Post #72 – 2014 The Old Man And The Sea ~ Ernest Hemingway

IMG_20141023_075628Ini buku sastra. Dan entah kenapa saya memilih buku berjenis seperti ini untuk jadi bahan bacaan. Mungkin saya sudah gila karena saya tak sepintar itu untuk mencacah dan melumat buku tentang sastra. Tapi nemu The Old Man And The Sea karya Ernest Hemingway jadi salah satu “wow moment” tersendiri buat saya. Bukan karena saya mengincar buku ini, tapi karena bukunya sendiri yang saking terkenalnya dan bikin saya jadi excited ketika melihatnya di sebuah rak di toko buku.

Sebuah masterpiece dari Ernest Hemingway yang diakui sebagai salah satu karya terbaik dari si penulis. Banyak penghargaan yang sudah didapat, termasuk Pulitzer dan Nobel Sastra untuk kemampuan Mr. Hemingway dalam merangkai kata menjadi kalimat. Mungkin banyak yang bilang kalau bobotnya agak berkurang ketika yang saya baca adalah sebuah buku terjemahan. Tidak terlalu terasa indah. Akan tetapi tetap saja ketika dibaca, terasa kalau ini bukan novel biasa saja. Terima kasih pada penerjemah yang berusaha sedemikian rupa untuk memilih kata-katanya dengan cermat.

Bercerita tentang lelaki tua bernama Santiago, yang dimasa senjanya bergelut dengan banyak hal,termasuk harga dirinya sebagai manusia. Sebagai pria berusia lanjut yang makin dekat dengan kematiannya, Santiago merasakan bahwa kehidupan berlalu begitu cepat di depan matanya. Masa-masa muda yang penuh dengan kenangan. Ujian dan tantangan yang berbuah pujian, tak dirasakan lagi olehnya. Diusia senja Santiago, perlahan dia dilupakan dan menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya.

Meski hidupnya dianggap tak beruntung karena sebagai nelayan tua ia tak pernah berhasil membawa hasil tangkapan yang memuaskan, tapi seorang temannya si Manolin kecil menaruh kepercayaan padanya. Bahwa suatu hari keberuntungan akan berpihak pada si Lelaki Tua, dan dia akan pulang dengan membawa ikan yang belum pernah ditangkap oleh siapapun di desa nelayan kecil itu.

Bergelut dengan harga dirinya, dan kepercayaan Manolin akan keberuntungannya, Santiago pergi melaut di suatu malam cerah. Dalam berbagai kesempatan yang terlewat, bertemulah ia dengan seekor ikan marlin besar yang menggigit umpan yang sudah dia siapkan. Tak lekas menyerah pada kekuatan kail, Marlin itu pun melawan dan berusaha adu kekuatan dengan Santiago tua, yang dimasa mudanya dulu dijuluki pria terkuat setelah berhasil mengalahkan seorang pria kulit hitam dalam sebuah adu panco.

Ikan Marlin itupun memaksa Santiago untuk berlayar makin jauh dari desanya di Havana. Memaksa Santiago untuk memikirkan banyak hal dalam penantiannya di tengah samudera. Melihat bintang-bintang, bulan, dan berpikir tentang matahari. Marlin membuat Santiago hampir kehilangan kewarasannya sampai akhirnya Santiago memutuskan bahwa Marlin itu adalah saudaranya di tengah laut.

Meski begitu, saudara itu harus dibunuh. Dan setelah 2 hari mengapung dalam keadaan berjuang, Santiago menombak si ikan Marlin yang sudah mulai menyerah. Ketika Santiago membunuh si Marlin, ia sempat meminta maaf padanya.

Santiago hendak berlayar pulang, ketika segerombolan hiu haus darah mencium keberadaan bangkai Si Marlin. Tanpa mempertimbangkan perasaan Santiago, mereka mulai memburu daging Marlin yang diikat di salah satu sisi dari perahu si Nelayan Tua. Santiago yang tak rela saudaranya dihabisi, mulai menghalau gerombolan ikan hiu itu dengan tombak dan pentungan. Hiu-hiu itupun pergi menjauh. Bukan karena pentungan dan tusukan tombak, tapi karena daging Marlin yang sudah tak tersisa selain hanya tulang belulang yang masih terikat kuat di buritan kapal.

Ketika kapal Santiago berhasil merapat di pantai Havana dan si nelayan tua terbaring lemah di tempat tidurnya, banyak orang tak percaya dengan apa yang sudah dicapai oleh Santiago. Hilang 2 hari dan pulang membawa bangkai ikan yang berukuran besar. Lebih besar dari yang pernah ditangkap oleh nelayan di Havana. Semua orang merasa menyesal telah meragukan kemampuan dan keberuntungan Santiago. Manolin pun mendapati pesan dari banyak orang yang meminta maaf pada Santiago dan bersimpati padanya.

The Old man and the sea menjadi novel yang terasa luar biasa. Bukan hanya karena gaya bahasanya, tapi cara bertutur Mr Hemingway yang mampu mendeskripsikan sesuatu dengan detil dan “menyeret” saya pada kehidupan si Tua Santiago. Ketika membaca, saya mampu merasakan pergulatan hidup Santiago sebagai seorang tua yang terlupakan dan masih ingin menyatakan eksistensinya manusia. Seperti apa yang selama ini dia percayai bahwa “Manusia bisa saja dihancurkan, tapi manusia menolak untuk dikalahkan”. Dan begitulah ia. Bersama dengan Manolin yang juga mengajarkan tentang persahabatan dan kepercayaan antar manusia, kisah Santiago juga membawa saya pada satu hal yang sangat substansial sebagai seorang manusia, yaitu pertanyaan mendasar “Untuk Apa Kita Hidup?”

Post #71 – 2014 Interview with Wimar Witoelar

Jadi ceritanya tanggal 21 oktober kemarin saya dapet kesempatan buat taping interview sama Wimar Witoelar. Kebetulan beliau ada di Semarang untuk menghadiri sebuah acara di Undip dan membahas soal Global Warming disana, sekalian mampir ke studio untuk mempromosikan buku terbarunya, Sweet Nothings.

IMG_20141021_164932Ini adalah buku keempat dalam rangkaian serial Stories About Somethings and Nothings. Buku yang berisikan tulisan-tulisan Wimar yang sempat diterbitkan di beberapa media. Dan untuk buku keempat ini Pak WImar (dia nggak suka dipanggil Om kalau bukan sama keluarganya sendiri) beliau menyempatkan diri untuk melakukan sesi rekaman.

Saya sih agak deg-degan harus ngobrol dengan beliau, mengingat sosok Wimar Witoelar ini kan terkenal pinter. Jujur saja saya terintimidasi dengan beliau. Nggak percaya diri dan takut salah. Sempet ngajuin salah satu temen buat menginterview, tapi dia menolak dengan alasan yang sama. Ya sudah, karena saya tahu diri, sebagai produser program Buka Buka Buku, mau nggak mau saya harus memberanikan diri untuk maju.

Setelah mendapat naskah PDF bukunya dari pihak Wimar, saya meluangkan waktu untuk membaca buku ini, sambil bikin draft pertanyaan untuk interviewnya. Ternyata bukunya sendiri cukup ringan kok, isinya tentu saja tentang pemikiran Wimar Witoelar pada beberapa hal yang ringan dan dianggap basi oleh banyak orang, dan dihindari untuk dibahas karena sifatnya yang remeh.

Seperti misalnya tentang apalah arti sebuah nama, soal gegar budaya, bahkan sampai soal urusan mandi. Semuanya nggak luput dari perhatian seorang Wimar. Dan karena konten buku ini pula akhirnya saya nggak kesulitan untuk mencari pertanyaan seputar tema besar dari bukunya. Dan nyatanya, setelah ketemu, orangnya seru! Santai! dan sama sekali nggak “nuo”. Sosok Wimar Witoelar yang cair pun membuat saya santai dan bisa mengeksekusi dengan cukup baik interviewnya dari awal sampai selesai. Bahkan Pak Wimar mengaku senang dengan interview ini karena menganggap saya menguasai dengan baik materi tentang NOTHINGS ini. Saya pun tersanjung. Hehehe.

What an honor bisa ketemu sama salah satu orang yang acaranya suka saya tonton jaman saya masih SD dulu. Perspektif Wimar yang tayang di RCTI jadi salah satu tontonan saya, meskipun secara konten mungkin jaman segitu belum nyampe-nyampe banget. Tapi saya termasuk penggemar perspektif Wimar lho?

Lepas dari semua kontroversi yang pernah dia buat, satu yang saya pelajari adalah jangan takut untuk membicarakan hal-hal remeh dan kecil, yang dianggap tak berarti oleh banyak orang, karena dari hal kecil itu bisa jadi ada sesuatu yang bisa kita ambil hikmah dan nilainya.

Lagipula, bukankah hal besar selalu berasal dari yang kecil-kecil?

;)

#BukaBukaBuku edisi Sweet Nothings by Wimar Witoelar akan tayang tanggal 8 november 2014 jam 7 malam. Untuk mendengarkan silakan streaming web www.gajahmadafm.co.id

Post #70 – 2014 You Can’t Please Everyone, Ever!

Percaya dengan The Power Of “Ndilalah”? Atau memang semua sudah ada jalannya? Pikiran dan alam semesta berjalan beriringan. Apa yang kita pikirkan, itulah yang terjadi. Tapi kejadian kemarin itu memang “ndilalah” pake banget.

Ketika sore hari ngerasa kalo saya ini memang nggak bisa selalu bikin senang orang, eh lha kok malam pas siaran, ada yang kirim sms “Anda Kebanyakan Omong”. Jadi geli dan agak dongkol. Tapi yang namanya penyiar, harus punya jurus ngeles 1001 yang bisa bikin pembelaan di udara jadi tak terkesan defensif dan ofensif dong ya?

Anda kebanyakan omong bisa berarti pendengar ini sebel sama cara ngomong saya tentang putus cinta. Mungkin dia tersinggung karena suasana hatinya sedang tidak oke. Atau bisa jadi dia ngerasa kalo durasi ngomong saya terlalu lama? Nggak paham juga…

Yang pasti saat itu saya agak kesel. Agak keselnya adalah bukan karena saya sudah dikritik, tapi lebih kepada kesal karena sudah membuat seseorang kecewa dengan siaran saya. Lalu yang bisa dilakukan adalah bertanya-tanya tentang apa yang salah? Dan kemudian jadi menyalahkan diri sendiri. Saya yang nggak kompeten lah, saya yang terlalu sok tahu lah, saya yang sok pinter lah, terlalu begini dan terlalu begitu, padahal si pendengar ini cuma seneng dengerin lagu daripada denger saya ngomong. Padahal ini kan radio…radio ya harus ada penyiar ngomong dong ya? Ini kan bukan MP3 player?

Tapi semakin dipikir, semakin inget kejadian di siang hari ketika saya ngerasa kalo apa yang saya lakukan seperti tak ada benarnya. Apa yang sudah dilakukan selalu tak bisa memuaskan hati orang lain. Selalu tampak salah dan membuat kecewa. Kemudian jadi ingat sebuah kutipan “Kamu tak akan pernah bisa membuat semua orang senang”. Ya, apapun yang dilakukan, tak akan pernah bisa. Selalu saja ada orang-orang yang nggak suka, nggak terima, nggak puas, kecewa, dan menganggap saya begini dan begitu.

Ketika terima SMS tersebut saya langsung bereaksi. Ketika sesi bicara, saya singgung saja sekalian. FYI, saya ini orangnya memang lumayan blak-blakan soal ini. Kalau ada orang komplain pas saya siaran,pasti akan saya bahas. Bukan berarti saya defensif, tapi hal-hal seperti ini orang lain harus tahu. Ketika ada seorang pendengar tak puas dan mencaci maki, saya harus pastikan semua pendengar saya malam itu tahu. Bahwa siaran saya tidak sempurna. Mungkin, menurut aturan siaran, ini adalah blunder yang seharusnya tak dilakukan, karena akan membuat suasana jadi kurang nyaman, dan potensi untuk pindah channel jadi lebih besar. Tapi saya sungguh nggak pernah peduli, karena saya toh punya cara sendiri. Cara halus tentunya.

Kemudian saya meminta maaf secara terbuka karena sudah mengecewakan si orang ini, sambil saya jelaskan soal “kebanyakan omong ini”. Dan ujung-ujungnya juga sedikit ber-PSA kalau dalam hidup, kita nggak akan pernah bisa memuaskan semua orang sesuai dengan keinginan mereka. Selalu saja ada pro kontra, kebijakan yang tidak populer, kritik tajam yang menjatuhkan, dan semua komentar sampah yang menyakitkan.

Dan satu hal yang selalu jadi pegangan saya adalah sebuah niat bahwa apa yang saya lakukan (untuk orang lain) adalah benar. Tidak berniat menyakiti atau melukai. Dalam konteks siaran, dari rumah saya sudah niat kerja, menghibur orang lain, sambil mengajak mereka untuk sedikit bersenang-senang dengan mikir dan beropini lewat topik yang diangkat, kalau pun ada yang tidak suka, saya persilakan untuk tidak mendengarkan. Saya tidak berusaha untuk membuat semua orang mendengarkan saya, selama saya sudah melakukan apa yang terbaik, saya tidak perlu jadi yang terbaik. Mendengarkan radio itu hanya masalah suka tidak suka, nyaman tidak nyaman. Kalau saya sih gampang, situ nggak suka, silakan pindah, jangan bertahan dan mencela. Hanya buang-buang energi dan berpotensi menyakiti orang lain. Cari hiburan yang sesuai. Kalau tak cocok, teruslah mencari. As simple as that.

Saya memang harus terus belajar untuk tidak memusingkan hal kecil yang berkaitan dengan orang lain. Orang lain suka dan tidak suka dengan kita, itu hanya masalah pribadi yang bersangkutan. Saya juga kadang gitu kok, nggak suka sama sesuatu dan ngomel-ngomel. Contohnya sekarang, lagi gak demen banget sama Rafi Ahmad dan segala hal yang terkait dengan pernikahannya. Eneg banget kalo ngeliat soal kawinan ini digembar gemborkan sampai dibikinin acara khusus segala seakan dia orang paling penting sedunia. Tapi apa Rafi peduli? sama sekali tidak. Boro-boro peduli, kalau ketemu pun dia pasti akan bilang “Lha elu siapa?” Hehehehe.

Itulah, kita memang tak bisa selalu bikin orang senang.

Kita senyum dikira pereuz, kita nggak senyum katanya judes.

Kita ngasih katanya pamrih, kita nggak ngasih dibilang pelit.

Kita ramah katanya sok aye, kalo nggak ramah katanya sombong.

seakan semuanya tak ada benarnya….

sebagai pengingat..mungkin perlu posting beberapa gambar disini

please 1

please 2

Dear Nuno,

berhentilah membuat semua orang senang. Niatkan saja yang terbaik. Puas nggak puas, itu urusan mereka. Kalau sudah melakukan yang terbaik dan masih tak memuaskan mereka, itu masalah mereka, bukan masalahmu.

*wink*