bisa jadi orang sukses yang mampu bekerja demi kemaslahatan orang banyak? Belum tentu, meskipun Bob Sadino, Susi Pudjiastuti, atau siapapun orang sukses di dunia yang nggak pernah jadi sarjana setuju bahwa pendidikan bagaimanapun adalah sesuatu yang penting untuk didapatkan setiap orang. Dan saya yakin mereka akan mendorong orang-orang untuk mendapat pendidikan setinggi-tingginya.

Banyak dari kita yang masih melihat seseorang berdasar dari selembar ijasah yang dipunya. Tak pernah ada kesempatan diberikan untuk mereka yang punya kemampuan, tapi tak cukup beruntung untuk merasakan bagaimana bersekolah atau kegiatan perkuliahan. Lihat saja, mereka-mereka yang “cuma” lulusan SMA kadang merasa jatuh percaya diri ketika harus bersaing dengan lulusan sarjana, meskipun secara pengalaman mungkin lebih dibandingkan yang kuliah. Ya gimana enggak, pengalaman kerja pasti lebih banyak wong begitu lulus sekolah langsung cari duit demi keluarga, sementara yang lain masih jadi mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang, duit abis nodong lagi sama orang tua, lulus berlama-lama karena terlalu banyak kegiatan, dan macem-macemnya. Begitu lulus, susah cari kerja juga. Lha gimana mau dapet pengalaman kerja?

Menuntut ilmu setinggi-tingginya tak pernah memberikan kerugian apa-apa. Ada banyak hal yang dipelajari dan didapat dari bangku kuliah. Mungkin tentang organisasi? Mungkin tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin? Tapi bukan berarti yang nggak kuliah nggak dapet ilmu seperti itu kan? Bahkan saya rasa, lewat praktik langsung di dunia nyata, semua ilmu itu malah lebih oke dibanding hanya yang sekedar teori.

Tapi marilah kita mengesampingkan perdebatan semacam itu. Jika memang seorang Susi Pudjiastuti jadi menteri karena Jokowi percaya dia punya kemampuan, kenapa tidak? Kenapa harus ada keraguan hanya karena dia nggak lulus SMP, Bertato, dan merokok? Picik sekali.

Terus terang, saya tidak membela siapa-siapa. Saya tidak berada dalam kubu manapun. Tidak KMP, tidak pula KIH. Saya abstain dalam pemilu kemarin. Malu? Tidak. Saya tetap akan jadi warga Negara yang baik. Bayar pajak, taat hukum, tak berusaha jadi kriminil, dan lain sebagainya. Dan saya juga cukup sadar, karena saya abstain, hak protes saya pada Negara otomatis dihapuskan. Saya tak berhak koar-koar mencela atau mencak-mencak ketika tidak setuju dengan keputusan para penyelenggara Negara. Paling juga ngomel sendiri kalo ngeliat kelakuan para anggota dewan yang suka nggambus. Tidur di ruang rapat, jalan-jalan karena alasan studi banding dan lain sebagainya.

Sekali lagi yang perlu dipikirkan adalah yang terjadi sekarang adalah salah satu yang mungkin terbaik. Mana bisa kita maju kalo ada yang mau ngajak kita lari aja udah dijegal? Mana bisa kita maju bareng-bareng kalo yang itu mau lari tapi kita lebih milih duduk hanya karena nggak suka sama si pemimpin marathon? Kenapa kita nggak lantas sehat bareng-bareng?

Ya yang penting kita lihat kerjanya dulu. Nggak usah ribut soal hal-hal remeh yang nggak relevan sama kerjaan. Baru nanti kalau ada yang salah, kita peringatkan. Mau protes silakan, mencak-mencak ya monggo aja, silakan nggak akan ada yang keberatan. Gitu kan?

 Eh btw, saya kan abstain? Mana boleh ya ngomong beginian?

Post #75 – 2014 Orang-Orang Kita Ini…