Post #46 – 2014 Into The Storm [Movie Review]

 

 Udah lama nggak ngereview film…hehe. Mumpung banyak waktu, yuk mari nonton dan menuliskan sesuatu di sini.

Into_the_Storm_2014_filmIn To The Storm adalah sebuah film bertema bencana karya Steven Quale, sutradara yang berada di balik film Final Destination 5 dan asisten sutradara film Avatar milik james Cameron. Terus terang, satu-satunya film bencana dengan angin puyuh sebagai tokoh utamanya yang saya tahu adalah Twister. Padahal kalo menurut banyak informasi di internet, ada cukup banyak film dengan tema serupa. Hanya saja sampai sekarang, Twister masih yang paling OK menurut saya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau sebuah film bencana hanya menarik di visual saja. Secara story line paling ya cuma gitu-gitu saja. Lihat saja The Day After Tomorrow, kemudian 2012, apalagi sih…? Paling ya cuma 2 itu yang publikasinya gede-gedean, dan nyatanya jeblok secara kritik, meski jadi box office. Dan kebanyakan menyoroti dari segi cerita. Buat saya pribadi sih maklum, soalnya : apa yang mau diceritakan dari sebuah bencana kalau bukan usaha orang-orang untuk menjadi survivor dari bencana tersebut. Dan hanya sedikit sekali yang kemudian jadi menarik. Salah satu yang paling OK adalah The Impossible karya Juan Antonio Bayona dan dibintangi oleh Naomi Watts & Ewan McGregor.

Dan ditahun 2014 ini muncullah 1 film bertema bencana yang diberi judul Into The Storm. Rilisan Warner Bros yang bekerja sama dengan New Line Cinema dan Village Roadshow ini terlihat menjanjikan lewat trailer yang beredar yang saya lihat melalui channel Youtube. Meskipun visualnya mengingatkan saya pada The Day After Tomorrow, tapi nostalgia pada Twister bikin saya jadi tertarik untuk nonton.

Secara cast sih cukup menjanjikan. Ada Richard Armitage [pemeran Thorin Oakenshield di The Hobbit] dan Sarah Wayne Callice [pemeran Lori Grimes di serial The Walking Dead] Into The Storm bercerita tentang seorang peneliti cuaca bernama Alison Stone yang bekerja sama dengan Pete  The Tornado Chaser yang diperankan oleh Matt Walsh. Sebenarnya hampir sama seperti yang dilakukan oleh karakter Helen Hunt dan Bill Paxton di Twister, Alison ingin mengetahui karakteristik dari masing-masing angin puyuh untuk kepentingan penelitian. Beda dengan Pete yang lebih komersil dan ingin berada di tengah-tengah pusaran demi kepentingan publikasi.

Mereka berdua terjebak di Silverton Oklahoma sebagai setting tempat terjadinya bencana, ketika Gary Morris [Ricahrd Armitage] harus berjuang menyelamatkan anak didiknya dari terjangan tornado saat dilakukan upacara kelulusan di sekolah tempat dia bekerja. Selain itu dia harus kehilangan kontak dengan anak sulungnya Donnie yang saat kejadian sedang berada di sebuah bekas pabrik kertas bersama dengan salah saeorang gadis tercantik di sekolah yang ditaksirnya. Keduanya terjebak di sebuah lubang tempat pembuangan air dan tertimpa reruntuhan pabrik.

Gary dan Alison kemudian bekerjasama untuk menyelamatkan orang-orang dan mengungsikan mereka setelah tornado berskala F5 terbentuk di aera tersebut. Ada yang bertahan hidup, ada juga yang mati karena salah langkah, semuanya jadi formula yang pasti ada di setiap film bencana.

intothestormTerus terang, film ini memang tidak seburuk yang banyak dibilang orang. Maksud saya, oke, secara alur dan story line, pasti berlubang parah dimana-mana. Hampir tak makna, dengan karakter yang sama sekali nggak kuat dan memorable. Hanya saja CGInya bisa diacungi jempol, ditunjang dengan sounds yang digarap cukup total pada akhirnya membuat karakter angin puyuh di Into The Storm terasa “sangat jahat”. Untuk sebuah tontonan, Into The Storm memang memberikan kenikmatan buat para pecinta film tentang bencana. Tapi dari segi cerita, sama sekali lemah.

Tapi sekali lagi buat saya pribadi film ini cukup bisa dinikmati dan ketika saya keluar dari gedung, saya bisa tersenyum.

Itu yang penting.

 

Post #45 – 2014 The Missing by Chris Mooney [Novel Review]

Nah, yang ini adalah buku yang saya baca setelah The Confession. Buku thriller suspense karya Chris Mooney.

IMG_2856Sudah lama nggak baca buku dengan tema beginian. Seperti biasa, salah satu yang sering ditulis demi menggoda pembaca adalah embel-embel “The International Best Seller”. Saya sih sudah lama tidak tergoda dengan klaim seperti itu, walaupun pada kenyataannya mungkin memang iya. Tapi salah satu yang sampai sekarang masih cukup mampu menggoda saya adalah apabila buku tersebut masuk dalam sebuah nominasi penghargaan literatur tertentu, atau masuk dalam buku pilihan sebuah komunitas baca. Nah, karena international Best Seller sudah tak mampu membuat saya tergerak, tapi klaim sebagai buku pilihan sebuah komunitas membaca membuat saya akhirnya memilih buku ini sebagai bacaan saya yang selanjutnya.

Bercerita tentang seorang petugas lab kriminal bernama Darby McCormick yang berurusan dengan sebuah kasus penculikan seorang gadis yang dilakukan oleh seorang psikopat. Kasus ini mengingatkan Darby pada sebuah kejadian yang terjadi saat dia masih berusia belasan tahun. Seorang temannya tewas dan 1 lagi hilang setelah pria bertopeng masuk ke dalam rumah Darby, tak lama setelah mereka bertiga memergoki pria tersebut membunuh seorang gadis di tengah sebuah hutan.

Darby merasa bahwa kasus yang ditangani saat ini berhubungan dengan kejadian yang berlangsung bertahun-tahun yang lalu. Didasari rasa bersalah karena tak mampu menyelamatkan teman-temannya Darby bertekad untuk membongkar kasus ini. Berbekal beberapa bukti di TKP, dan dengan keterangan seorang gadis yang berhasil lolos dari sekapan penculiknya, Darby memburu si pria bertopeng dan mencegah terjadinya pembunuhan selanjutnya.

Siapakah sebenarnya si Pria Bertopeng ini? Dan ada hubungan apa dengan hidup darby McCormick?

Silakan baca sendiri bukunya…

Terus terang, membaca The Missing ini seperti sedang menonton saluran FOX Crime dengan tayangan Criminal Mind. Pace-nya sangat cepat dengan gaya penceritaan yang runtut dari satu adegan ke adegan yang lain. Alurnya sendirinya sih cukup enak diikuti, hanya saja secara keseluruhan, apalagi terkait dengan endingnya, The Missing sepertinya agak memaksakan twist yang diungkap pada akhir kisah. Tak bisa spoiler disini, tapi yang pasti motif dari si pelaku, selain karena memang dia seorang psikopat juga dipertanyakan. Terus terang agak membingungkan juga sih endingnya, tapi karena seperti yang saya bilang tadi, alur yang runtut bikin buku ini jadi “page turner” yang cukup baik.

Selamat membaca!

Post #44 – 2014 Confession by John Grisham [Novel Review]

 

 

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, kalau sekarang saya punya cukup banyak waktu luang untuk membaca novel. Salah satu yang akhirnya saya selesaikan adalah buku karya John Grisham yang berjudul Confession.

IMG_2857Salah satu yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah sampulnya yang sangat sederhana. Simpel karena tidak banyak elemen disana. Berlatar belakang warna biru muda dan diisi hanya dengan font dan gambar bersiluet hitam dengan ukuran kecil.

Dari sampulnya terkesan ini adalah novel drama. Tapi melihat siapa John Grisham, pasti sudah ditebak kalau temanya pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya hukum.

Kisah novel ini berkutat pada kisah seorang Travis Boyette, penjahat seksual kambuhan yang didiagnosa menderita tumor di otaknya. Suatu hari, ketika dia menyadari hidupnya tak lama lagi, Boyette mendatangi gereja Evangelis yang dipimpin oleh pendeta Keith Schroeder dan istrinya Dana. Travis mengakui kalau dia telah memperkosa dan membunuh seorang gadis bernama Nicole Yarber atau yang biasa dipanggil Nicki. Kejadian itu berlangsung di tahun 98. Pengakuan ini didasarkan karena Boyette belakangan tahu kalau di daerah Slone, Texas, seorang pemuda kulit hitam bernama Donte Drumm akan segera dihukum mati karena didakwa membunuh Nicole.

Pendeta Keith mengalami dilema, mengingat pengakuan antara jemaat dan pendeta adalah sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Tapi disisi lain Keith mengetahui sebuah kebenaran yang jika tidak diungkap taruhannya adalah nyawa seorang pemuda yang tak bersalah.

Sementara itu di Slone Texas, Donte Drumm telah menjalani 10 tahun lebih hukuman penjara maksimal dan masih memperjuangkan keadilan bersama dengan pengacaranya Robbie Flak. Tapi semua usaha banding dan pencarian bukti-bukti menghantarkan pada hasil yang tidak menggembirakan. Semua saksi yang dihadirkan dipengadilan memberatkan Donte.

Hukuman mati semakin dekat, pendeta Keith memutuskan untuk melanggaran kerahasian antara jemaat dan pendeta karena Travis Boyette meminta Keith untuk membawanya ke Slone untuk mengaku dan membuktikan bahwa pengakuannya adalah benar. Satu hal yang kemudian menjadi masalah adalah Travis merupakan tahanan kota yang tidak boleh keluar negara bagian, tapi Keith bertekad melanggar peraturan tersebut dan berusaha menyelamatkan nyawa Donte Drumm.

Apakah usahanya akan berhasil? Anda harus baca buku ini.

The Confession adalah novel thriller karya John Grisham dengan latar belakang dunia hukum yang dirilis tahun 2010. Seperti beberapa novel John Grisham yang sudah pernah saya baca, kisahnya masih seputar pengadilan dan hukum yang kontroversial. Kalau dari beberapa novel koleksi John Grisham milik saya, Confession ini temanya hampir mirip dengan A Time To Kill, dimana seorang kulit hitam dituduh melakukan kejahatan seksual dengan korban gadis kulit putih, yang pada proses hukumnya menimbulkan kontroversi karena dikaitkan dengan isyu rasial.

Dan beberapa karakter yang selalu muncul adalah seorang pengacara tangguh yang memperjuangkan keadilan bagi kliennya. Dan seperti beberapa karakter pengacara dalam novelnya, mereka selalu digambarkan sebagai pengacara yang punya latar belakang kehidupan yang cukup kacau dimasa lalu, pejuang keadilan yang berjuang sendiri dengan hidupnya. Baik dengan kecanduannya pada alkohol atau kehidupan pernikahan yang kurang harmonis.

Kalau nggak berurusan sama mafia, pasti isu rasial. Itu 2 tema yang paling sering jadi latar belakang novel-novel John Grisham. Satu hal lain yang saya suka adalah gaya penceritaan John grisham yang tidak runut dari satu pace ke pace lainnya. Membaca novel-novelnya seperti sedang menonton sebuah film bertema hukum, dengan intensitas yang cukup terjaga dari awal hingga akhir. Namun pada akhirnya dari karya-karya John Grisham selalu bisa ditarik benang merah “bahwa di tengah carut marut dunia hukum dan pengadilan yang kotor , masih ada sosok yang bersih dan rela berjuang untuk tegaknya hukum yang bersih dan tidak pandang bulu.” Dan John Grisham selalu menyelipkan kritik itu dengan karakter-karakter pendukung cerita, seperti adanya seorang hakim yang tak adil, proses interograsi yang cacat dan dilakukan oleh aparat penegak hukum hanya demi mendapatkana tersangka, sampai pengacara kotor yang rela melakukan apa saja demi uang. Belum lagi sosok seperti gubernur yang hampir sering digambarkan sebagai seorang yang hanya mementingkan karir politiknya saja, mementingkan kepentingan kelompok pendukunya dan haus akan publikasi. Sebagai seorang mantan pengacara yang akrab dengan dunia hukum di amerika, sepertinya John Grisham melihat cukup banyak kecacatan dalam hukum yang kemudian menjadi bahan kritik melalui novel-novel yang ditulisnya.

Satu hal yang saya suka adalah saya bisa belajar tentang beberapa istilah hukum. Seperti apa itu Pro Bono, apa itu afidavit, dan sepertinya kalau saya cukup perhatian pada semua novel-novelnya, saya akan belajar cukup banyak tentang bagaimana prosedur hukum yang benar apabila kita dihadapkan pada suatu kasus, dan kita duduk di kursi tersangka. Apa saja hak dan kewajiban kita sebagai tersangka dan apa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berurusan dengan aparat penegak hukum, sedikit banyak ada disitu.

Selamat membaca.